Ilham Habibie: Reindustrialisasi Nasional, Begini Penjelasannya

oleh -9 Dilihat
Ilham Habibie: Reindustrialisasi Nasional, Begini Penjelasannya

KabarDermayu.com – Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menyoroti pentingnya reindustrialisasi nasional sebagai solusi atas berbagai kegelisahan yang dihadapi bangsa. Ia menekankan perlunya membangun kembali ekosistem industri Indonesia yang dinilai mengalami deindustrialisasi dini.

Ilham menjelaskan bahwa kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 1990-an mencapai angka 20 persen. Namun, angka tersebut kini berada di bawah 20 persen, bahkan menyentuh 17 persen, yang mengindikasikan adanya degradasi dan penurunan sektor industri, atau yang disebut sebagai deindustrialisasi.

Ia berpendapat bahwa program hilirisasi yang selama ini digalakkan pemerintah belum sepenuhnya memadai. Mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi hanyalah langkah awal dari sebuah proses yang lebih besar.

Menurut pandangannya, Indonesia memerlukan reindustrialisasi yang bersifat komprehensif. Namun, Ilham menegaskan bahwa reindustrialisasi yang dimaksud bukanlah pengulangan dari model industrialisasi masa lalu. Industrialisasi di masa lalu seringkali berdampak negatif pada lingkungan dan mengeksploitasi tenaga kerja.

Baca juga: Acara MTQ Internasional di Masjid Istiqlal Akan Diikuti Perwakilan dari Berbagai Negara dan Provinsi

Ia mengusulkan agar reindustrialisasi di masa depan lebih selaras dengan tuntutan abad ke-21. Hal ini mencakup pengembangan industri yang bersifat sirkular, berkelanjutan, regeneratif, serta mengedepankan pendekatan human-centric, yang menempatkan manusia sebagai pusatnya.

Konsep reindustrialisasi yang diusung oleh Ilham bertujuan untuk memastikan bahwa perkembangan industri dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik, menyerap tenaga kerja lokal, dan pada akhirnya menciptakan peningkatan ekonomi yang signifikan bagi negara.

Dalam pandangannya, para insinyur memegang peranan krusial sebagai ujung tombak dalam berbagai aspek pembangunan. Peran mereka mencakup perancangan infrastruktur, transformasi energi, digitalisasi, manufaktur, hingga penguatan industri pertahanan dan ketahanan pangan nasional.

“Sebagai insinyur, jika orang bertanya kepada saya apa yang terpenting yang dapat dilakukan oleh Indonesia? Re-industrialisasi jawabannya,” ungkap Ilham, menegaskan keyakinannya terhadap vitalnya sektor industri.

Di sisi lain, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) secara aktif memfasilitasi peran para insinyur dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan mendorong inovasi teknologi di berbagai sektor.

Ilham melihat potensi besar pada Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai laboratorium hidup untuk pengembangan perkotaan modern dan sebagai cetak biru bagi reindustrialisasi nasional di masa mendatang.

Ia berpendapat, “IKN adalah laboratorium bagi pembangunan di tempat-tempat lainnya ke depan. Peran insinyur sangat penting sebagai aktor utama pembangunan di era reindustrialisasi dan digitalisasi.”

Dalam pandangan Ilham, tanggung jawab strategis para insinyur melampaui sekadar solusi teknis. Mereka memiliki peran penting dalam membentuk masa depan bangsa.

“Jika ilmuwan mencari kebenaran, maka insinyur mencari solusi. Karena itu, PII terus mendorong inovasi, kolaborasi, dan penguatan kapasitas insinyur agar mampu berkontribusi nyata bagi masa depan Indonesia,” ujar Ilham, menekankan komitmen PII dalam memberdayakan para insinyur.