Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Kondisi Indonesia?

oleh -5 Dilihat
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Kondisi Indonesia?

KabarDermayu.com – Wabah hantavirus yang terjadi di sebuah kapal pesiar internasional saat ini menjadi perhatian dunia. Virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius ini dilaporkan telah menginfeksi beberapa penumpang dan awak kapal, bahkan menyebabkan beberapa kematian.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia, mengingat tingginya mobilitas internasional pascapandemi. Munculnya wabah hantavirus di tengah aktivitas pelayaran internasional mendorong pemerintah berbagai negara untuk meningkatkan kewaspadaan.

Lantas, bagaimana dengan situasi di Indonesia? Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memperkuat sistem skrining dan pengawasan kesehatan untuk menghadapi potensi ancaman tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin.

Beliau menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan kasus hantavirus yang terjadi di kapal pesiar tersebut. Menurutnya, penyebaran virus tersebut masih terkonsentrasi di area kapal dan belum meluas ke berbagai negara lain.

“Memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum menyebar kemana-mana. Yang kita lakukan kita mempersiapkan agar screeningnya kita punya,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Budi merinci bahwa bentuk skrining yang dipersiapkan pemerintah dapat berupa rapid test, serupa dengan yang digunakan saat pandemi COVID-19, atau menggunakan reagen pada mesin PCR untuk mendeteksi infeksi hantavirus.

Untuk sementara waktu, Kemenkes memfokuskan langkah pada penguatan surveilans dan pemantauan kasus secara ketat. Upaya ini dilakukan agar Indonesia dapat mendeteksi lebih cepat jika ditemukan potensi kasus mencurigakan yang masuk dari luar negeri.

Kasus hantavirus ini sebelumnya diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Lembaga kesehatan global tersebut menyatakan sedang bekerja sama dengan sejumlah negara dan operator kapal pesiar untuk menangani kasus infeksi yang terjadi di kapal yang berlayar di Samudra Atlantik.

Maria Van Kerkhove, pejabat sementara direktur kesiapan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, melaporkan bahwa hingga 4 Mei telah ditemukan enam kasus dugaan infeksi hantavirus, termasuk tiga kasus kematian.

Satu pasien dilaporkan menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan. Sementara itu, dua pasien lainnya masih berada di kapal dan direncanakan untuk dievakuasi guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Kapal tersebut diketahui membawa sekitar 150 orang, terdiri dari penumpang dan awak kapal.

Saat ini, kapal tersebut berada di perairan dekat Cape Verde. WHO bersama otoritas di Cape Verde, Belanda, dan operator kapal sedang mengatur proses evakuasi dua pasien menuju Belanda.

Di sisi lain, pemerintah Spanyol juga telah menyatakan kesiapannya untuk menerima kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan menjadi lokasi wabah tersebut. Kapal itu dijadwalkan menuju Kepulauan Canary untuk penanganan lebih lanjut.

“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bekerja sama dengan Uni Eropa, telah meminta pemerintah Spanyol untuk menerima kapal MV Hondius di Kepulauan Canary,” demikian pernyataan resmi kementerian pada Rabu.

WHO kemudian memperbarui data dengan menyebutkan total terdapat tujuh kasus infeksi di kapal tersebut, termasuk tiga korban yang meninggal dunia. Seorang pasien masih menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan.

Merebaknya kasus hantavirus ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan berbagai negara dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis baru. Hantavirus sendiri dikenal sebagai virus yang umumnya ditularkan melalui paparan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat seperti tikus.

Baca juga: Spanyol Tetap Terima Kapal Pesiar Pembawa Hantavirus Meski Ditolak Warga

Meskipun hingga kini belum ada laporan penyebaran luas lintas negara, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat virus tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, terutama pada sistem pernapasan. Langkah penguatan skrining yang dilakukan Indonesia dinilai sebagai upaya penting untuk mencegah masuknya kasus dari luar negeri.