KabarDermayu.com – Thailand secara signifikan memperketat kebijakan bebas visa bagi turis asing. Langkah ini diambil menyusul maraknya kasus kejahatan yang melibatkan warga negara asing di negara tersebut.
Sebelumnya, Thailand memberikan fasilitas bebas visa selama 60 hari kepada wisatawan dari 93 negara. Negara-negara tersebut meliputi Inggris, Amerika Serikat, dan sebagian besar negara Eropa.
Keputusan ini menandai perubahan drastis dari kebijakan sebelumnya yang lebih longgar. Tujuannya adalah untuk menekan angka kejahatan yang melibatkan orang asing.
Sektor pariwisata memegang peranan krusial bagi perekonomian Thailand. Namun, angka kedatangan wisatawan asing belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi COVID-19.
Beberapa kasus penangkapan warga asing yang menjadi sorotan publik baru-baru ini meliputi pelanggaran narkoba, perdagangan seks, serta praktik bisnis ilegal seperti menjalankan hotel dan sekolah tanpa izin yang sah.
Berdasarkan skema pariwisata yang berlaku, wisatawan dari lebih dari 90 negara berhak masuk ke Thailand tanpa visa selama 60 hari. Negara-negara tersebut mencakup Amerika Serikat, Inggris, 29 negara anggota Schengen di Eropa, dan Australia.
Pada hari Selasa, Kabinet Thailand menyetujui pengurangan durasi masa tinggal bebas visa bagi para wisatawan dari negara-negara tersebut. Perubahan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menjaga ketertiban dan keamanan.
Menteri Pariwisata, Surasak Phancharoenworakul, menjelaskan bahwa durasi bebas visa yang baru akan bervariasi antar negara. Mayoritas warga negara asing akan mendapatkan masa tinggal maksimal 30 hari, sementara beberapa negara hanya akan diberikan 15 hari.
Juru bicara pemerintah menambahkan bahwa wisatawan masih memiliki opsi untuk memperpanjang masa tinggal mereka. Perpanjangan ini dapat dilakukan dengan mengunjungi kantor imigrasi, namun keputusan akan bergantung pada petugas imigrasi.
Baca juga: Mr Crack & Mr Clean: Pengawal Rupiah KrisMon 1998
Perpanjangan masa tinggal tidak lagi otomatis seperti sebelumnya. Wisatawan yang ingin memperpanjang harus memberikan alasan yang kuat mengenai kebutuhan mereka untuk tinggal lebih lama.
Menteri Luar Negeri, Sihasak Phuangketkeow, pekan lalu menyatakan bahwa rencana pengurangan masa tinggal bebas visa merupakan bagian dari upaya pemberantasan kejahatan transnasional. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memerangi aktivitas ilegal.
Menurut Sihasak, Thailand tidak menargetkan negara atau warga negara tertentu. Fokusnya adalah pada individu yang menyalahgunakan sistem visa untuk melakukan kejahatan di wilayah Thailand.
Wisatawan memang memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Thailand. Namun, skema visa yang ada sebelumnya telah dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk melakukan penyalahgunaan.
Sebelumnya, masa bebas visa hanya dibatasi hingga 30 hari. Durasi ini kemudian diperpanjang menjadi 60 hari pada Juli 2024 sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendongkrak sektor pariwisata dan perekonomian negara.
Pariwisata menyumbang lebih dari 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand. Meskipun demikian, jumlah pengunjung mancanegara masih belum mencapai angka sebelum pandemi.
Data pemerintah menunjukkan penurunan kedatangan wisatawan asing sekitar 3,4% pada kuartal pertama tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Pengunjung dari Timur Tengah mengalami penurunan drastis, hampir sepertiga.
Pemerintah Thailand memproyeksikan jumlah wisatawan asing yang akan datang tahun ini mencapai sekitar 33,5 juta. Angka ini sedikit meningkat dari 33 juta pengunjung pada tahun sebelumnya.





