Pengakuan Dibegal Ternyata Bohong, Polisi Ungkap Fakta Tak Terduga

oleh -6 Dilihat
Pengakuan Dibegal Ternyata Bohong, Polisi Ungkap Fakta Tak Terduga

KabarDermayu.com – Kasus hoaks pembegalan yang melibatkan model Ansy Jan De Vries belum berujung pada tindakan hukum pidana. Meskipun pihak kepolisian telah mengonfirmasi bahwa cerita pembegalan dan pembacokan yang sempat viral di media sosial tidak benar, Polda Metro Jaya memilih untuk tidak segera mengambil langkah hukum terhadap Ansy.

Alih-alih memproses secara pidana, polisi saat ini lebih mengedepankan pendekatan persuasif dan kemanusiaan. Hal ini dilakukan sambil terus mendalami motif di balik unggahan yang sempat membuat publik heboh tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, menjelaskan bahwa penyidik masih terus menggali alasan di balik narasi viral yang dibuat oleh Ansy.

“Jadi gini, sebenarnya kan kita sampaikan, kalau kita masih melakukan pendekatan kemanusiaan, memberikan imbauan, tidak mesti harus penegakan hukum yang utama, ultimum remedium,” tutur Budi Hermanto, dikutip pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Budi menegaskan bahwa kepolisian tidak ingin publik salah persepsi dan menganggap langkah klarifikasi yang dilakukan sebagai bentuk pembatasan kebebasan berekspresi masyarakat di media sosial.

“Nanti jangan salah persepsi, Polda Metro Jaya dan Polri tidak membatasi masyarakat di ruang-ruang publik,” ujarnya.

Meskipun demikian, proses penyelidikan tetap berjalan. Polisi kini tengah mendalami kemungkinan adanya motif tertentu di balik penyebaran kabar bohong tersebut, termasuk dugaan keterkaitan dengan pihak atau kelompok tertentu.

“Tetapi kami kalau untuk mengklarifikasi terkait tentang motif yang akan dilakukan, terus ada kaitan nggak ini dengan kelompok-kelompok tadi yang ditanyakan oleh teman-teman media, ada nggak dalam cipta kondisi dan lain-lain, nah kami kan butuh waktu untuk menanyakan,” jelasnya.

Baca juga: Lowongan Kerja AI 2026: Ajari Robot Cuci Piring & Profesi Terkini

Dalam penanganan kasus ini, polisi juga melibatkan pendekatan dari Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Menurut Budi, Ansy saat ini diposisikan dalam proses pendampingan secara psikologis dan humanis.

“Kami juga sudah melakukan pendekatan secara perempuan dari PPA, pendekatan yang bersangkutan diorientasikan sebagai korban. Kedatangan kita melakukan perlindungan, pendekatan secara humanis, termasuk memberikan pendampingan psikolog sudah kita lakukan,” katanya.

Tak hanya memeriksa pihak terkait, polisi juga menelusuri aktivitas di ruang digital. Tujuannya adalah untuk memastikan ada atau tidaknya unsur kesengajaan dalam menciptakan kegaduhan, terutama di tengah maraknya pengungkapan kasus kriminal jalanan oleh Polda Metro Jaya.

“Nah kita akan mendalami, tadi beberapa yang menanyakan, pasti kami akan mendalami, baik dari pelaku, baik dari sisi media sosial, media sosial digital, ruang digital itu pasti akan kami dalami,” kata Budi.

Ia pun mengungkapkan bahwa kemungkinan adanya unsur tertentu di balik penyebaran cerita palsu tersebut masih terus ditelusuri oleh penyidik.

“Artinya apakah ada afiliasi, ada potensi-potensi memang sengaja dalam tanda kutip membuat gaduh,” ujarnya.

Meski kasus ini dipastikan sebagai hoaks, polisi menegaskan bahwa pihaknya tetap membutuhkan informasi dari masyarakat melalui media sosial. Informasi tersebut sangat membantu kepolisian dalam mengungkap tindak kriminal yang benar-benar terjadi.

“Kami juga mendapat feedback positif dari informasi unggahan masyarakat di media sosial, itu memberi informasi kepada kepolisian untuk mendalami TKP (tempat kejadian perkara), waktu kejadian, siapa korbannya,” kata dia lagi.

Sebelumnya diberitakan, pengakuan seorang model wanita bernama Ansy Jan De Vries yang mengaku menjadi korban pembegalan brutal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sempat membuat heboh publik.

Hal ini karena Polda Metro Jaya mengungkap bahwa luka yang sebelumnya diklaim akibat sabetan senjata tajam ternyata bukan berasal dari aksi kriminal. Hasil visum menunjukkan luka tersebut disebabkan oleh pecahnya bisul.

“Berita tersebut adalah bohong. Sudah visum. Terhadap luka tersebut adalah bisul meletus bukan karena bacokan pelaku begal,” tutur Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, pada Jumat, 22 Mei 2026.

Sosok model Ansy Jan De Vries sendiri telah memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya terkait klaimnya yang mengaku menjadi korban pembegalan brutal tersebut.

Usai keluar dari ruang pemeriksaan Direktorat Siber Polda Metro Jaya pada Kamis malam, 21 Mei 2026, perempuan tersebut tampak tak kuasa menahan tangis ketika dihampiri awak media.

Ansy saat itu mengenakan hoodie biru dan celana cokelat. Ia didampingi kerabat serta mendapat pengawalan dari polisi berpakaian preman. Saat dicecar pertanyaan awak media mengenai pemeriksaannya, Ansy memilih bungkam dan hanya memberi jawaban singkat.

“Gak mau, gak mau,” kata Ansy di lokasi, Kamis malam.

Tak lama berdiri di depan para awak media, Ansy mendadak menangis tersedu-sedu sebelum akhirnya dituntun masuk ke dalam mobil oleh keluarganya.