Iran Larang Pengiriman Senjata AS Melalui Selat Hormuz

oleh -4 Dilihat
Iran Larang Pengiriman Senjata AS Melalui Selat Hormuz

KabarDermayu.com – Iran secara tegas melarang Amerika Serikat (AS) untuk mengirimkan pasokan senjata melalui Selat Hormuz menuju pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Militer Iran, Mohammad Akraminia.

“Mulai saat ini, kami tidak akan lagi mengizinkan senjata Amerika melintasi Selat Hormuz untuk masuk ke pangkalan-pangkalan regional,” ujar Akraminia, seperti yang dilaporkan oleh Press TV pada Kamis, 14 Mei 2026.

Akraminia lebih lanjut merinci bahwa wilayah barat Selat Hormuz berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Sementara itu, bagian timur selat tersebut dikendalikan oleh angkatan bersenjata Iran.

Ia menambahkan bahwa koordinasi dalam pengendalian ini akan memperkuat pengawasan dan kedaulatan Iran atas wilayah strategis tersebut.

Lebih jauh, Akraminia mengklaim bahwa langkah ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan negara, bahkan hingga dua kali lipat dari pendapatan minyak.

Sebelumnya, pada tanggal 28 Februari, terjadi serangan gabungan antara AS dan Israel yang menargetkan beberapa lokasi di Iran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan merenggut nyawa warga sipil Iran.

Baca juga: Pertarungan Perdana Thalita Ramadhani Melawan Ratchanok Intanon di Thailand Open 2026

Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan yang diarahkan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang berada di Timur Tengah.

Kemudian, pada tanggal 7 April, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku selama dua minggu.

Perjanjian ini diikuti dengan upaya pembicaraan yang dilaksanakan di Islamabad, namun sayangnya berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan konkret.

Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang masa penghentian permusuhan.

Langkah ini diberikan dengan harapan agar Iran memiliki waktu yang cukup untuk mengajukan sebuah “proposal terpadu”.

Eskalasi ketegangan antara kedua negara ini telah menimbulkan dampak signifikan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang sangat vital untuk pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Gangguan terhadap jalur ini secara langsung mendorong kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional.