Rupiah Melemah: Menko Airlangga Ungkap Faktor Permintaan Dolar Tinggi

oleh -10 Dilihat
Rupiah Melemah: Menko Airlangga Ungkap Faktor Permintaan Dolar Tinggi

KabarDermayu.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengidentifikasi tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) sebagai faktor utama yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus angka Rp17.700 per dolar AS.

Airlangga menjelaskan bahwa faktor global turut berperan signifikan. “Seperti yang saya sampaikan, selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” ujarnya di kantornya, Jakarta, pada Selasa.

Menurutnya, peningkatan kebutuhan dolar AS ini terjadi seiring dengan pembayaran dividen perusahaan pasca-musim laporan keuangan tahunan. Situasi ini diperparah oleh kenaikan harga minyak global yang dipicu oleh konflik yang belum mereda antara AS dan Iran.

Oleh karena itu, ia menilai kombinasi antara tingginya permintaan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan eksternal yang kuat terhadap pergerakan rupiah.

“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelasnya.

Menko Perekonomian berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat kembali menguat pada semester kedua tahun ini.

“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” tambahnya.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.668 per dolar AS.

Sementara itu, analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, berpendapat bahwa tren kenaikan harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel juga turut mempengaruhi pelemahan rupiah.

Baca juga: Menhaj Gus Irfan Memimpin Misi Amirul Hajj Arab Saudi 2026

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) yang diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia masih di atas 100 dolar,” ujar Rully.