KabarDermayu.com – Upaya pemerintah untuk melakukan perbaikan tata kelola bantuan sosial (bansos) terus dimatangkan melalui digitalisasi sistem. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah (KPTDP), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa sebanyak 50 juta warga kurang mampu akan segera terintegrasi ke dalam sistem perlindungan sosial (perlinsos) berbasis digital yang lebih akurat.
Langkah strategis ini diambil sebagai solusi atas permasalahan klasik dalam penyaluran bantuan, yakni ketidaktepatan sasaran. Selama ini, kerap ditemukan kendala di lapangan di mana masyarakat yang seharusnya berhak menerima bantuan justru tidak terdaftar, sementara ada pihak yang tidak memenuhi kriteria justru mendapatkan akses bantuan tersebut.
Sistem perlinsos digital ini dirancang untuk meminimalisir kesalahan data tersebut secara signifikan. Luhut mengungkapkan bahwa pengembangan sistem ini telah dilakukan selama kurang lebih satu tahun dengan memanfaatkan wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai lokasi pilot project atau uji coba awal. Saat ini, jangkauan pendataan sistem tersebut telah meluas hingga ke 215 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Terkait jadwal peluncuran, pemerintah menargetkan sistem ini dapat mulai beroperasi secara nasional pada minggu ketiga Oktober 2026. Luhut berharap agar pada saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran sistem tersebut, seluruh kendala teknis yang serius sudah dapat diatasi.
“Kami sudah rancang pada bulan Oktober, minggu ketiga kami akan bisa roll out. Saya berharap pada waktu Presiden roll out bulan Oktober hampir tidak ada masalah yang serius,” ujar Luhut dalam konferensi pers di kantor DEN, Jakarta, Kamis.
Setelah tahap pendataan rampung, pemerintah berencana untuk mengintegrasikan sistem perlinsos digital ini dengan rekening bank milik penerima manfaat. Rencananya, uji coba distribusi bansos melalui sistem perbankan tersebut akan mulai dijalankan pada kuartal I tahun 2027. Langkah ini diambil untuk memastikan penyaluran bantuan lebih tertib dan tepat sasaran, mengingat estimasi saat ini menunjukkan sekitar 50 persen penyaluran bantuan masih dianggap belum mencapai target yang tepat.
Tidak hanya fokus pada pendataan dan penyaluran, pemerintah juga tengah merancang mekanisme agar bantuan yang diberikan benar-benar digunakan untuk kebutuhan dasar. Salah satu wacana yang sedang dikaji adalah penggunaan sistem kupon atau metode pembatasan penggunaan dana.
Luhut menjelaskan bahwa dengan sistem kupon, dana bantuan nantinya hanya bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pokok seperti pembayaran listrik, pembelian beras, bahan bakar, dan kebutuhan esensial lainnya. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk mencegah penyalahgunaan dana bantuan, termasuk untuk kegiatan negatif seperti judi online.
Melalui ekosistem digital yang terbangun, pemerintah berharap tercipta mekanisme pasar yang lebih transparan dan adil. Dengan mengurangi interaksi fisik (manusia dengan manusia) dalam proses distribusi, potensi penyelewengan atau tindak korupsi diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin.
Poin Penting Transformasi Perlinsos Digital:
- Target integrasi: 50 juta warga kurang mampu masuk dalam sistem digital.
- Jangkauan saat ini: Telah mencakup 215 kabupaten/kota melalui pilot project.
- Jadwal peluncuran nasional: Minggu ketiga Oktober 2026.
- Integrasi perbankan: Uji coba penyaluran dana via rekening dijadwalkan pada kuartal I-2027.
- Upaya pencegahan: Pengkajian sistem kupon untuk memastikan bantuan digunakan untuk kebutuhan dasar dan mencegah judi online.
Dengan hadirnya sistem ini, pemerintah optimis bahwa efektivitas perlindungan sosial di Indonesia akan meningkat, sekaligus menjadi langkah nyata dalam menciptakan tata kelola bantuan yang lebih modern, transparan, dan akuntabel bagi seluruh rakyat Indonesia yang membutuhkan.





