KabarDermayu.com – Ancaman kekeringan yang melanda lahan pertanian di Kabupaten Indramayu menemukan titik terang berkat kolaborasi strategis antara PT Pertamina EP dan Kementerian Pertanian (Kementan). Upaya penyelamatan ini difokuskan pada 427 hektare sawah tadah hujan di Desa Jatimunggul, Kecamatan Terisi, yang sebelumnya terancam gagal panen akibat minimnya pasokan air.
Kondisi darurat pangan sempat menghantui Desa Jatimunggul ketika sebagian besar lahan pertanian, khususnya yang mengandalkan air hujan, mengalami puso. Tercatat, sekitar 80 hektare sawah dipastikan tidak dapat diselamatkan karena ketiadaan air saat musim tanam tiba. Situasi ini memicu keprihatinan mendalam mengingat pentingnya sektor pertanian bagi ketahanan pangan masyarakat setempat.
Menyadari urgensi permasalahan tersebut, Pertamina EP, melalui salah satu asetnya di wilayah tersebut, bergerak cepat menjalin sinergi dengan Kementan. Kolaborasi ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga dirancang untuk memberikan solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin ekstrem.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penyediaan infrastruktur penunjang kebutuhan air bagi lahan pertanian. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan dukungan program pemerintah, Pertamina EP turut berkontribusi dalam revitalisasi dan pembangunan sistem irigasi yang lebih memadai. Hal ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan air yang stabil, terutama di musim kemarau.
Dukungan yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari rehabilitasi saluran irigasi yang ada hingga pembangunan embung atau waduk kecil yang berfungsi sebagai tampungan air. Selain itu, edukasi dan pendampingan teknis kepada para petani juga menjadi bagian integral dari program ini. Para petani diajak untuk mengadopsi teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan, serta teknik pengelolaan air yang baik.
Kepala Desa Jatimunggul, dalam sebuah kesempatan, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas perhatian dan bantuan yang diberikan oleh Pertamina EP dan Kementan. Ia mengakui bahwa tanpa intervensi ini, nasib para petani di desanya akan semakin sulit. “Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina EP dan Kementan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama bagi 427 hektare sawah yang tadinya terancam gagal panen. Ini adalah harapan baru bagi kami para petani,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala Desa Jatimunggul menjelaskan bahwa mayoritas petani di desanya mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Ketergantungan pada curah hujan inilah yang membuat mereka rentan terhadap perubahan iklim dan musim kemarau yang semakin panjang dan tidak menentu. “Dengan adanya perbaikan irigasi dan embung ini, kami berharap bisa lebih mandiri dalam menghadapi kekeringan,” tambahnya.
Kolaborasi antara sektor swasta seperti Pertamina EP dan instansi pemerintah seperti Kementan ini menjadi model yang sangat baik dalam upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Sinergi semacam ini menunjukkan bahwa dengan kerja sama yang solid, berbagai tantangan, termasuk yang berkaitan dengan perubahan iklim dan ketersediaan pangan, dapat diatasi secara efektif.
Pertamina EP, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor energi, memiliki tanggung jawab sosial yang besar terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Program-program CSR yang dijalankan, seperti yang terlihat di Desa Jatimunggul, merupakan wujud komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Kementerian Pertanian terus berupaya mendorong inovasi dan adaptasi dalam sektor pertanian untuk menghadapi tantangan global. Program-program seperti ini sejalan dengan visi Kementan untuk mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia yang kuat dan berkelanjutan.
Dampak positif dari program penyelamatan sawah ini tidak hanya dirasakan oleh para petani secara langsung, tetapi juga akan berdampak luas pada perekonomian lokal. Dengan terselamatkannya ratusan hektare lahan pertanian, produksi padi di Indramayu diharapkan dapat terjaga, pasokan pangan untuk masyarakat tetap stabil, dan kesejahteraan para petani pun akan meningkat.
Masa depan pertanian di Desa Jatimunggul kini tampak lebih cerah. Upaya penyelamatan 427 hektare sawah tadah hujan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak dapat menghasilkan solusi yang transformatif dan berkelanjutan bagi sektor pertanian Indonesia.





