Jakarta Masuk 4 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia Saat Idul Adha

oleh -5 Dilihat
Jakarta Masuk 4 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia Saat Idul Adha

KabarDermayu.com – Pada momen perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, kualitas udara di ibu kota Jakarta dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat. Pagi itu, Jakarta bahkan menduduki peringkat keempat sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

Berdasarkan data yang dirilis oleh situs pemantau kualitas udara IQAir pada Rabu, 27 Mei 2026, pukul 05.50 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta tercatat di angka 152. Angka ini mengindikasikan kondisi udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Tingkat kualitas udara ini dapat berdampak negatif bagi manusia, hewan yang sensitif, serta berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan dan menurunkan nilai estetika lingkungan.

Menyikapi kondisi tersebut, IQAir memberikan rekomendasi kepada masyarakat Jakarta. Disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan sebisa mungkin. Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan masker sangat dianjurkan.

Selain itu, menutup jendela rumah juga disarankan untuk mencegah masuknya udara luar yang kotor ke dalam ruangan.

Perlu diketahui, terdapat beberapa kategori tingkat kualitas udara. Kategori baik memiliki rentang PM2.5 antara 0-50, yang berarti tidak memberikan efek negatif bagi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, maupun nilai estetika.

Kategori sedang, dengan rentang PM2.5 51-100, tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, namun dapat memengaruhi tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Selanjutnya, kategori tidak sehat (101-150) dapat berdampak negatif pada kelompok sensitif. Kategori sangat tidak sehat, dengan rentang PM2.5 200-299, dapat merugikan kesehatan sebagian besar populasi yang terpapar.

Sementara itu, kategori berbahaya (300-500) menunjukkan kualitas udara yang dapat menyebabkan dampak kesehatan serius bagi seluruh populasi.

Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk pada waktu tersebut, Jakarta menempati posisi keempat. Peringkat teratas ditempati oleh Lahore, Pakistan, dengan AQI 162. Disusul oleh Delhi, India (155), dan Kinshasa, Republik Demokratik Kongo (152).

Kota-kota lain yang masuk dalam daftar terburuk antara lain Johannesburg, Afrika Selatan, yang berada di urutan kelima dengan AQI 103.

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyiapkan langkah-langkah penanganan cepat untuk mengatasi pencemaran udara, terutama menjelang musim kemarau yang diprediksi berlangsung dari awal Mei hingga Agustus mendatang.

Upaya penanganan yang disiapkan meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara. Selain itu, akan ada pengetatan uji emisi kendaraan bermotor.

Pemprov DKI Jakarta juga memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU). Strategi ini tengah dalam tahap evaluasi mendalam dari berbagai aspek, termasuk tren konsentrasi PM2.5, beban emisi dari setiap sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Menurut Pemprov DKI, penanganan pencemaran udara tidak bisa dilakukan secara parsial oleh satu wilayah saja. Oleh karena itu, diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antar organisasi perangkat daerah.

Baca juga: Hipmi Jaya Dukung Munas XVIII: Provinsi Manapun Siap Gelar

Kolaborasi lintas wilayah, khususnya dengan daerah-daerah penyangga di sekitar Jakarta, juga menjadi kunci penting dalam upaya pengendalian pencemaran udara secara efektif.