Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Jadi yang Terburuk Ketiga di Dunia

oleh -4 Dilihat
Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Jadi yang Terburuk Ketiga di Dunia

KabarDermayu.com – Kualitas udara di Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026 pagi dilaporkan kembali memburuk, menempatkan ibu kota di peringkat ketiga kota dengan tingkat pencemaran udara terburuk di dunia.

Data yang dirilis oleh situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.05 WIB menunjukkan bahwa Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 161. Angka ini mengindikasikan kualitas udara di Jakarta berada dalam kategori tidak sehat.

Konsentrasi partikel PM2.5 di Jakarta tercatat mencapai 57 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat, terutama kelompok yang sensitif terhadap polusi.

Paparan udara berkualitas buruk tidak hanya berisiko bagi manusia dan hewan yang rentan, tetapi juga dapat memengaruhi tumbuhan dan menurunkan kualitas lingkungan secara keseluruhan.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada level tidak sehat. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah sangat disarankan untuk meminimalkan paparan polutan.

Selain itu, warga juga dianjurkan untuk menutup jendela rumah atau bangunan guna mencegah udara kotor dari luar masuk ke dalam ruangan.

Secara umum, kualitas udara dibagi menjadi beberapa tingkatan. Kategori baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0-50, yang dinilai tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan maupun lingkungan.

Kategori sedang berada pada rentang PM2.5 51-100. Pada level ini, kualitas udara umumnya masih aman bagi manusia, namun dapat memengaruhi tanaman yang sensitif.

Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2.5 sebesar 200-299. Pada level ini, risiko gangguan kesehatan meningkat bagi kelompok masyarakat yang terpapar.

Sementara itu, kategori berbahaya berada pada rentang PM2.5 300-500, yang dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi populasi secara luas.

Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Kamis pagi, Kuwait City, Kuwait menempati posisi pertama dengan AQI 185. Delhi, India, berada di urutan kedua dengan indeks 169.

Jakarta menyusul di posisi ketiga dengan AQI 161. Kota Kinshasa di Republik Demokratik Kongo berada di urutan keempat dengan indeks 160, diikuti Johannesburg, Afrika Selatan, pada angka 156.

Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah mengembangkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS).

Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan prediksi kondisi polusi udara. Tujuannya agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih cepat dan akurat mengenai potensi penurunan kualitas udara.

Pengembangan EWS merupakan bagian dari langkah jangka panjang pemerintah daerah dalam menekan dampak pencemaran udara. Selain itu, sistem ini juga bertujuan mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Keberadaan sistem peringatan dini ini dinilai sangat penting, terutama bagi kelompok rentan. Kelompok ini meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru lainnya.

Melalui informasi prakiraan kualitas udara yang lebih mudah diakses, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif ketika tingkat polusi diprediksi meningkat. Upaya tersebut mencakup penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik di area terbuka, serta membatasi paparan terhadap udara yang tercemar.