Tanda-tanda Gangguan Pendengaran yang Sering Terlewatkan

by -3 Views
Tanda-tanda Gangguan Pendengaran yang Sering Terlewatkan

KabarDermayu.com – Telinga berdenging setelah konser atau kesulitan mendengar di tengah keramaian bisa jadi pertanda awal gangguan pendengaran yang seringkali tak disadari.

Banyak orang menganggap remeh gejala tersebut, padahal bisa menjadi sinyal penting bahwa fungsi pendengaran mulai mengalami penurunan. Gangguan pendengaran kerap datang secara bertahap, tanpa momen dramatis yang langsung menyadarkan seseorang akan kondisinya yang memburuk.

Proses yang lambat inilah yang membuatnya semakin berbahaya. Ada beberapa gejala umum yang sebenarnya cukup menjadi alasan untuk segera memeriksakan pendengaran, namun kerap diabaikan.

Pertama, munculnya telinga berdenging, atau dalam istilah medis disebut tinnitus. Suara denging, berdengung, atau berdesir yang timbul tanpa adanya sumber suara dari luar merupakan indikasi bahwa sel-sel pendengaran mulai mengalami tekanan. Kondisi ini bisa saja muncul sesaat setelah terpapar suara keras, namun jika terjadi secara terus-menerus, perlu kewaspadaan.

Kedua, kesulitan mendengar di tempat yang ramai. Jika Anda seringkali harus meminta lawan bicara mengulang kata-katanya saat berada di restoran atau ruang publik, ini bukan sekadar masalah konsentrasi. Kesulitan memisahkan suara percakapan dari kebisingan latar belakang adalah salah satu gejala awal gangguan pendengaran yang patut diwaspadai.

Ketiga, kebiasaan menaikkan volume televisi atau ponsel secara terus-menerus. Ketika orang di sekitar Anda mulai mengeluh bahwa volume terlalu keras, sementara bagi Anda terdengar normal, ini adalah indikasi lain yang perlu menjadi perhatian serius.

Keempat, sering salah menangkap kata. Contohnya, mendengar “tiga” padahal yang diucapkan adalah “lima”, atau kesulitan membedakan bunyi konsonan seperti ‘s’, ‘f’, dan ‘th’. Gejala ini menandakan bahwa frekuensi suara tertentu mulai sulit ditangkap oleh telinga.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT), dr. Elisabeth Artha Uli Sirait, menjelaskan bahwa risiko terjadinya gangguan pendengaran dipengaruhi oleh dua faktor utama: intensitas suara dan durasi paparan. Ia memberikan contoh bahwa suara di ruang publik yang ramai bisa mendekati ambang batas aman 85 desibel, sementara penggunaan earphone dengan volume tinggi dapat melampaui batas tersebut.

“Bukan hanya seberapa keras suara, tetapi juga durasi paparan yang menentukan risiko. Paparan berulang dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan permanen,” tegasnya.

Hal yang membuat kondisi ini semakin serius adalah bahwa kerusakan akibat kebisingan bersifat permanen. Ini dikarenakan sel pendengaran, khususnya sel rambut di dalam koklea, tidak dapat beregenerasi. Berbeda dengan kulit yang bisa pulih setelah luka atau tulang yang bisa sembuh setelah patah, sel rambut yang sudah rusak tidak akan tumbuh kembali.

Inilah alasan mengapa deteksi dini menjadi sangat penting. Deteksi dini bukan bertujuan untuk menyembuhkan kerusakan yang sudah terjadi, melainkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut sebelum kondisi pendengaran menjadi lebih parah.

Pemeriksaan pendengaran tidak hanya relevan bagi kalangan lansia atau mereka yang bekerja di lingkungan industri dengan tingkat kebisingan tinggi. Siapa pun yang memiliki rutinitas berikut ini sebaiknya mulai mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan audiometri:

  • Pengguna earphone aktif, terutama yang menggunakannya lebih dari satu jam sehari dengan volume di atas 60 persen.
  • Pekerja di lingkungan bising seperti pabrik, studio musik, dapur restoran, atau bahkan kafe yang ramai.
  • Mereka yang tinggal atau beraktivitas di kota besar dengan paparan lalu lintas yang padat setiap hari.
  • Siapa saja yang sudah mulai merasakan satu atau lebih tanda-tanda gangguan pendengaran yang telah disebutkan sebelumnya.

Organisasi seperti IHC (Indonesia Hearing Care) mendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal gangguan pendengaran. Mereka juga menganjurkan agar pemeriksaan rutin dijadikan bagian dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang. Kegiatan edukasi kesehatan dan pemeriksaan audiometri yang digelar oleh IHC di RS PELNI, misalnya, merupakan salah satu langkah nyata untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendengaran sehat, khususnya bagi para jurnalis yang sehari-hari terpapar berbagai lingkungan dengan tingkat kebisingan yang bervariasi.

Sebelum memutuskan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan sebagai permulaan. Perhatikan pola penggunaan earphone Anda dan cobalah untuk menurunkan volume secara bertahap hingga Anda masih bisa mendengar suara dengan jelas pada tingkat 50 hingga 60 persen. Berikan jeda istirahat bagi telinga Anda setiap satu jam penggunaan earphone.

Selain itu, hindari berlama-lama di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa menggunakan pelindung telinga yang memadai. Jika tanda-tanda seperti telinga berdenging atau kesulitan mendengar sudah mulai Anda rasakan, jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis THT. Pemeriksaan audiometri sendiri tidak menyakitkan dan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi pendengaran Anda saat ini.

Baca juga di sini: Syifa Hadju Dituding Mirip Alyssa Daguise, Kesha Ratuliu Bela: Netizen Aneh!

Pada akhirnya, menjaga pendengaran bukan berarti harus menghindari semua suara. Ini lebih kepada memahami batas aman pendengaran dan mengambil langkah-langkah pencegahan sebelum kerusakan menjadi permanen dan tidak dapat diperbaiki.