Aktivitas Gunung Dukono Masih Tinggi, Kolom Abu Hingga 3.500 Meter

oleh -5 Dilihat
Aktivitas Gunung Dukono Masih Tinggi, Kolom Abu Hingga 3.500 Meter

KabarDermayu.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, masih menunjukkan tingkat yang tinggi. Status gunung api ini saat ini ditetapkan sebagai Level II atau Waspada.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan dalam sebuah pernyataan di Jakarta pada Kamis, bahwa Gunung Dukono tercatat mengalami erupsi pada pukul 07.12 WIT. Erupsi ini menghasilkan kolom abu yang membubung setinggi kurang lebih 3.500 meter di atas puncak.

Laporan dari petugas Badan Geologi di Halmahera Utara menguraikan bahwa kolom abu erupsi memiliki warna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal. Sebaran abu tersebut cenderung mengarah ke barat laut, yang berpotensi memberikan dampak pada area permukiman penduduk dan Kota Galela.

Kondisi ini, menurut Lana, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat akibat paparan abu vulkanik. Selain itu, aktivitas sehari-hari, termasuk sektor transportasi dan kebersihan lingkungan, juga berpotensi terganggu.

Data yang dihimpun Badan Geologi menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Dukono dalam periode 9 hingga 14 Mei 2026 didominasi oleh erupsi. Rata-rata tercatat 48 kejadian erupsi per hari. Ketinggian kolom abu pada periode tersebut bervariasi, mulai dari 600 hingga 4.300 meter di atas puncak.

Sebelumnya, pada tanggal 8 Mei 2026, gunung api yang terletak di Kecamatan Galela dan Tobelo ini sempat mengalami erupsi yang sangat besar. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu yang mencapai ketinggian 10.000 meter di atas puncak.

Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi kepada masyarakat, wisatawan, dan para pendaki. Mereka diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang, yang merupakan pusat aktivitas erupsi.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya sekunder, seperti aliran lahar yang dapat terjadi saat hujan lebat. Bahaya ini terutama perlu diwaspadai di sepanjang aliran Sungai Mamuya yang berada di sektor utara, serta Sungai Mede dan Tauni di sektor timur laut, yang berhulu di puncak Gunung Dukono.

Baca juga: Megawati Hangestri Dilawan Atlet Voli Serbia

Badan Geologi menekankan pentingnya koordinasi yang berkelanjutan. Pemerintah daerah, bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Utara, diminta untuk terus berkoordinasi erat dengan Pos Pengamatan Gunung Api Dukono yang berlokasi di Desa Mamuya.