Pep Guardiola: 20 Trofi, 865 Poin, Revolusi Liga Inggris

oleh -7 Dilihat
Pep Guardiola: 20 Trofi, 865 Poin, Revolusi Liga Inggris

KabarDermayu.com – Ketika Pep Guardiola resmi bergabung dengan Manchester City pada musim panas 2016, banyak pihak memprediksi Liga Inggris akan menjadi ujian terberat dalam kariernya.

Meskipun ia meraih kesuksesan gemilang bersama Barcelona dan Bayern Munich, Premier League dianggap memiliki karakteristik yang berbeda. Liga ini terkenal dengan intensitasnya yang tinggi, kecepatan permainan, duel fisik yang ketat, dan minim toleransi terhadap sepak bola idealis yang identik dengan gaya permainan Guardiola.

Keraguan pun sempat muncul mengenai apakah filosofi sepak bola Guardiola dapat bertahan dan berkembang di kompetisi Inggris.

Namun, sepuluh tahun kemudian, semua keraguan tersebut justru terhapuskan oleh sejarah kesuksesan yang luar biasa.

Guardiola tidak hanya membawa Manchester City meraih kemenangan. Ia mengubah klub tersebut menjadi kekuatan dominan dalam sepak bola Inggris dan menciptakan salah satu era paling mengesankan dalam sejarah Premier League.

Selama satu dekade, Guardiola telah mempersembahkan total 20 trofi utama. Ia juga mencatatkan persentase kemenangan tertinggi dalam sejarah Premier League dan memecahkan berbagai rekor yang sebelumnya dianggap sulit untuk dijangkau.

Yang lebih mencengangkan, Manchester City di bawah asuhan Guardiola tidak hanya meraih kemenangan, tetapi juga melakukannya dengan gaya bermain yang memukau dunia.

Musim 100 Poin yang Mengubah Segalanya

Jika ada satu musim yang paling menggambarkan dominasi Manchester City era Guardiola, maka musim 2017/2018 adalah jawabannya.

Pada musim tersebut, City tampil layaknya sebuah mesin yang tak terbendung.

Mereka berhasil memenangkan 32 dari 38 pertandingan liga, hanya mengalami dua kekalahan sepanjang musim. Puncak performa mereka terjadi pada pertandingan terakhir melawan Southampton, di mana gol telat Gabriel Jesus memastikan Manchester City mencapai rekor 100 poin.

Angka tersebut terasa luar biasa. Sebelum kedatangan Guardiola, belum pernah ada klub Inggris yang mampu mencapai 100 poin dalam satu musim liga. Bahkan Guardiola sendiri sempat mengakui bahwa rekor tersebut mungkin sulit untuk diulang.

Musim itu juga melahirkan rekor lain: 32 kemenangan dalam satu musim Premier League. Rekor sebelumnya dipegang oleh Chelsea asuhan José Mourinho dengan 30 kemenangan pada musim 2004/2005. Guardiola berhasil memecahkannya.

Lebih dari sekadar kemenangan, City juga meraihnya dengan cara yang impresif. Mereka mencetak 106 gol liga dalam satu musim, sebuah rekor yang masih bertahan hingga kini.

Di lini serang, mereka memiliki amunisi seperti Sergio Agüero, Gabriel Jesus, Raheem Sterling, dan Leroy Sané. Sementara itu, Kevin De Bruyne dan David Silva di lini tengah menyajikan permainan sepak bola yang artistik.

Rata-rata tim mencetak hampir tiga gol per pertandingan. Bagi banyak penggemar sepak bola Inggris, momen inilah yang menyadarkan mereka bahwa Guardiola bukan sekadar pelatih hebat, melainkan sedang membangun sebuah dinasti.

Menghancurkan Liga Inggris

Selama bertahun-tahun, Premier League dikenal sebagai liga paling kompetitif di dunia. Namun, pada musim 2017/2018, Manchester City membuat kompetisi tersebut terlihat timpang.

Mereka berhasil finis dengan selisih 19 poin dari rival sekota, Manchester United. Margin tersebut menjadi selisih juara terbesar dalam sejarah Premier League.

Rekor sebelumnya juga dipegang oleh Manchester United, yang menjadi juara dengan selisih 18 poin pada musim 1999/2000. Sekali lagi, Guardiola berhasil melampauinya.

Yang membuat pencapaian ini semakin luar biasa adalah gaya bermain City. Mereka tidak hanya menunggu lawan membuat kesalahan. City mendominasi penguasaan bola, mengontrol tempo permainan, melakukan pressing tinggi, dan membuat lawan kesulitan untuk bernapas.

Di tangan Guardiola, Manchester City bertransformasi dari klub kaya menjadi mesin sepak bola modern yang paling sempurna di Inggris.

Quadruple Bersejarah

Musim 2018/2019 menjadi bukti bahwa Guardiola belum berhenti menciptakan sejarah. Manchester City berhasil memenangkan Premier League, Piala FA, Carabao Cup, dan Community Shield dalam satu musim.

Belum pernah ada klub Inggris sebelumnya yang mampu meraih keempat trofi domestik tersebut dalam satu musim. Musim itu juga diwarnai persaingan sengit dengan Liverpool yang dilatih oleh Jürgen Klopp. Manchester City akhirnya keluar sebagai juara hanya dengan selisih satu poin.

Namun, Guardiola kembali menunjukkan mentalitas juara timnya. Mereka kemudian menghancurkan Watford dengan skor 6-0 di final Piala FA, memastikan pencapaian quadruple domestik pertama dalam sejarah sepak bola Inggris.

Baca juga: Megawati Terharu Menonton Film Pesta Babi

Empat Gelar Liga Beruntun

Banyak manajer hebat pernah mendominasi Premier League. Namun, tidak ada yang pernah berhasil memenangkan empat gelar liga secara beruntun. Bahkan Sir Alex Ferguson pun tidak pernah mencapainya bersama Manchester United.

Guardiola berhasil melakukannya. Mulai dari musim 2020/2021 hingga 2023/2024, Manchester City selalu keluar sebagai juara Premier League. Empat musim berturut-turut.

Ini bukan sekadar bukti kualitas individu, melainkan simbol konsistensi yang hampir mustahil dijaga di liga seketat Inggris. Setiap musim, lawan berubah, tekanan meningkat, cedera datang, namun City selalu menemukan cara untuk meraih kemenangan.

Puncak Kesempurnaan: Treble dan Raja Dunia

Jika ada satu musim yang dianggap sebagai mahakarya Guardiola di Manchester City, maka musim 2022/2023 adalah jawabannya. City akhirnya berhasil memenangkan UEFA Champions League untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Trofi yang selama bertahun-tahun menjadi obsesi itu akhirnya berhasil diraih setelah mengalahkan Inter Milan di final. Kemenangan ini melengkapi treble bersejarah: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions dalam satu musim.

Namun, Guardiola belum berhenti di situ. Manchester City kemudian memenangkan UEFA Super Cup dan FIFA Club World Cup, menjadikan mereka klub Inggris pertama yang memegang lima trofi utama secara bersamaan. Pada titik tersebut, Manchester City terasa seperti tim yang tidak memiliki kelemahan.

Raja Eropa yang Tak Terkalahkan

Manchester United era Sir Alex Ferguson pernah mencatatkan 25 pertandingan tanpa kekalahan di Liga Champions antara tahun 2007 hingga 2009. Rekor tersebut bertahan selama 15 tahun.

Kemudian Guardiola datang dan memecahkannya. Pada tahun 2024, kemenangan 5-0 atas Sparta Prague membuat Manchester City mencatat 26 pertandingan tanpa kekalahan di Liga Champions. Ini menjadi rekor baru dalam kompetisi tersebut.

Perjalanan tak terkalahkan tersebut dimulai sejak musim treble, di mana City menjuarai Liga Champions tanpa sekalipun mengalami kekalahan.

Guardiola dan Mesin Kemenangan

Selama 10 tahun menangani Manchester City, Guardiola telah memenangkan lebih dari 70 persen pertandingan yang dijalaninya. Angka tepatnya adalah 70,3 persen.

Tidak ada manajer lain dalam sejarah Premier League yang mendekati angka tersebut. Sebagai perbandingan, Sir Alex Ferguson mencatat 65,2 persen kemenangan, Jürgen Klopp 62,5 persen, sementara José Mourinho berada di angka 59,2 persen.

Yang lebih mengesankan lagi, Guardiola mencapai ini bukan dalam satu atau dua musim ajaib, melainkan selama satu dekade penuh.

Manchester City juga telah mengumpulkan 865 poin Premier League di era Guardiola. Mereka memenangkan 21 pertandingan beruntun di semua kompetisi pada tahun 2021, mencatat empat musim dengan raihan minimal 90 poin, serta menjadi tim tandang terbaik dalam sejarah liga dengan 16 kemenangan tandang dalam satu musim. Semua statistik ini terasa seperti angka dari permainan video.

Lebih dari Sekadar Trofi

Namun, warisan terbesar Guardiola sebenarnya bukan hanya angka atau trofi. Ia telah mengubah cara sepak bola Inggris dimainkan.

Sebelum Guardiola datang, banyak yang percaya bahwa sepak bola berbasis penguasaan bola (possession-based) akan sulit berhasil di Premier League. Guardiola membuktikan sebaliknya. Ia menjadikan pembangunan serangan dari lini belakang sebagai standar baru. Ia mengubah peran bek sayap, gelandang bertahan, bahkan penjaga gawang.

Banyak pelatih Premier League setelahnya mulai meniru pendekatan Guardiola. Bahkan para rivalnya dipaksa untuk berevolusi demi bisa mengejar ketertinggalan dari Manchester City.

Dalam 10 tahun, Guardiola tidak hanya membangun tim juara. Ia membangun identitas, budaya, dan standar baru dalam sepak bola Inggris.

Ketika ia meninggalkan Etihad Stadium, Guardiola pergi sebagai pelatih paling sukses dalam sejarah Manchester City. Dan mungkin, sebagai sosok yang telah menghadirkan level sepak bola terbaik yang pernah disaksikan oleh Premier League.