Iran: Wanita dan Anak-anak Latihan Senapan AK-47 Hadapi AS

oleh -9 Dilihat
Iran: Wanita dan Anak-anak Latihan Senapan AK-47 Hadapi AS

KabarDermayu.com – Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 telah memberikan gambaran langsung mengenai kesiapan rakyat Iran dalam menghadapi potensi ancaman serangan serupa di masa depan.

Hal ini terjadi di tengah kebuntuan proses negosiasi damai antara Teheran dan Washington.

Kesiapan tersebut terlihat dari sekelompok warga Iran yang berkumpul di sekitar seorang anggota Garda Revolusi. Mereka mempelajari cara menggunakan senapan serbu AK-47 sebagai persiapan jika harus membela negara dari serangan AS yang kembali terjadi.

Selama hampir setengah jam, prajurit tersebut mendemonstrasikan berbagai jenis amunisi serta cara merakit dan membongkar senapan Kalashnikov. Demonstrasi ini menggunakan papan ilustrasi yang dipasang di belakangnya di Lapangan Haft-e Tir.

Pihak berwenang telah mendirikan pos pelatihan militer di seluruh Teheran dalam beberapa hari terakhir. Tujuannya adalah mengajarkan dasar-dasar penanganan senjata kepada masyarakat.

Langkah ini diambil sebagai upaya mempersiapkan masyarakat Iran untuk kemungkinan kembalinya perang. Kota Teheran terhindar dari serangan tanpa henti sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April.

Gencatan senjata tersebut menghentikan hampir 40 hari perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, kekhawatiran tetap ada bahwa pertempuran dapat kembali meletus kapan saja.

“Respons dari masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, sangat luar biasa. Ini sepenuhnya bersifat sukarela,” kata prajurit Garda Revolusi, Nasser Sadeghi, di pos Haft-e Tir, seperti dilansir Arab News pada Selasa.

Ia menambahkan bahwa sesi pelatihan yang telah dimulai lebih dari dua minggu lalu ini bertujuan mempersiapkan warga sipil dari berbagai lapisan masyarakat untuk kembali berperang.

“Tujuannya… adalah untuk mempromosikan budaya mati syahid dan membalas darah pemimpin,” katanya. Ia merujuk pada mendiang pemimpin tertinggi Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan mendadak AS-Israel yang memulai perang pada 28 Februari.

Sejauh ini, pelatihan baru mencakup penggunaan senapan serbu. Namun, Sadeghi menyatakan, “Insya Allah, dalam beberapa hari mendatang, tergantung pada apa yang dianggap tepat oleh otoritas yang lebih tinggi, senjata lain juga akan dibawa untuk pelatihan.”

Peserta pelatihan terdiri dari pria dengan sedikit pelatihan militer sebelumnya, serta wanita yang mengenakan cadar. Beberapa di antaranya memakai ikat kepala dan gelang bergambar bendera Iran.

Para penonton, termasuk anak-anak dan remaja, terlihat berpose untuk foto dengan senapan yang tidak terisi peluru.

Baca juga: Rooney Usai Kritik Liverpool: Ucapan Sadis Mohamed Salah

‘Balas Dendam Kematian Rahbar’

Selama masa gencatan senjata, Iran dan Amerika Serikat hanya mengadakan satu putaran pembicaraan langsung. Pembicaraan tersebut gagal mencapai kesepakatan damai.

Sejak itu, kedua belah pihak telah bertukar proposal mengenai penyelesaian yang langgeng tanpa adanya terobosan berarti.

Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencananya untuk melancarkan serangan besar baru terhadap Iran pada hari berikutnya. Namun, rencana tersebut ditunda atas permintaan sekutu Teluk yang mendorong kelanjutan negosiasi.

Di Teheran, tempat para pendukung pemerintah mengadakan pertemuan hampir setiap malam yang menampilkan perayaan patriotik, persiapan untuk kembali berperang terus berlanjut.

“Insya Allah, kita akan dapat menggunakannya melawan agresi musuh jika suatu hari mereka memiliki niat buruk terhadap negeri ini,” ujar Fardin Abbasi, seorang pegawai pemerintah berusia 40 tahun, usai menghadiri sesi singkat tentang penggunaan senjata Kalashnikov.

Fatemeh Hossein-Kalantar, seorang ibu rumah tangga berusia 47 tahun yang mengenakan cadar hitam, mengatakan ia menghadiri pelatihan tersebut karena keinginan untuk membalas dendam atas kematian Khamenei.

“Kami membawa anak-anak dan remaja kami agar mereka dapat melihat pelatihan militer. Dan setiap kali pemimpin kami, yang lebih kami cintai daripada hidup kami, memberi perintah, kami semua akan turun ke lapangan,” katanya kepada AFP.

Ia menambahkan bahwa pertempuran harus berlanjut “sampai kita membalas dendam yang layak atas darah pemimpin kita tercinta.”

Seorang ibu berusia 39 tahun dengan tiga anak menyatakan bahwa belajar menggunakan senjata api telah menjadi suatu keharusan dalam keadaan saat ini.

“Menurut saya, dalam keadaan yang telah diciptakan Amerika untuk kita, di mana mereka tidak mengampuni perempuan, anak-anak, muda atau tua, adalah kewajiban manusia kita untuk setidaknya belajar menembak dan belajar bagaimana menggunakan senjata,” katanya kepada AFP.

“Agar, jika perlu, kita dapat dengan mudah menggunakannya,” tambahnya.