UMKM Batik Rembang Tingkatkan Pemasaran Digital untuk Jangkau Pasar Dunia

oleh -6 Dilihat
UMKM Batik Rembang Tingkatkan Pemasaran Digital untuk Jangkau Pasar Dunia

KabarDermayu.com – Hawien Wilopo berhasil membangun usaha Batik Tulis Lasem dengan merek Gunung Kendil di Rembang, Jawa Tengah, berawal dari kecintaannya pada seni menggambar sejak kecil. Kemampuannya menciptakan motif batik modern yang tetap mempertahankan keasliannya, mendapat apresiasi tinggi dari pasar domestik maupun internasional.

Setiap bulan, sedikitnya 150 karya batik berupa kain dan pakaian jadi berhasil terjual, menghasilkan omzet sekitar Rp20 juta per bulan atau Rp150 juta per tahun. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan Rumah BUMN PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) di Rembang, yang dikelola oleh PT Semen Gresik.

Hawien Wilopo mengaku tidak memiliki latar belakang sebagai pembatik. Awalnya, ia membantu seorang teman mendesain batik pada tahun 2010. Melihat potensi pasar yang besar karena karyanya selalu habis terjual, ia memutuskan untuk mengikuti pelatihan membatik pada tahun 2012 dan memulai usahanya sendiri. Usaha yang sempat ramai ini mengalami penurunan penjualan akibat pandemi COVID-19. Ia kemudian mengetahui tentang Rumah BUMN (RB) Rembang dan bergabung pada tahun 2021.

Baca juga: Kenaikan Tunjangan Hakim Ad Hoc, Harapan KPK untuk Peradilan yang Lebih Transparan

Melalui RB Rembang, Hawien Wilopo mendapatkan berbagai pelatihan dan pendampingan intensif. Materi yang diberikan meliputi manajemen usaha hingga optimalisasi platform digital untuk pemasaran. Ia juga kerap dilibatkan dalam berbagai pameran, serta karyanya sering ditampilkan dalam acara fashion show, yang semakin memperluas jangkauan merek Batik Tulis Lasem Gunung Kendil.

Beberapa pameran bergengsi yang pernah diikuti antara lain Festival Tong Tong di Den Haag, Belanda pada tahun 2022, Future SMEs Village Side Event G20 di Bali pada tahun 2022, Bazar UMKM di Sarinah, Jakarta pada tahun 2023, dan Inacraft di Jakarta pada tahun 2024. Pengalaman mengikuti pameran berskala nasional hingga internasional ini menjadi pencapaian membanggakan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Hawien Wilopo, dan semakin mendongkrak popularitas usahanya.

Hawien Wilopo menekankan bahwa optimalisasi platform digital telah membuka pasar yang lebih luas. Pelanggannya kini tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali. Lebih membanggakan lagi, karyanya diminati oleh konsumen dari berbagai negara, termasuk Jerman, Belgia, Italia, Korea, dan Jepang.

Untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, Hawien Wilopo kini mempekerjakan tujuh karyawan tetap. Saat pesanan sedang membludak, ia juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk membantu proses produksi. Produk Batik Tulis Lasem Gunung Kendil, yang dibuat dengan ketelitian tinggi, dijual dengan kisaran harga Rp200 ribu hingga Rp7 juta untuk kain batik, sementara untuk pakaian jadi dibanderol antara Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.

“Terima kasih SIG dan Semen Gresik yang telah menghadirkan RB Rembang sebagai wadah bagi kami UMKM. Saya sangat senang bisa bergabung di RB Rembang. Keberadaan RB Rembang sangat membantu UMKM untuk berkembang. Semoga RB Rembang terus eksis sehingga dapat mendampingi kami para pegiat UMKM,” ujar Hawien Wilopo.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengapresiasi pencapaian luar biasa Batik Tulis Lasem Gunung Kendil. Ia menyoroti bahwa UMKM binaan RB Rembang ini tidak hanya berhasil mempromosikan batik sebagai warisan budaya Indonesia hingga ke kancah internasional, tetapi juga turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

“Semoga ke depannya ada lebih banyak lagi UMKM yang sukses mengembangkan usahanya sehingga dapat berkontribusi lebih terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. SIG melalui RB Rembang berkomitmen untuk selalu mendampingi UMKM agar dapat menjalankan usaha secara profesional dan mampu memanfaatkan platform digital sehingga produk-produknya dapat dijangkau secara nasional hingga mancanegara,” tutup Vita Mahreyni.