Kiai Abbas Buntet Turun Gunung: 14 Anak Disunat, 72 Yatim Berkah Indramayu

oleh -4 Dilihat
Kiai Abbas Buntet Turun Gunung: 14 Anak Disunat, 72 Yatim Berkah Indramayu

KabarDermayu.com – Suasana haru dan khidmat menyelimuti halaman Masjid Jame Al-Istiqomah, Kabupaten Indramayu, pada Senin 29 Juni 2026. Perhelatan akbar yang dinanti-nantikan oleh banyak kalangan ini menandai kehadiran seorang tokoh agama kharismatik, Kiai Abbas Buntet, yang secara khusus datang dari pesantrennya untuk memberikan berkah. Kegiatan ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah momentum yang membawa kebahagiaan ganda bagi masyarakat sekitar.

Ratusan warga berkumpul, menyaksikan sebuah peristiwa penuh makna. Di tengah keramaian yang hangat, sebanyak 14 anak laki-laki menjalani prosesi khitan atau sunat. Sunat merupakan salah satu syariat Islam yang memiliki banyak manfaat kesehatan dan menjadi penanda penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Kehadiran Kiai Abbas Buntet menjadi nilai tambah tersendiri, memberikan dukungan moril dan spiritual bagi anak-anak yang menjalani prosesi ini.

Lebih dari sekadar khitan massal, acara ini juga menjadi ajang berbagi kebahagiaan bagi anak-anak yatim. Sebanyak 72 anak yatim piatu turut hadir dan menerima santunan berupa rezeki yang telah disiapkan. Pemberian santunan ini merupakan wujud kepedulian sosial yang mendalam, memastikan bahwa anak-anak yang kurang beruntung juga merasakan kehangatan dan perhatian dari masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan di Masjid Jame Al-Istiqomah ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Peran Kiai Abbas Buntet dalam memberikan restu dan kehadirannya secara langsung menjadi daya tarik utama yang mengumpulkan massa. Kehadirannya tidak hanya memberikan motivasi spiritual, tetapi juga menegaskan pentingnya tradisi keagamaan dan sosial dalam mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Kiai Abbas Buntet dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka yang memiliki pengaruh besar, khususnya di lingkungan pesantren. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Buntet, sebuah institusi pendidikan Islam yang telah berdiri lama dan melahirkan banyak santri berprestasi. Keputusannya untuk “turun gunung” atau meninggalkan pesantrennya untuk hadir di Indramayu menunjukkan betapa pentingnya acara ini baginya dan betapa besar perhatiannya terhadap masyarakat.

Tradisi khitan massal yang dibarengi dengan santunan anak yatim telah menjadi agenda rutin di berbagai daerah, sebagai upaya untuk meringankan beban masyarakat sekaligus menjalankan ajaran agama. Di Indramayu, acara ini menjadi semakin istimewa dengan kehadiran tokoh agama sekelas Kiai Abbas Buntet. Hal ini memberikan nuansa spiritual yang lebih kental dan rasa aman bagi para orang tua yang anaknya menjalani khitan.

Prosesi khitan bagi anak laki-laki memiliki makna filosofis dan praktis yang mendalam dalam ajaran Islam. Secara spiritual, khitan dipandang sebagai salah satu cara untuk mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari sisi kesehatan, khitan terbukti mencegah berbagai penyakit dan menjaga kebersihan organ vital. Bagi anak-anak yang menjalani, momen ini seringkali menjadi titik balik menuju kedewasaan.

Sementara itu, pemberian santunan kepada anak yatim piatu mencerminkan nilai luhur kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah SAW sendiri sangat menekankan pentingnya menyantuni anak yatim. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda, “Sebaik-baik rumah di kalangan kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan buruk.”

Kehadiran 72 anak yatim dalam acara ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat Indramayu akan pentingnya berbagi. Rezeki yang mereka terima, sekecil apapun, diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memberikan kebahagiaan di momen tersebut. Hal ini juga menjadi pengingat bagi semua pihak untuk terus memberikan perhatian dan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.

Acara di Masjid Jame Al-Istiqomah tidak hanya dihadiri oleh anak-anak yang dikhitan dan para penerima santunan, tetapi juga oleh orang tua, keluarga besar, tokoh masyarakat, dan para santri dari berbagai pondok pesantren. Suasana kebersamaan dan keguyuban sangat terasa, menciptakan ikatan sosial yang kuat di antara seluruh hadirin.

Raut wajah gembira terpancar dari anak-anak yang telah selesai menjalani khitan. Mereka saling bercengkerama, berbagi cerita, dan merasakan kelegaan setelah melewati prosesi yang mungkin sempat membuat mereka sedikit cemas. Para orang tua pun terlihat lega dan bersyukur atas kelancaran acara serta kesehatan anak-anak mereka.

Di sisi lain, anak-anak yatim yang menerima santunan menunjukkan ekspresi bahagia yang tulus. Senyum mereka merekah saat menerima bingkisan dan santunan. Momen ini menjadi pengingat bahwa kebaikan sekecil apapun dapat membawa dampak besar bagi kehidupan mereka.

Peran Kiai Abbas Buntet dalam acara ini sangatlah krusial. Beliau tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan, tetapi juga sebagai pemberi spirit dan doa. Kehadirannya menjadi simbol keberkahan dan penguat bagi seluruh rangkaian acara. Para jamaah dan warga sangat menghormati beliau, dan kesempatan untuk bersilaturahmi langsung dengan Kiai Abbas Buntet menjadi sebuah keistimewaan tersendiri.

Masjid Jame Al-Istiqomah, sebagai lokasi acara, juga memainkan peran penting. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang menghubungkan antara nilai-nilai spiritual dengan praktik kehidupan bermasyarakat. Keberadaannya yang strategis memudahkan akses bagi warga untuk hadir dan berpartisipasi.

Secara keseluruhan, kegiatan yang dilaksanakan pada Senin 29 Juni 2026 di Indramayu ini bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah perwujudan nyata dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan pentingnya ibadah, kebersihan diri, kepedulian sosial, dan kebersamaan. Dengan kehadiran Kiai Abbas Buntet, acara ini semakin bermakna dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh masyarakat yang terlibat.