Bupati Purwakarta Cabut Lagu yang Menuai Kritik

oleh -8 Dilihat
Bupati Purwakarta Cabut Lagu yang Menuai Kritik

KabarDermayu.com – Lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang berjudul ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’ menuai polemik dan mendapatkan banyak kritik dari berbagai pihak.

Lagu tersebut dikecam karena dinilai mengandung unsur yang menyinggung dan melecehkan kaum perempuan. Hal ini menimbulkan kegelisahan di masyarakat luas.

Menanggapi banyaknya kecaman yang datang, Bupati Purwakarta, yang akrab disapa Om Zein, mengambil langkah tegas. Ia memutuskan untuk menghapus video klip lagu tersebut dari semua platform media sosial pribadinya.

Keputusan untuk menghapus lagu tersebut dari media sosial diumumkan langsung oleh Bupati Purwakarta melalui akun Instagram miliknya. Pernyataan ini dirilis pada Jumat, 3 Juli 2026.

Dalam sebuah video yang diunggahnya, Om Zein menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Ia menjelaskan bahwa lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’ sebenarnya diciptakan pada tahun 2020 dan memiliki makna personal yang bercerita tentang dirinya sendiri.

Om Zein menegaskan bahwa niatnya saat menciptakan lagu tersebut sama sekali tidak untuk merendahkan atau mendiskreditkan pihak mana pun. Ia berharap masyarakat dapat memahami konteks penciptaan lagu tersebut.

Namun demikian, ia menyadari bahwa lirik dan syair dalam lagu tersebut dapat menimbulkan persepsi yang berbeda di kalangan pendengar. Jika ada pihak yang merasa tersinggung atau dirugikan, Om Zein menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

Ia kembali menekankan bahwa tidak ada maksud tersembunyi untuk mendiskreditkan siapa pun melalui karya musiknya tersebut. Permintaan maaf ini diucapkan dengan penuh kesadaran atas dampak yang ditimbulkan.

Di akhir pernyataannya, Om Zein kembali mengungkapkan rasa terima kasih atas berbagai kritik yang telah diberikan oleh masyarakat. Ia memandang kritik tersebut sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang yang berharga.

Om Zein meyakini bahwa setiap masukan, termasuk kritik pedas sekalipun, merupakan wujud perhatian dan kepedulian dari masyarakat, tokoh, atau siapa pun yang peduli terhadap dirinya. Ia menghargai setiap pengingat yang diberikan.

Pernyataan maaf ini ditutup dengan ucapan terima kasih dan salam khas Sunda, “Sampurasun Wassalamuailaikum,” menandakan harapan akan adanya pengertian dan penyelesaian yang baik.