AI Gantikan 7.000 Pekerja Bank: Era Baru Otomatisasi Bank Besar

oleh -8 Dilihat
AI Gantikan 7.000 Pekerja Bank: Era Baru Otomatisasi Bank Besar

KabarDermayu.com – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) kini mulai merambah sektor perbankan, mengubah lanskap operasional perusahaan secara signifikan. Teknologi yang dulunya hanya sebagai pendukung kini semakin mengambil alih berbagai tugas penting.

Banyak perusahaan, termasuk di industri keuangan, tengah menyesuaikan strategi bisnis mereka. Otomatisasi tugas-tugas rutin dan peningkatan investasi pada teknologi menjadi fokus utama.

Salah satu bank besar yang mengambil langkah drastis adalah Standard Chartered. Bank yang berkantor pusat di London ini mengumumkan rencana ambisius untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 7.000 karyawannya hingga tahun 2030.

Menurut laporan Reuters pada Minggu, 1 Juni 2026, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, bank ini juga berupaya memperkuat profitabilitas dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi AI.

Standard Chartered dilaporkan berencana memangkas sekitar 15 persen dari total posisi di fungsi korporatnya. Dengan jumlah karyawan mencapai lebih dari 52.000 orang di fungsi tersebut, lebih dari 7.000 posisi diproyeksikan akan terdampak oleh kebijakan ini.

Chief Executive Officer (CEO) Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa langkah ini bukan semata-mata untuk menekan biaya operasional. Ia menjelaskan bahwa ada penggantian sumber daya manusia dengan nilai lebih rendah melalui investasi modal finansial dan investasi.

“Ini bukan penghematan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti sumber daya manusia yang bernilai lebih rendah dengan modal finansial dan modal investasi yang kami tanamkan,” ujar Winters.

Saat ini, Standard Chartered mempekerjakan hampir 82.000 karyawan di seluruh dunia. Winters menambahkan bahwa pengurangan tenaga kerja akan dilakukan secara bertahap melalui otomatisasi dan penerapan AI.

Baca juga: KPK Akan Panggil Dua Tersangka Kasus Dana CSR BI dan OJK

Sebagian karyawan yang terdampak juga akan diberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan mereka. Tujuannya agar mereka dapat beradaptasi dan menempati posisi-posisi baru yang akan muncul seiring transformasi ini.

“Jadi, bagi mereka yang ingin meningkatkan keterampilan dan melanjutkan karier, kami memberikan setiap kesempatan untuk menempatkan diri pada posisi yang baru,” ungkapnya.

Peningkatan penggunaan AI dalam industri perbankan memang menjadi tren global dalam beberapa tahun terakhir. Banyak lembaga keuangan berlomba-lomba mengintegrasikan teknologi ini untuk berbagai tujuan.

Tujuannya meliputi peningkatan efisiensi operasional, percepatan layanan kepada nasabah, serta pengurangan biaya operasional dalam jangka panjang. Standard Chartered menjadi salah satu bank besar yang secara terbuka mengaitkan strategi efisiensi tenaga kerja dengan pemanfaatan AI.

Menurut CEO Bill Winters, sebagian besar posisi yang akan terdampak berada di pusat operasional atau fungsi back-office bank. Fungsi-fungsi ini tersebar di berbagai negara tempat Standard Chartered beroperasi.

Lokasi-lokasi seperti Chennai dan Bengaluru di India, Kuala Lumpur di Malaysia, serta Warsawa di Polandia disebut sebagai area yang berpotensi terdampak oleh pengurangan ini. AI akan berperan sebagai fasilitator dan pendorong utama dalam transformasi yang sedang dijalankan.

“Tentu saja kami menggunakan AI dalam proses ini dan AI akan menjadi fasilitator serta pendorong utama transformasi tersebut,” jelas Winters.

Langkah Standard Chartered ini sejalan dengan tren yang juga diadopsi oleh institusi keuangan lainnya. Sebagai contoh, Mizuho Financial Group dari Jepang sebelumnya mengumumkan rencana pengurangan hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade ke depan sebagai bagian dari strategi transformasi digital mereka.

Selain fokus pada efisiensi tenaga kerja, Standard Chartered juga mematok target keuangan yang lebih ambisius untuk beberapa tahun mendatang. Bank ini menargetkan tingkat pengembalian modal berwujud (Return on Tangible Equity/ROTE) lebih dari 15 persen pada tahun 2028.

Target tersebut diharapkan meningkat menjadi sekitar 18 persen pada tahun 2030. Untuk mencapai target ini, bank akan memfokuskan diri pada bisnis dengan margin keuntungan yang tinggi.

Prioritas tersebut termasuk peningkatan layanan bagi nasabah kaya (high-net-worth individuals) dan institusi keuangan. Strategi ini diharapkan dapat mendorong profitabilitas bank secara keseluruhan.

Lebih lanjut, Standard Chartered juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih (net new money) menjadi US$200 miliar. Angka ini setara dengan sekitar Rp3.560 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS.

Target penghimpunan dana yang lebih agresif ini kini dipatok untuk tahun 2028, lebih cepat dari target sebelumnya yang ditetapkan pada 2029. Percepatan ini menunjukkan optimisme bank terhadap potensi pertumbuhan di masa depan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, Standard Chartered juga tetap mempersiapkan diri menghadapi berbagai risiko yang mungkin timbul. Pada kuartal pertama tahun 2026, bank menyisihkan dana cadangan sebesar US$190 juta atau sekitar Rp3,38 triliun.

Dana cadangan ini dialokasikan untuk mengantisipasi dampak potensial dari konflik yang terjadi di Timur Tengah. Kesiapan ini mencerminkan kehati-hatian bank dalam mengelola risiko di tengah kondisi global yang dinamis.