Survei Global: Preferensi Publik di Banyak Negara Bergeser ke China Mengungguli AS

oleh -2 Dilihat
Survei Global: Preferensi Publik di Banyak Negara Bergeser ke China Mengungguli AS

KabarDermayu.com – Sebuah survei global terbaru yang dirilis oleh Pew Research Center mengungkap temuan mengejutkan: Tiongkok kini lebih disukai daripada Amerika Serikat di banyak negara. Survei yang dilakukan antara Februari hingga Mei ini melibatkan lebih dari 42.000 responden di 36 negara, yang diminta untuk memberikan penilaian positif atau negatif terhadap kedua negara adidaya tersebut.

Hasil survei menunjukkan bahwa di 25 dari 36 negara yang disurvei, jumlah responden yang memiliki pandangan positif terhadap Tiongkok lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memberikan penilaian positif terhadap Amerika Serikat. Fenomena ini menandakan pergeseran signifikan dalam persepsi publik internasional terhadap kedua negara.

Melansir BBC Internasional pada Kamis, 16 Juli 2026, studi ini juga mengungkapkan bahwa responden secara umum kurang yakin terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump maupun Presiden Tiongkok Xi Jinping. Namun, tingkat kepercayaan terhadap Xi Jinping masih tercatat lebih tinggi dibandingkan Donald Trump.

Jonathan Schulman, salah satu peneliti dalam studi tersebut, menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya Pew Research Center mencatat hasil seperti ini di begitu banyak negara sejak mereka mulai memantau sentimen global terhadap kedua negara pada tahun 2002.

Sebelumnya, Pew Research Center memang pernah mencatat penurunan citra positif Amerika Serikat, yaitu pada tahun 2008 di akhir masa pemerintahan George W. Bush dan pada tahun 2017 saat Donald Trump memulai masa jabatannya. Namun, pada periode-periode tersebut, citra positif Tiongkok umumnya masih berada pada tingkat yang sama atau sedikit lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.

Beberapa negara yang menunjukkan perubahan pandangan paling signifikan ke arah yang lebih positif terhadap Tiongkok antara lain Spanyol, Indonesia, Italia, Yunani, dan Kanada. Sementara itu, hanya enam negara yang masih lebih memilih Amerika Serikat dibandingkan Tiongkok dalam survei tahun ini. Sebagian besar negara tersebut merupakan sekutu dekat Washington, seperti Polandia, Filipina, Korea Selatan, India, Jepang, dan Israel.

Dalam analisis terpisah, Pew juga menemukan bahwa penilaian positif rata-rata terhadap Amerika Serikat di 20 negara terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, penilaian positif rata-rata terhadap Tiongkok justru menunjukkan tren peningkatan yang konsisten.

Citra positif Tiongkok tahun ini bahkan mencapai rekor tertinggi di sejumlah negara, termasuk Italia, Spanyol, Kolombia, Meksiko, Indonesia, Malaysia, Nigeria, dan Turki. Para peneliti mengamati adanya pola bahwa negara-negara berpendapatan menengah cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap Tiongkok.

Sebaliknya, negara-negara yang lebih makmur umumnya menunjukkan pandangan yang lebih negatif. Singapura menjadi salah satu pengecualian menarik. Meskipun memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita tertinggi di antara negara-negara yang disurvei, masyarakatnya tetap menunjukkan tingkat penilaian positif yang tinggi terhadap Tiongkok.

Pandangan paling positif sekaligus paling negatif terhadap Tiongkok sama-sama berasal dari kawasan Asia-Pasifik. Sekitar 90 persen responden di Pakistan menyatakan memiliki pandangan positif terhadap Tiongkok, sementara di Jepang, angkanya hanya sekitar 11 persen.

Xi dan Trump: Perbandingan Kepercayaan Publik

Survei ini juga secara spesifik menanyakan keyakinan responden terhadap kemampuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump dalam mengambil keputusan yang tepat dalam menangani urusan dunia. Secara keseluruhan, tingkat kepercayaan terhadap kedua pemimpin tersebut tergolong rendah, dengan angka di sebagian besar negara berada di bawah 50 persen.

Meskipun demikian, banyak negara yang menunjukkan tingkat kepercayaan lebih tinggi kepada Xi Jinping dibandingkan Donald Trump. Xi Jinping memperoleh tingkat kepercayaan tertinggi di Pakistan, yaitu sebesar 83 persen, dan terendah di Jepang, hanya 7 persen.

Di sisi lain, Donald Trump memperoleh nilai tertinggi di Filipina, yaitu 68 persen, dan yang terendah berasal dari Tepi Barat/Yerusalem Timur dengan hanya 4 persen. Menurut Schulman, hasil ini menunjukkan bahwa secara umum, masyarakat tidak memiliki pandangan yang terlalu kuat terhadap Xi Jinping dibandingkan pemimpin dunia lainnya.

Sebaliknya, untuk Donald Trump, masyarakat cenderung lebih mudah memberikan penilaian, bahkan dengan pendapat yang sangat positif atau sangat negatif. Survei ini juga menemukan bahwa meskipun lebih banyak responden masih menilai pemerintah Amerika Serikat lebih menghormati kebebasan warganya dibandingkan pemerintah Tiongkok, selisih penilaian antara keduanya kini semakin mengecil.

Pew juga mengajukan pertanyaan tambahan di beberapa negara berpendapatan menengah mengenai pandangan masyarakat terhadap kebijakan luar negeri kedua negara. Hasilnya, median sebesar 75 persen responden menilai Amerika Serikat sering atau cukup sering mencampuri urusan negara lain. Sementara itu, hanya 45 persen yang memiliki pandangan serupa terhadap Tiongkok.

Ketidakpastian Kebijakan Amerika Serikat Membuat Banyak Negara Merasa Waswas

Beberapa lembaga riset lain juga telah melakukan penelitian serupa dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan riset Gallup melaporkan bahwa pada tahun lalu, Tiongkok berhasil melampaui Amerika Serikat dalam tingkat persetujuan global, dengan selisih keunggulan Tiongkok yang merupakan yang terbesar dalam dua dekade terakhir.

Namun, survei tahunan Global Public Opinion on China yang dilakukan oleh lembaga riset Asia Society menunjukkan bahwa citra Tiongkok, yang sempat merosot selama pandemi, sejauh ini baru mengalami pemulihan secara terbatas. Peneliti Carnegie China, Chong Ja Ian, menyatakan bahwa hasil survei terbaru Pew sebenarnya tidak mengejutkan.

Menurut Chong, ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat, termasuk penggunaan kekuatan militer dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya, membuat banyak negara merasa khawatir. Survei Pew dimulai tidak lama setelah Donald Trump kembali melontarkan wacana mengenai aneksasi Greenland.

Pada periode yang sama, Amerika Serikat juga melakukan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta melancarkan tindakan militer yang kemudian disebut sebagai perang terhadap Iran. Dr. Chong menambahkan bahwa apakah Tiongkok benar-benar sangat populer masih menjadi pertanyaan terbuka.

Namun, untuk saat ini, Tiongkok dinilai sebagai negara yang lebih mudah diprediksi. Selain itu, Beijing terus berupaya memperbaiki citranya, terutama di negara-negara berkembang. Menanggapi perbedaan antara tingginya citra positif Tiongkok dan tingkat kepercayaan yang relatif lebih rendah terhadap Xi Jinping, Dr. Chong berpendapat bahwa meskipun Tiongkok dianggap lebih stabil dan lebih mudah diprediksi sehingga membuat sebagian negara merasa lebih nyaman, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa Xi tetap dipandang sebagai seorang pemimpin yang sangat otoriter.

Ia juga menyoroti bahwa di bawah kepemimpinan Xi, Tiongkok menjadi lebih tegas dan agresif dalam mengajukan berbagai klaim, serta semakin menuntut negara lain untuk mengikuti cara pandangnya terhadap dunia. Selain itu, masih terdapat berbagai pertanyaan mengenai perlakuan pemerintah Tiongkok terhadap kelompok-kelompok minoritas di dalam negeri.

“Barangkali masyarakat mengaitkan kebijakan yang lebih memaksa dan kurang menguntungkan secara ekonomi dengan Xi Jinping secara pribadi. Sementara itu, hal-hal positif seperti kemajuan teknologi lebih banyak mereka kaitkan dengan Tiongkok sebagai sebuah negara,” kata Dr. Chong.