Pekerja Seks Meksiko Terimbas Renovasi Piala Dunia 2026

oleh -6 Dilihat
Pekerja Seks Meksiko Terimbas Renovasi Piala Dunia 2026

KabarDermayu.com – Euforia menyambut Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Meksiko ternyata menyisakan keresahan bagi para pekerja seks di Mexico City. Persiapan turnamen sepak bola akbar tersebut justru mengusik ruang hidup dan mata pencaharian mereka.

Pemerintah Mexico City saat ini tengah gencar melakukan pembangunan jalur sepeda sepanjang 36 kilometer. Selain itu, renovasi jalan di sekitar Estadio Azteca, salah satu stadion utama Piala Dunia 2026, juga sedang berlangsung. Namun, proyek-proyek ini berdampak langsung pada kawasan yang selama ini menjadi tempat para pekerja seks beroperasi.

Di Meksiko, pekerjaan seks memang diakui legal. Akan tetapi, sebagian besar aktivitasnya berjalan secara informal tanpa adanya perlindungan yang memadai. Banyak perempuan yang menggantungkan hidup dari pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari biaya sewa rumah hingga pengobatan keluarga.

Elvira Madrid Romero, pendiri organisasi Brigada Callejera de Apoyo a la Mujer, menyoroti kesulitan yang dihadapi para pekerja seks dalam mendapatkan pengakuan sebagai pekerja mandiri di Meksiko. Ia berpendapat bahwa pengakuan ini sangat krusial.

“Ini tantangan besar bagi kami. Pekerjaan seks perlu diakui sebagai pekerjaan non-gaji atau mandiri di seluruh Meksiko. Itu memang tidak akan menyelesaikan semua eksploitasi, tetapi setidaknya bisa sedikit membantu,” ujar Madrid Romero.

Baca juga: TNI AD Ditugaskan Urus Jagung, TNI AL Fokus pada Kedelai

Organisasi yang dipimpinnya kini menjadi tempat perlindungan, pusat bantuan kesehatan, dan advokasi bagi para pekerja seks di berbagai wilayah Meksiko. Menurut Elvira, mayoritas perempuan memilih pekerjaan ini karena tekanan ekonomi yang kuat dan minimnya kesempatan kerja dengan upah yang layak.

Sandra Montiel, salah seorang pekerja seks, merasakan hal yang sama. Ia mengaku pekerjaan ini menjadi satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun harus menghadapi berbagai risiko di jalanan.

Montiel juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap perlakuan aparat kepolisian yang kerap melakukan kekerasan dan pemerasan terhadap para pekerja seks. Ia menceritakan pengalaman pahit yang pernah dialaminya.

“Polisi pernah memaksa kami melakukan hubungan seksual dan membawa pelanggan untuk diperas,” katanya.

Ia menilai banyak pihak yang hanya menghakimi tanpa berusaha memahami alasan ekonomi yang mendasari pilihan mereka untuk bertahan dalam pekerjaan ini. Banyak perempuan yang terpaksa bekerja di pinggir jalan demi menghidupi keluarga, terutama anak-anak yang sakit kronis, sementara upah minimum tidak mencukupi.

“Banyak perempuan berdiri di pinggir jalan karena harus menghidupi anak yang sakit kronis, sementara upah minimum tidak cukup,” ujarnya.

Sementara itu, Flora Coral, yang biasa beroperasi di dekat area pembangunan sekitar Estadio Azteca, merasakan dampak langsung proyek Piala Dunia yang membuat pekerjaannya semakin sulit. Penutupan jalan dan kemacetan parah menghalangi calon pelanggan untuk berhenti dan berkomunikasi.

“Ketika ada pelanggan berhenti untuk berbicara soal layanan kami, kendaraan di belakang langsung membunyikan klakson sehingga mereka pergi begitu saja,” kata Coral.

Perempuan berusia 55 tahun itu berharap agar pemerintah mau mendengarkan suara para pekerja seks. Ia menginginkan adanya ruang kerja yang lebih aman, bukan sekadar dipindahkan demi kepentingan proyek pembangunan kota.

Menjelang Piala Dunia 2026, Mexico City memang terus berbenah untuk menyambut wisatawan dan sorotan dunia. Namun, bagi para pekerja seks, turnamen sepak bola terbesar di dunia ini justru menghadirkan kekhawatiran baru mengenai ruang hidup dan keamanan mereka di tengah perubahan kota yang semakin masif.