KabarDermayu.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengumumkan temuan mengejutkan terkait Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Hampir seluruh kasus kecurangan yang terdeteksi, mencapai 99 persen, ternyata menyasar Program Studi (Prodi) Kedokteran.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, dalam sebuah konferensi pers mengenai SNBT di Jakarta. Ia menegaskan bahwa fokus kecurangan ini sangat spesifik.
Mendiktisaintek menekankan keseriusan pihaknya dalam menangani masalah ini. Identifikasi yang cermat dilakukan untuk mencegah praktik serupa terulang di masa mendatang. Hal ini merupakan prioritas utama dalam menjaga integritas seleksi.
Lebih lanjut, Menteri Brian menyatakan bahwa Kemdiktisaintek tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap segala bentuk kecurangan. Tindakan ini dianggap merugikan peserta lain yang berjuang secara jujur dan mencederai upaya pengembangan karakter bangsa.
“Proses SNBT adalah seleksi nasional. Jika ada yang lulus, berarti ada yang tidak lulus atau tersingkirkan. Kecurangan secara fundamental bertentangan dengan pembangunan pendidikan dan karakter kebangsaan,” ujar Menteri Brian dengan tegas.
Ketua Umum Tim Penanggungjawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok, turut membenarkan data tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa temuan kecurangan tahun lalu mayoritas memang mengarah pada Program Studi Kedokteran, dengan modus utama penggunaan joki.
“Memang benar, data kecurangan yang kami dapatkan tahun lalu menunjukkan hampir 100 persen menyasar Prodi Kedokteran. Mayoritas pelaku yang menggunakan joki dan melakukan kecurangan memang menargetkan program studi tersebut,” jelas Eduart Wolok.
Menyikapi hal ini, berbagai upaya pencegahan telah disiapkan untuk SNBT 2026. Salah satu strategi mitigasi yang diterapkan adalah penempatan peserta dengan minat pada Prodi Kedokteran pada hari pertama dan kedua pelaksanaan ujian, yaitu tanggal 21-22 April.
Penjadwalan ujian di awal waktu ini dirancang sebagai langkah antisipasi kejutan yang mungkin tidak terduga oleh para peserta. Tujuannya adalah untuk meminimalkan celah yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan.
“Oleh karena itu, di tahun ini, pada saat pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), khusus untuk peserta yang memilih Prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi, kami tempatkan di hari pertama dan kedua ujian,” terang Eduart Wolok.
Baca juga: Pertamina Gandeng Komunitas: Pastikan Konsumen Pakai BBM Berkualitas
Panitia SNPMB mencatat total 38 kasus kecurangan selama pelaksanaan SNBT tahun ini. Sebagai sanksi tegas, seluruh pelaku kecurangan akan dimasukkan ke dalam daftar hitam (blacklist). Mereka tidak akan diizinkan lagi untuk mengikuti seleksi masuk di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) manapun di Indonesia.





