KabarDermayu.com – Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) mulai membebani anggaran rumah tangga di Amerika Serikat. Di tengah biaya hidup yang terus meroket, sejumlah peritel besar seperti Walmart dan Kroger mengambil langkah drastis dengan memangkas harga ribuan produk guna menjaga daya beli konsumen.
Keputusan ini diambil menyusul lonjakan harga bensin di Amerika Serikat yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan pokok sehari-hari.
CEO Kroger, Greg Foran, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan uji coba pemotongan harga pada ribuan produk. Tujuannya adalah untuk menarik lebih banyak konsumen agar berbelanja di toko mereka dibandingkan dengan pesaing yang menawarkan harga lebih rendah. Foran mengakui bahwa konsumen saat ini sangat peka terhadap harga akibat tekanan ekonomi yang semakin terasa.
“Faktanya, total belanja konsumen memang harus turun. Dan kebutuhan setiap orang tidak sama,” ujar Greg Foran, mengutip dari Investopedia pada Minggu, 24 Mei 2026. “Karena itu, penurunan harga perlu dilakukan pada ribuan produk,” tambahnya.
Perilaku konsumen yang mulai berhemat ini sebenarnya sudah terlihat sejak inflasi di Amerika Serikat melonjak pada tahun 2022. Namun, kenaikan harga bensin di tahun ini memperparah keadaan. Banyak masyarakat terpaksa mengurangi pengeluaran untuk hal-hal non-prioritas dan menjadi lebih selektif saat membeli kebutuhan pokok.
Di sisi lain, Walmart juga menerapkan strategi serupa. Perusahaan ritel terbesar di Amerika Serikat ini berkomitmen untuk terus memperluas program diskonnya demi mempertahankan loyalitas pelanggan.
CEO Walmart, John Furner, menegaskan bahwa fokus perusahaan tetap pada perluasan program pemotongan harga yang telah dimulai sejak paruh kedua tahun lalu.
“Kami terus berinvestasi pada harga, termasuk memperluas program penurunan harga yang sudah kami mulai sejak paruh kedua tahun lalu,” ungkap John Furner.
Sementara itu, Chief Financial Officer (CFO) Walmart, John David Rainey, mengungkapkan bahwa perusahaan telah memangkas harga sekitar 7.200 produk. Angka ini meningkat lebih dari 20 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kenaikan harga bensin yang terus berlanjut menjadi pemicu utama perubahan perilaku konsumen. Saat ini, harga rata-rata bensin di Amerika Serikat mencapai US$4,56 per galon atau setara dengan Rp80.256 per galon. Dengan asumsi kurs Rp17.600 per dolar AS, nilai ini setara dengan Rp21.200 per liter.
Baca juga: Aktivis Flotilla Sumud Global Diserang Polisi Spanyol di Bilbao
Angka tersebut mengalami kenaikan lebih dari 50 persen sejak akhir Februari lalu. Lonjakan harga ini dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran dan penutupan hampir total Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global.
Dampak dari kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetapi juga merambah ke harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Biaya distribusi yang semakin tinggi menyebabkan harga produk ikut terdorong naik karena ongkos pengiriman menjadi lebih mahal.
Menurut Rainey, tekanan ekonomi kini semakin terlihat jelas dari kebiasaan belanja pelanggan Walmart. Ia mencatat bahwa rata-rata pembelian bahan bakar di SPBU Walmart turun di bawah 10 galon untuk pertama kalinya sejak tahun 2022.
“Itu merupakan indikasi adanya tekanan ekonomi,” katanya.
Penurunan volume pembelian bensin ini dianggap sebagai sinyal bahwa masyarakat mulai berupaya menghemat pengeluaran, bahkan untuk kebutuhan transportasi harian mereka.
Persaingan harga antar supermarket diperkirakan akan terus berlanjut dalam jangka waktu yang cukup lama. Walmart bahkan menegaskan bahwa jika menerima pengembalian dana dari tarif impor, perusahaan akan memprioritaskan penggunaan dana tersebut untuk menjaga harga produk tetap rendah.
“Kami percaya pengembalian terbaik dari setiap dolar modal yang kami miliki saat ini adalah dengan berinvestasi kepada pelanggan,” ujar Rainey.
Meskipun demikian, upaya untuk menurunkan harga bahan pangan diperkirakan tidak akan berjalan mulus. Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok pupuk global, mengingat Selat Hormuz sebelumnya merupakan jalur perdagangan pupuk laut dunia yang signifikan, menangani sekitar sepertiga dari total perdagangan tersebut.
Jika terjadi kelangkaan pupuk secara global, biaya produksi pangan dapat meningkat, yang pada akhirnya akan kembali mendorong kenaikan harga bahan makanan.





