KabarDermayu.com – Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump melakukan kunjungan ke Kuil Surga di Beijing pada 14 Mei 2026. Kunjungan ini dilakukan di sela-sela agenda kunjungan kenegaraan Trump ke Tiongkok.
Dalam suasana awal musim panas yang sejuk, kompleks Kuil Surga yang dikelilingi pepohonan cemara tua menjadi saksi pertemuan bersejarah ini. Presiden Xi menyambut hangat Presiden Trump di Aula Doa untuk Panen yang Baik. Momen kebersamaan mereka diabadikan melalui foto bersama di area alun-alun yang luas di depan aula tersebut.
Kuil Surga berlokasi sekitar empat kilometer di sebelah selatan Balai Besar Rakyat. Lokasinya yang strategis ini menjadikannya bagian dari Poros Tengah Beijing. Bersama dengan Lapangan Tiananmen dan Kota Terlarang, Kuil Surga merupakan salah satu destinasi wisata utama di ibu kota Tiongkok.
Selanjutnya, kedua pemimpin negara ini menaiki tangga dan memasuki aula utama yang memukau. Bangunan ini menampilkan arsitektur megah dengan tiga lapis atap dan detail ubin berglasur yang indah. Di dalam aula, mereka mengamati secara seksama teknik sambungan pasak dan penyangga kayu yang menjadi ciri khas bangunan tradisional Tiongkok.
Diskusi pun mengalir mengenai keterpaduan struktur bangunan dengan kalender astronomi. Hal ini mencerminkan filosofi harmoni dengan alam yang sangat dijunjung tinggi dalam kebudayaan Tiongkok kuno. Presiden Xi mengingatkan bahwa pada tahun 2017, mereka pernah mengunjungi Museum Istana yang juga berada di sepanjang Poros Tengah Beijing.
Menurut Presiden Xi, Kuil Surga memiliki usia yang sama tuanya dengan Museum Istana. Tempat ini mencerminkan pandangan kosmologi Tiongkok kuno, yaitu “Surga itu bulat dan Bumi itu persegi.” Filosofi ini secara mendalam membimbing seluruh aspek kehidupan masyarakat Tiongkok.
Para penguasa Tiongkok di masa lalu kerap menggelar upacara doa di Kuil Surga. Tujuannya adalah memohon kemakmuran bagi bangsa, kebahagiaan bagi seluruh rakyat, dan hasil panen yang melimpah. Tradisi ini mewujudkan etos Tiongkok yang menekankan bahwa rakyat adalah fondasi utama suatu negara.
Hanya ketika rakyatnya dapat menjalani kehidupan yang baik, barulah sebuah negara dapat mencapai kemajuan. Presiden Xi menekankan bahwa Partai Komunis Tiongkok telah berhasil mewarisi dan meneruskan filosofi yang berpusat pada rakyat ini. Filosofi ini berakar kuat dalam peradaban Tiongkok yang kaya.
Dengan menjunjung tinggi komitmen fundamentalnya untuk melayani rakyat dengan sepenuh hati, Partai Komunis Tiongkok telah berhasil mendapatkan dukungan yang teguh dari seluruh rakyat Tiongkok. Hal ini menunjukkan keberhasilan pendekatan yang mengutamakan kepentingan rakyat.
“Meneruskan dan mengembangkan filosofi yang berpusat pada rakyat dalam peradaban Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok tetap berkomitmen pada misi abadi untuk melayani rakyat dengan sepenuh hati dan telah memperoleh dukungan yang kuat serta dukungan tulus dari rakyat,” ujar Xi Jinping.
Presiden Trump menyampaikan bahwa ia masih mengingat dengan jelas kunjungannya ke Museum Istana beberapa tahun lalu. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap Kuil Surga yang masih berdiri kokoh setelah lebih dari 600 tahun. Menurutnya, ini adalah bukti keindahan arsitektur klasik dan kekayaan budaya tradisional Tiongkok yang luar biasa.
“Kuil Surga, yang masih berdiri tegak setelah lebih dari 600 tahun, menampilkan seni arsitektur klasik Tiongkok yang indah serta budaya tradisional yang megah dan mendalam, yang luar biasa,” puji Trump.
Presiden Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama merupakan negara besar dengan masyarakat yang bijaksana. Ia menilai kedua negara memiliki kebutuhan mendesak untuk memperdalam saling pengertian. Selain itu, penting pula untuk terus mempromosikan persahabatan antar masyarakat kedua negara.
Baca juga: Marc Marquez Ungkap Kondisi Saraf Bahu yang Buatnya Balapan dengan Setengah Kekuatan
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin negara didampingi oleh sejumlah pejabat penting. Dari pihak Tiongkok hadir Sekretaris Sekretariat Komite Pusat Partai Komunis China (PKC) Cai Qi, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dan Sekretaris PKC Kota Beijing Yin Li.





