KabarDermayu.com – Perjalanan Timnas Australia menuju Piala Dunia 2026 diwarnai drama yang membekas di ingatan sepak bola Asia Tenggara. Berbekal peringkat 27 FIFA, langkah awal “Socceroos” di putaran ketiga kualifikasi zona Asia sempat berada di ujung tanduk.
Salah satu momen paling krusial yang menguji mentalitas mereka adalah ketika Timnas Indonesia berhasil mempersulit dan membuat mereka frustrasi. Hasil imbang tanpa gol di Jakarta tidak hanya mencoreng reputasi Australia sebagai kekuatan Asia, tetapi juga memicu kritik tajam yang berujung pada mundurnya pelatih Graham Arnold.
Namun, tamparan dari skuad Garuda justru menjadi berkah tersembunyi yang mengubah nasib Australia. Penunjukan Tony Popovic sebagai pelatih baru memberikan angin segar bagi tim. Alih-alih terpuruk, Socceroos memanfaatkan momen evaluasi pasca-laga kontra Indonesia untuk melakukan perbaikan total.
Di bawah kepemimpinan Popovic, mereka menjelma menjadi kekuatan yang tak terkalahkan di sisa kualifikasi. Kemenangan emosional 1-0 atas Jepang di Perth dan hasil dramatis 2-1 di markas Arab Saudi menjadi bukti bahwa mentalitas bertarung tim ini justru semakin mengeras setelah sempat dijinakkan oleh Indonesia.
Menghadapi persaingan di Grup D Piala Dunia 2026 bersama tuan rumah Amerika Serikat, Turki, dan Paraguay, Tony Popovic kini memiliki skuad yang jauh lebih matang secara mental berkat tempaan di fase kualifikasi.
Di lini pertahanan, bek muda Parma, Alessandro Circati, telah membuktikan diri sebagai tembok kokoh yang sulit ditembus, berkat pengalamannya di Serie A Italia.
Kombinasi pengalaman kapten Mathew Ryan di bawah mistar gawang dan kecepatan Nestory Irankunda di lini serang menjadi ancaman mematikan yang siap meledak. Karakter permainan Australia kini jauh lebih dinamis dibandingkan saat mereka kesulitan membongkar pertahanan rapat Indonesia setahun lalu.
Secara taktis, Australia datang ke Piala Dunia bukan lagi sebagai tim yang monoton. Kolektivitas tim yang disiplin, keunggulan fisik dalam skema bola mati, serta fleksibilitas taktik yang ditanamkan Popovic menjadi senjata utama mereka.
Baca juga: MUI Tegaskan Penggunaan APBN untuk Hewan Kurban Sesuai Hadis
Meskipun kreativitas lini tengah terkadang masih menjadi catatan, mentalitas “never say die” yang terasah sejak fase kualifikasi yang berat di Asia diyakini akan membuat mereka kembali menjadi “si pengacau” yang menakutkan. Target melampaui babak 16 besar seperti di Qatar 2022 kini terasa sangat realistis bagi tim yang tahu betul caranya bangkit dari titik nadir.





