Trump dan Xi Sepakat Selat Hormuz Tak Boleh Ditutup Iran

oleh -6 Dilihat
Trump dan Xi Sepakat Selat Hormuz Tak Boleh Ditutup Iran

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dilaporkan mencapai kesepakatan penting terkait stabilitas jalur minyak dunia, khususnya Selat Hormuz. Kesepakatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pertemuan kedua pemimpin di Beijing pada 14 Mei 2026 berjalan positif. Selain membahas hubungan dagang, isu terkait Iran dan dampaknya terhadap pasokan energi global menjadi salah satu topik paling serius yang diangkat.

Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Washington dan Beijing memiliki pandangan yang sama mengenai krusialnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Hal ini demi memastikan kelancaran arus energi global yang vital bagi stabilitas ekonomi dunia.

“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas,” ujar pejabat Gedung Putih, merujuk pada pernyataan yang dikutip oleh CNN International.

Selat Hormuz memegang peranan strategis sebagai jalur utama distribusi minyak mentah dunia. Ketergantungan China terhadap pasokan energi dari Iran, ditambah dengan memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah, menjadikan isu ini sangat sensitif.

Lebih lanjut, Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Xi Jinping menegaskan penolakan China terhadap segala bentuk militerisasi di Selat Hormuz. Beijing juga menentang upaya pengenaan biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi perairan tersebut.

Menariknya, Presiden Xi Jinping juga disebut menyampaikan ketertarikan China untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Beijing terhadap jalur energi di kawasan Teluk.

Namun, pejabat Gedung Putih tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai apakah China siap mengambil langkah konkret untuk membantu meredakan konflik yang melibatkan Iran.

Baca juga: Dampak Perayaan Juara Inter Milan, Laga Tenis Italian Open Terhenti karena Asap Kembang Api

Selain isu keamanan energi, pertemuan Trump dan Xi Jinping juga menyoroti hubungan perdagangan kedua negara yang selama beberapa tahun terakhir diwarnai ketegangan. Meskipun detail kesepakatan ekonomi belum diumumkan secara resmi, kedua belah pihak dilaporkan membuka peluang kerja sama baru.

Isu lain yang turut menjadi agenda pembicaraan adalah terkait fentanyl. Pemerintah AS telah berulang kali menekan China mengenai aliran bahan baku narkotika sintetis yang masuk ke wilayah Amerika Serikat.

Kunjungan Presiden Trump ke China pada 13–15 Mei 2026 ini menjadi sorotan internasional. Lawatan ini merupakan yang pertama bagi seorang presiden AS ke Tiongkok dalam kurun waktu hampir sembilan tahun, dan merupakan kunjungan kedua Trump ke negara tersebut setelah lawatan pertamanya pada tahun 2017.

Sebelum keberangkatannya, Trump sendiri telah memberikan sinyal kuat bahwa ia akan membahas berbagai isu sensitif dengan Xi Jinping. Salah satu isu yang disebut adalah mengenai penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan, yang secara historis menjadi sumber ketegangan utama antara Washington dan Beijing.

“Presiden Xi ingin kita tidak melakukannya, dan saya akan membahas hal itu. Itu salah satu dari banyak hal yang akan saya bicarakan,” ujar Trump kala itu, mengindikasikan keseriusannya dalam mendiskusikan isu tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, sebelumnya telah menyatakan bahwa Presiden Xi Jinping berencana untuk melakukan pertukaran pandangan yang mendalam dengan Trump. Pembahasan tersebut mencakup hubungan bilateral kedua negara hingga isu-isu yang berkaitan dengan perdamaian dunia.

Pihak China juga secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, Beijing juga berupaya untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan yang masih menjadi ganjalan dalam hubungan kedua negara.

Menariknya, lawatan Trump kali ini turut didampingi oleh sejumlah petinggi perusahaan teknologi dan bisnis terkemuka dari Amerika Serikat. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Elon Musk dan Tim Cook dinilai memperkuat indikasi bahwa fokus utama Trump dalam kunjungan tersebut adalah agenda perdagangan dan investasi.