KabarDermayu.com – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto, menyuarakan keprihatinannya terkait penunjukan Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Nanik menggantikan Dadan Hindayana, yang sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penetapan Dadan Hindayana sebagai tersangka dilakukan sehari setelah ia dicopot dari jabatannya. Peristiwa ini menjadi sorotan dalam diskusi publik mengenai kepemimpinan di BGN.
Dalam sebuah program televisi nasional, Tiyo Ardianto menyoroti kapasitas Nanik S. Deyang sebagai pimpinan BGN yang baru. Ia berpendapat bahwa rencana Nanik untuk memberdayakan kantin sekolah, yang disampaikan setelah pelantikannya, merupakan langkah yang terlambat.
Menurut Tiyo, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri sudah berjalan kurang lebih selama satu tahun. Dengan banyaknya kantin sekolah yang telah dibangun, fokus pada pemberdayaan kantin baru sekarang dianggap kurang efektif.
“Kepala BGN dicopot, Pak Dadan dicopot diganti Bu Nanik. Tapi kita lihat pidato pertama Bu Nanik tidak ada satu poin transformasional yang disampaikan. Sudah 27 ribu SPPG dibangun baru kantin sekolah diberdayakan. Itu sudah terlambat luar biasa,” ujar Tiyo seperti dikutip dari tayangan YouTube pada Minggu, 7 Juni 2026.
Lebih lanjut, Tiyo juga mengemukakan pandangannya mengenai latar belakang Nanik S. Deyang. Sebelum menjabat sebagai Wakil Kepala BGN dan kemudian Kepala BGN, Nanik diketahui berprofesi sebagai seorang wartawan.
Tiyo menilai bahwa pengalaman profesional Nanik sebelumnya tidak memiliki korelasi langsung dengan tanggung jawab jabatannya saat ini di BGN. Ia menekankan pentingnya kompetensi dan moralitas bagi seorang pejabat publik.
“Sebenarnya kita sudah dihadapkan pada situasi di mana syarat pejabat itu kan dua, kompetensi dan moralitas. Tapi di zamannya Pak Prabowo, kompetensinya tidak ada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya. Bu Nanik itu kalau kita ngomong kompetensinya apa? Beliau adalah seorang wartawan, kebetulan menjadi timses, sempat punya masalah moral, masalah Bu Ratna Sarumpaet yang bikin kebohongan publik. Lalu loyal kepada Pak Prabowo, menjadi wakil kepala BGN, lalu hari ini dipilih jadi kepala BGN,” papar Tiyo.
Pernyataan Tiyo ini kemudian mendapat tanggapan dari Juru Bicara Partai Gerindra, Astrio Feligent, yang juga hadir dalam acara yang sama. Astrio mempertanyakan pandangan Tiyo yang menganggap Nanik tidak kompeten menjadi Kepala BGN hanya karena latar belakang pekerjaannya sebelumnya.
“Jadi menurut Mas, wartawan tidak kompeten?,” tanya Astrio.
Tiyo Ardianto kembali menegaskan pertanyaannya, “Apa hubungannya wartawan dengan pengelolaan gizi anak-anak, Mas Trio? Silakan dijawab.”
Astrio Feligent menjelaskan bahwa untuk menjalankan program makan bergizi gratis ini, seseorang tidak harus berlatar belakang seorang ahli gizi. Menurutnya, yang terpenting adalah kemampuan dalam mengeksekusi program MBG agar tepat sasaran dan memberikan manfaat.
“Nggak, maksud Mas, kalau seorang wartawan tidak punya kompetensi?,” tanya Astrio kembali, mencoba mengklarifikasi.
“Apa hubungannya wartawan dengan ahli gizi dengan Badan Gizi Nasional?,” timpal Tiyo.
“Maaf, dengan segala hormat, tidak perlu untuk menjalankan program BGN harus menjadi ahli gizi,” tegas Astrio.
Tiyo Ardianto menyindir pernyataan Astrio tersebut, “Inilah wajah dari istana kita, bahwa kompetensi memang tidak diperlukan. Terima kasih konfirmasinya, Mas.”
Astrio Feligent mengklarifikasi kembali, “Bukan kompetensi tidak diperlukan, Mas. Tidak perlu background-nya adalah seorang gizi. Yang diperlukan adalah bagaimana menjalankan program ini agar program ini tepat sasaran, memanage supply and chain, mengelola tata kelolanya agar program ini dapat bermanfaat.”
Mendengar penjelasan Astrio, Tiyo Ardianto merasa pernyataannya sebelumnya telah terkonfirmasi. Ia menganggap penjelasan tersebut semakin memperkuat pandangannya mengenai prioritas dalam penunjukan pejabat.
“Ya, ini mengkonfirmasi pernyataan yang saya sampaikan, bahwa kompetensi dan moralitas yang dibutuhkan adalah loyalitas. Terima kasih,” pungkas Tiyo.





