KabarDermayu.com – Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan atau AI telah membuka lapangan kerja baru yang awalnya hanya kita jumpai dalam cerita film fiksi ilmiah. Di Tiongkok, generasi muda kini menduduki peran unik sebagai “pendidik” bagi robot humanoid berbentuk seperti manusia, membimbing mereka agar mampu mengerjakan berbagai tugas harian seperti menyeduh kopi, mengantar barang, hingga beraktifitas di area dapur.
Lonjakan profesi ini tidak terlepas dari pesatnya pertumbuhan industri robot humanoid di Negeri Tirai Bambu. Berbagai fasilitas pelatihan robot kini bermunculan sebagai langkah strategis untuk menyiapkan mesin-mesin tersebut agar bisa beroperasi berdampingan dengan manusia di berbagai lingkungan nyata.
Salah satu cerita menarik datang dari Chen Wenhai, seorang pria berusia 23 tahun yang diangkat sebagai pelatih robot di Pusat Inovasi Robot Humanoid Hubei. Dalam menjalani tugasnya, Chen memakai perangkat headset VR serta pakaian motion capture untuk mentransfer gerakan-gerakan kepada robot humanoid yang memiliki postur hampir serupa dengan dirinya.
Saat Chen mengangkat tangannya ke atas, robot di sampingnya secara langsung menirukan gerakan tersebut secara presisi dan sinkron. Begitu pula ketika ia menggenggam tangannya, lima jari robot ikut menutup dengan sendirinya. Yang lebih menakjubkan, robot tersebut bahkan mampu menggiling butiran kopi, mengambil cangkir, dan menuangkan air panas dengan gerakan yang sangat akurat hingga menghasilkan secangkir kopi Americano yang layak disajikan.
Aktivitas seperti itu kini menjadi bagian dari rutinitas harian di fasilitas pelatihan robot tersebut. Tempat ini merupakan salah satu platform pelatihan robot humanoid terbesar di Tiongkok yang menghadirkan lebih dari 20 lingkungan simulasi menyerupai kondisi nyata, mencakup skenario rumah sakit, supermarket, dapur, hingga ruangan kantor.
Baca juga: Pemulihan Pascabencana Sumatera Terus Membaik, Mayoritas Daerah Terdampak Kembali Normal
Di lokasi tersebut, manusia dan robot bekerja secara langsung dalam sesi latihan satu lawan satu untuk mengasah berbagai kemampuan dasar mulai dari berjalan, mencengkeram benda, hingga mengantarkan barang dari satu titik ke titik lain. “Sama sekali tidak ada panduan manual yang bisa langsung dipakai untuk melatih robot,” jelas Chen, seperti yang diberitakan oleh Xinhua Net, Minggu, 24 Mei 2026.
Chen menjelaskan bahwa dari keseluruhan jam kerja delapan jam per hari, hanya kurang lebih tiga setengah jam saja yang menghasilkan data yang benar-benar dapat dimanfaatkan. Waktu sisanya dihabiskan untuk memperbaiki gerakan robot serta mengulang latihan berkali-kali demi mendapatkan hasil yang maksimal.
Menurut pengakuannya, bahkan gerakan yang terdengar sederhana sekalipun kadangkala memerlukan ratusan hingga ribuan kali pengulangan agar robot mampu mengeksekusinya dengan benar. Zhou Mengkun, seorang insinyur di perusahaan teknologi Hubei Optics Valley Dongzhi Embodied Intelligence Technology, menekankan bahwa posisi pelatih robot memiliki peranan vital sebagai penghubung antara kemampuan teknologi dengan kebutuhan praktis di dunia nyata.
Lebih lanjut, Zhou menjelaskan bahwa tugas para pelatih robot tidak berhenti pada pemberian contoh gerakan semata. Mereka juga berkontribusi dalam menghimpun data mengenai lintasan gerakan, tingkat tekanan, serta respons sentuhan robot. Melalui proses pengujian dan penyesuaian yang berulang-ulang secara terus-menerus, robot diharapkan dapat beroperasi secara stabil dalam berbagai situasi aktual, mulai dari pekerjaan rumah tangga sederhana hingga tugas-tugas di lingkungan pabrik industri.
Di sisi lain, Liu Luxi, pelatih robot lainnya, mengungkapkan bahwa tantangan paling besar bukanlah terletak pada satu perintah tunggal, melainkan pada deretan gerakan kompleks yang menyerupai gerakan manusia secara utuh. “Menjalankan satu instruksi saja memang relatif mudah bagi robot, namun melakukan serangkaian tindakan secara berkelanjutan seperti yang dilakukan manusia masih jauh lebih rumit untuk direplikasi,” tutur Liu.
Sebagai gambaran, ia mencontohkan skenario pelatihan di dapur, di mana robot harus memiliki kemampuan untuk mengatur kekuatan cengkeraman berdasarkan posisi pisau, mangkuk, serta wadah bumbu yang berbeda-beda secara dinamis.
Seperti kita ketahui, pesatnya perkembangan industri ini turut mendorong lonjakan kebutuhan tenaga kerja yang signifikan. Menurut laporan dari platform rekrutmen Zhaopin, jumlah lowongan pekerjaan di sektor robot humanoid Tiongkok mengalami kenaikan drastis mencapai 409 persen pada lima bulan pertama tahun 2025 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, jumlah pelamar kerja di bidang terkait juga ikut meningkat sebesar 396 persen.
Saat ini, berbagai pusat pelatihan robot mulai didirikan di beberapa provinsi antara lain Anhui, Zhejiang, dan Shandong sebagai respons terhadap kebutuhan industri yang terus bertumbuh. Li Dezheng yang menjabat sebagai General Manager Xingjie Innovation Robotics Co., Ltd. menyatakan bahwa industri robot humanoid kini tengah memasuki fase krusial.
“Industri ini sedang berada pada titik penting dalam upaya terobosan teknologi serta akselerasi perluasan skenario penerapannya,” papar Li Dezheng.
Berdasarkan hasil riset dari firma teknologi global Omdia, Tiongkok menguasai sekitar 90 persen pengiriman robot humanoid di seluruh dunia sepanjang tahun 2025. Selain itu, bank investasi Morgan Stanley memperkirakan penjualan robot humanoid di negara tersebut akan meningkat menjadi dua kali lipat, menyentuh angka 28.000 unit pada tahun 2026.
Pemerintah Tiongkok sendiri kini semakin gencar mendorong pengembangan industri masa depan termasuk embodied AI atau kecerdasan buatan berbasis tubuh robot. Langkah strategis ini terintegrasi dalam rancangan Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok untuk periode 2026–2030 yang bertujuan menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi baru berbasis inovasi teknologi demi menjaga daya saing nasional di kancah global.





