KabarDermayu.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang bukan sekadar sebagai program pemberian makanan di sekolah, melainkan sebuah intervensi strategis untuk mengatasi masalah gizi pada kelompok rentan.
Data dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada awal Februari 2026 menunjukkan bahwa 81 persen keluarga rentan mendukung keberlanjutan program MBG.
Dukungan ini terutama terlihat di kota-kota kecil, di mana orang tua menilai MBG memberikan kepastian nutrisi bagi anak-anak sekolah mereka, berdasarkan data RISED yang dirilis pada Jumat, 15 Mei 2026.
Dewi Marfuah, S.Gz., perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi (Persagi) yang juga Dosen Prodi S1 Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta, menegaskan hal ini.
Menurutnya, program MBG memang didesain untuk memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan nutrisi harian para penerimanya.
“Program MBG dirancang untuk memenuhi seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian anak. Dengan menu gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayur, hingga buah, siswa diharapkan memiliki energi cukup untuk berkonsentrasi belajar tanpa rasa lemas,” jelas Dewi.
Ia juga menyoroti permasalahan nyata di lapangan, di mana banyak anak sekolah berangkat ke sekolah dengan perut kosong akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
“Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya saat melakukan pengabdian di sekolah, jumlah siswa yang tidak sarapan seringkali lebih banyak dibandingkan yang sarapan.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Ibu Adriana Hedmunrewa, seorang orang tua siswa dari Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Kisah Ibu Adriana memperkuat bukti perubahan positif yang dialami anaknya, Antonio Adrian Stefanus, seorang siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II.
Ibu Adriana mengaku sangat terbantu dengan adanya program MBG karena anaknya kini menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam proses belajar mengajar.
“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi,” tutur Adriana.
“Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga jadi terlihat lebih segar dan berenergi,” imbuhnya.
Program MBG dirancang untuk memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan gizi harian anak, dengan menu gizi seimbang yang mencakup berbagai unsur nutrisi penting.
Ini menunjukkan bahwa program MBG memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup dan performa belajar anak-anak dari keluarga rentan.
Dukungan dari orang tua dan testimoni positif seperti dari Ibu Adriana menjadi bukti nyata efektivitas program ini dalam memutus rantai masalah gizi.
Dengan terpenuhinya kebutuhan nutrisi dasar, anak-anak sekolah diharapkan dapat fokus belajar tanpa terganggu rasa lapar atau lemas.
Program ini juga berkontribusi pada kesehatan fisik anak secara keseluruhan, terlihat dari perubahan fisik yang lebih segar dan berenergi.
Peningkatan nilai akademis yang dilaporkan Ibu Adriana menjadi indikator kuat bahwa asupan gizi yang cukup sangat berpengaruh terhadap kemampuan kognitif dan konsentrasi belajar.
Keberlanjutan program semacam MBG menjadi krusial untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan berdaya saing.
Upaya intervensi strategis seperti ini perlu terus didukung dan diperluas jangkauannya.
Program MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa makanan bergizi, tetapi juga menanamkan kebiasaan makan sehat pada anak.
Hal ini akan berdampak jangka panjang pada kesehatan mereka di masa depan.
Pemerintah dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat terus bersinergi untuk memastikan program ini dapat menjangkau lebih banyak anak dan kelompok rentan lainnya.
Investasi pada gizi anak adalah investasi pada masa depan bangsa yang lebih sehat dan cerdas.
Program MBG menjadi salah satu contoh nyata bagaimana intervensi gizi yang tepat sasaran dapat membawa perubahan positif yang signifikan.
Dukungan masyarakat, seperti yang ditunjukkan oleh mayoritas keluarga rentan dalam survei RISED, menjadi pendorong penting bagi keberhasilan program ini.
Kisah Antonio Adrian Stefanus adalah bukti nyata bahwa perhatian pada gizi anak memberikan dampak luar biasa pada perkembangannya.
Program ini tidak hanya mengatasi masalah perut kosong, tetapi juga memberikan fondasi kuat bagi anak untuk meraih potensi terbaiknya.
Baca juga: Neuer Perpanjang Kontrak, Tetap Jadi Kiper Bayern Munich
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk terus mengawal dan mendukung program-program yang berfokus pada pemenuhan gizi anak dan kelompok rentan.





