Bukan Mojtaba Khamenei, Kelompok Elite Militer Ini Disebut Kendalikan Iran

oleh -11 Dilihat
Bukan Mojtaba Khamenei, Kelompok Elite Militer Ini Disebut Kendalikan Iran

KabarDermayu.com – Pasca tewasnya Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu, Iran menghadapi kekosongan di pucuk kekuasaan yang sekaligus mengubah peta politik negara itu.

Putranya, Mojtaba Khamenei, ditunjuk menggantikan mendiang ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Namun, Mojtaba disebut tidak memiliki pengaruh sebesar Ali Khamenei.

Berdasarkan laporan New York Times, arah pengambilan keputusan di Iran lebih banyak dikendalikan oleh kelompok kecil elite. Kelompok ini sebagian besar terdiri dari pejabat senior dan mantan komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Pejabat senior Iran tetap menyatakan bahwa semua urusan penting berada di tangan pewaris berusia 56 tahun itu. Namun, pengambilan keputusan sebenarnya tidak hanya bergantung pada satu orang.

Baca juga: Kecelakaan Fatal Catalunya: Alex Marquez Absen MotoGP Mugello, Hungary

Dalam laporan New York Times, disebutkan bahwa kelompok itu dikenal sebagai ‘persaudaraan keras’. Kelompok ini dibentuk oleh pengalaman pahit selama perang Iran-Iran yang berlangsung delapan tahun sejak 1980.

‘Kelompok Persaudaraan’

IRGC dibentuk pada 1979 untuk melindungi revolusi Islam dan pemimpinnya. Saat perang Iran-Irak berlangsung, sejumlah komandannya bahkan sudah diangkat menjadi jenderal ketika masih berusia akhir 20-an hingga awal 30-an.

Dukungan Barat kepada Irak pada masa perang membuat Teheran yakin bahwa Iran harus berjalan dengan caranya sendiri, apa pun risikonya. Setelah perang berakhir, para komandan itu kemudian menguasai lembaga intelijen dan keamanan negara.

Kini, beberapa dari tokoh tersebut yang memiliki hubungan dekat dengan Mojtaba Khamenei sejak lama ketika ia mengelola kantor ayahnya disebut menjadi sosok yang menjalankan Iran dari balik layar.

Mereka adalah tokoh paling garis keras di negara itu. Mereka militan bukan hanya dalam menjaga revolusi Islam, tetapi juga dalam metode keras yang mereka gunakan untuk mengendalikan lembaga-lembaga utama penindasan pemerintah.

Para pengamat menilai latar belakang, perjalanan karier, dan pandangan ideologi yang sama membuat kelompok ini tetap solid. Oleh karena itu, perang, runtuhnya pemerintahan, hingga pembunuhan sekitar 50 pemimpin politik dan militer papan atas tidak mampu melumpuhkan Teheran.

Cara mereka bekerja dan membagi kekuasaan masih sangat tertutup. Beberapa di antaranya bahkan sudah lama menghilang dari sorotan publik sebelum perang dimulai dan kini tetap bersembunyi demi menghindari serangan. Namun saat ini, mereka disebut telah bersatu menjadi persaudaraan yang menjalankan negara.

Pakar Garda Revolusi sekaligus profesor ilmu politik di University of Tennessee at Chattanooga, Saeid Golkar, mengatakan kepada New York Times bahwa kelompok itu memiliki kendali besar karena menguasai informasi dan intelijen negara.

“Mereka punya informasi dan intelijen. Mereka sangat memahami bagaimana sistem bekerja, mengenal oposisi, kelompok reformis, bahkan kubu garis keras sendiri. Mereka saling mengawasi, mengendalikan, dan memata-matai satu sama lain. Lantaran dominasi di bidang intelijen itulah, mereka perlahan menjadi kekuatan dominan di hampir seluruh aspek politik Iran,” kata dia.