Pelaku Usaha Didorong Kembangkan Model Bisnis Berbasis Keanekaragaman Hayati

oleh -6 Dilihat
Pelaku Usaha Didorong Kembangkan Model Bisnis Berbasis Keanekaragaman Hayati

KabarDermayu.com – Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) memperkenalkan Rencana Aksi Bisnis Indonesia untuk Keanekaragaman Hayati (KIRANAS) untuk periode 2026–2028, sebuah inisiatif yang disusun bekerja sama dengan Business for Nature. Peluncuran ini bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 yang diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Dokumen tersebut dirancang sebagai peta jalan untuk memandu sektor swasta dalam mendukung upaya perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati di Indonesia. Sebagai negara dengan status megabiodiversitas yang membentang فوق lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki kekayaan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat sekaligus menopang berbagai sektor ekonomi.

Bagi dunia usaha, keanekaragaman hayati memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan operasional bisnis, mulai dari ketersediaan bahan baku, ketahanan rantai pasok, hingga berbagai jasa ekosistem seperti sumber air bersih dan kesuburan lahan. Namun demikian, tekanan terhadap keanekaragaman hayati terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2024, tercatat sekitar 16,8% ekosistem mangrove dan 28,9% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi rusak, sementara angka deforestasi netto menyentuh angka 175,4 ribu hektare.

Accelerated oleh perubahan penggunaan lahan, eksploitasi sumber daya alam, polusi, perubahan iklim, serta kebakaran hutan dan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati menjadi isu yang semakin mendesak. Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha dituntut untuk mengintegrasikan aspek keanekaragaman hayati ke dalam strategi bisnis, seiring dengan meningkatnya tuntutan dari pasar, investor, dan rantai pasok global.

Namun, banyak perusahaan masih mengalami kesenjangan antara komitmen yang diucapkan dan implementasi di lapangan. KIRANAS hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui pendekatan yang terstruktur, KIRANAS membantu perusahaan dalam mengevaluasi risiko dan ketergantungan terhadap keanekaragaman hayati, menentukan prioritas aksi, serta mengintegrasikan prinsip nature-positive ke dalam pengambilan keputusan bisnis.

“Keanekaragaman hayati semakin menjadi isu strategis bagi dunia usaha. Di tengah perubahan iklim, dinamika rantai pasok global, serta meningkatnya standar keberlanjutan internasional, perusahaan dituntut untuk membangun model bisnis yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga tangguh dan bertanggung jawab terhadap alam,” tutur Shinta W Kamdani, Honorary Trustee IBCSD, Minggu, 24 Mei 2026.

Dia menjelaskan, KIRANAS turut membantu memastikan dunia usaha bisa mewujudkan aksi bisnis yang selaras dengan berbagai agenda pembangunan, termasuk RPJMN 2025–2029, IBSAP 2025–2045, FOLU Net Sink 2030, serta target Net Zero Emission 2060, sekaligus merespons kerangka global seperti Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF).

Baca juga: Pamit Mau Ngopi, Wanita Paruh Baya Ditemukan Tewas Dibunuh di Pinggir Jalan Bogor

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Nizhar Marizi menyampaikan bahwa pengelolaan keanekaragaman hayati tidak dapat dipandang semata sebagai agenda lingkungan. Melainkan sebagai bagian integral dari arah pembangunan nasional menuju ekonomi yang tangguh, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Pallavi Kalita, Asia Lead for Business for Nature, Conservation International APAC, menambahkan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi dunia usaha adalah menerjemahkan komitmen global terkait keanekaragaman hayati menjadi aksi nyata di lapangan. KIRANAS menjawab tantangan tersebut secara langsung dengan menyediakan peta jalan yang terstruktur bagi perusahaan di Indonesia untuk menghubungkan operasional bisnis mereka dengan target keanekaragaman hayati di tingkat nasional maupun global.

“Business for Nature bangga dapat mendukung upaya ini dan berharap KIRANAS dapat menginspirasi inisiatif serupa di berbagai wilayah,” singkatnya.

KIRANAS juga menekankan pentingnya aksi kolektif melalui penguatan kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, KIRANAS mendorong interoperabilitas pelaporan keberlanjutan dengan menyelaraskan berbagai kerangka yang terfragmentasi, tanpa menambah kewajiban baru bagi perusahaan.

Dalam implementasi KIRANAS, Indonesia Business & Biodiversity Platform (IBBP) yang diinisiasi oleh IBCSD berperan sebagai platform kolaborasi dan agregasi data. Platform ini mendukung harmonisasi pelaporan, pertukaran pengetahuan, serta konsolidasi kontribusi sektor swasta terhadap target IBSAP.

Ke depan, implementasi KIRANAS akan difokuskan pada penguatan kapasitas, pengembangan pilot project, serta penyediaan ruang berbagi pembelajaran melalui Indonesia Business and Biodiversity Platform (IBBP). Dengan demikian, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang mampu mengintegrasikan prinsip nature-positive dalam operasionalnya dan berkontribusi terhadap pencapaian target keanekaragaman hayati nasional.