Rumah Sakit Perawatan Ebola di Kongo Dihancurkan dan Dibakar

oleh -9 Dilihat
Rumah Sakit Perawatan Ebola di Kongo Dihancurkan dan Dibakar

KabarDermayu.com – Sejumlah warga di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, dilaporkan menyerang dan membakar fasilitas pusat perawatan Ebola di RS Rwampara. Aksi ini terjadi pada Kamis waktu setempat, dipicu oleh penolakan keluarga korban untuk menyerahkan jenazah anggota keluarga mereka yang meninggal akibat Ebola.

Keluarga korban mendesak agar jenazah anggota keluarga mereka diserahkan untuk dimakamkan sesuai adat. Mereka juga menolak klaim bahwa kerabat mereka meninggal karena Ebola, menunjukkan adanya ketidakpercayaan terhadap diagnosis medis.

Pejabat setempat, Luc Malembe, menjelaskan bahwa massa berkumpul di luar rumah sakit dan melakukan pembakaran setelah permintaan mereka untuk mengambil jenazah ditolak. Pihak kepolisian terpaksa menggunakan gas air mata dan tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan tersebut.

Malembe menekankan pentingnya peningkatan edukasi publik mengenai bahaya Ebola. Hal ini menjadi krusial, terutama di wilayah yang juga menghadapi tantangan keamanan yang serius, di mana informasi yang akurat dan kepercayaan terhadap tenaga medis sangat dibutuhkan.

Insiden ini mengingatkan kembali pada peristiwa serupa di tahun 2020. Saat itu, sejumlah pusat kesehatan juga menjadi sasaran serangan oleh kelompok bersenjata dan warga yang marah. Ketidakpercayaan terhadap tenaga medis menjadi salah satu faktor utama di balik serangan tersebut selama wabah Ebola 2018 yang melanda Kongo bagian timur.

Wabah Ebola ini secara resmi diumumkan pada 15 Mei di Provinsi Ituri, yang terletak di bagian timur Kongo. Sejak saat itu, otoritas kesehatan Kongo, bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah mencatat sekitar 600 kasus suspek.

Dari jumlah tersebut, 139 kematian diduga kuat terkait dengan virus Ebola. Penyebaran wabah kini telah meluas, menjangkau Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.

Dampak wabah ini bahkan telah melintasi batas negara. Dua kasus impor yang melibatkan warga negara Kongo dilaporkan terjadi di negara tetangga, Uganda, menandakan urgensi penanganan yang komprehensif.

Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya, pada Kamis lalu telah mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin dalam menjalankan langkah-langkah pencegahan yang telah ditetapkan. Imbauan ini disampaikan saat ia berbicara di Bunia.

Kaseya kembali menegaskan komitmen para mitra di benua Afrika untuk memberikan bantuan maksimal dalam penanganan wabah Ebola. Ia menyatakan kesiapan tim yang ada.

“Kami memiliki tim yang sangat siap dan berpengalaman. Kami juga akan terus memperkuat mereka untuk menangani epidemi ini,” ujar Kaseya, menunjukkan optimisme terhadap upaya penanggulangan.

Baca juga: Luke Thomas Dirut DSI: Alasan Pemerintah Tunjuk & Kinerja Sangat Baik

Minggu lalu, WHO mengambil langkah tegas dengan menetapkan wabah Ebola yang disebabkan oleh varian Bundibugyo sebagai darurat kesehatan global. Keputusan ini diambil menyusul lonjakan jumlah kasus suspek dan kematian yang dilaporkan di Kongo bagian timur.