KabarDermayu.com – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 di Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, sejumlah 13 ulama terkemuka berkumpul. Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan masukan dan pandangan khusus terkait agenda penting organisasi tersebut.
Adapun ke-13 ulama yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Manshur, KH. A. Kafabihi Mahrus, KH. Ma’ruf Amin, KH. Said Aqil Siroj, KH. R. Muhammad Khalil As’ad, KH. Abdullah Ubab Maimoen, KH. Ali Akbar Marbun, KH. Ubaidillah Shodaqoh, KH. Ali Kholil, KH. Asep Saifuddin Chalim, KH. Ah. Syatibi Hambali, dan KH. Mas’ud Masduqi.
Fokus utama pertemuan para ulama ini adalah membahas manuver yang dinilai berpotensi membahayakan NU. Manuver tersebut datang dari Sekjen PBNU sekaligus Ketua Panitia Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul.
Para ulama mengkhawatirkan adanya materi-materi yang dimasukkan oleh Gus Ipul. Materi-materi tersebut dinilai dapat mengurangi, menggeser, bahkan menjauhkan hubungan historis NU dengan para Masyayikh dan pondok pesantren.
KH Fahim Royani, atau yang akrab disapa Gus Fahim, menjelaskan bahwa forum pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Ia menekankan adanya semangat ukhuwah Islamiyah dan tanggung jawab kejam’iyahan yang kuat di antara para peserta.
Gus Fahim menyatakan, “Setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, serta dengan memohon pertolongan Allah SWT demi menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama para kiai utama berkumpul di sini.” Pernyataannya ini disampaikan dalam sebuah keterangan pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurut Gus Fahim, hasil dari pertemuan tersebut merumuskan tiga poin seruan penting. Poin pertama, para masyayikh menyampaikan harapan dan permohonan agar penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab.
Lebih lanjut, forum tersebut diharapkan tidak membahas atau menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh serta pondok pesantren.
Dalam konteks ini, para masyayikh secara spesifik meminta agar pengaturan mengenai syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap mempertahankan karakter AHWA. Karakter yang dimaksud adalah sebagai forum keulamaan yang mengutamakan kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, serta pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Oleh karena itu, usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang mengharuskan pengurus syuriyah dan didasarkan pada representasi kewilayahan harus dibatalkan. Demikian pula, usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik juga diminta untuk dibatalkan.
“Kedua, para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama. Pesantren adalah pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah,” ujar Gus Fahim.
Oleh sebab itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren. Hal ini dianggap sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan NU dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Poin ketiga dari seruan para masyayikh adalah imbauan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU. Mereka diminta untuk senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab bermusyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.
“Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” tegas Gus Fahim.
Beliau menutup pernyataannya dengan doa, “Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Nahdlatul Ulama, mempersatukan hati seluruh warganya, membimbing para pemimpinnya, serta melimpahkan keberkahan kepada para ulama, masyayikh, santri, dan seluruh pengabdi jam’iyah.”





