KabarDermayu.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menyelenggarakan Risk and Governance Summit (RGS) 2026. Acara ini dirancang sebagai platform strategis untuk memperkuat tata kelola di sektor industri jasa keuangan, demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
RGS 2026 bertujuan untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk regulator, pelaku industri, asosiasi profesi, dan pihak terkait lainnya. Diskusi akan berfokus pada perkembangan terkini dan praktik terbaik dalam bidang tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan atau yang dikenal sebagai *governance, risk, and compliance* (GRC).
Acara ini merupakan agenda tahunan OJK yang diselenggarakan bersama lembaga dan asosiasi profesi di bidang GRC. RGS menjadi puncak dari serangkaian forum yang didedikasikan untuk penguatan GRC dan penegakan integritas di sektor jasa keuangan.
Sophia Wattimena, Ketua Dewan Audit OJK, menekankan pentingnya melihat tata kelola dalam konteks ekosistem yang lebih luas. “Kalau kita bicara masalah *governance*, kita perlu juga melihat konteks dan ekosistemnya,” ujarnya di Jakarta, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Dengan mengusung tema “Future-Ready Governance for Sustainable Growth and National Prosperity”, RGS 2026 akan menyoroti peran transparansi dan etika dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta kemakmuran nasional. Acara utama dijadwalkan akan berlangsung pada 14 Juli 2026.
Untuk memperkaya diskusi, RGS 2026 akan menghadirkan praktisi dan pakar terkemuka, baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka akan berbagi pengalaman dan wawasan mengenai tren terbaru dalam tata kelola, yang diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi penguatan tata kelola di Indonesia.
Pembahasan dalam forum ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengevaluasi praktik dan perkembangan kebijakan tata kelola di tingkat internasional, serta mengidentifikasi relevansinya bagi konteks Indonesia. Hal ini penting untuk memastikan bahwa Indonesia mampu mengantisipasi dan mengadopsi praktik terbaik yang ada. “Apakah unsur ini sudah kita antisipasi, sudah kita ada atau belum. Itu kita juga belajar,” ungkap Sophia.
RGS 2026 akan dibagi menjadi dua sesi utama yang saling melengkapi. Sesi pertama, bertajuk “Strategic Transparency: Redefining Trust and Long-Term Organizational Value”, akan mendalami isu-isu krusial seperti transparansi strategis, manajemen risiko yang efektif, akuntabilitas, serta peran vital audit internal dalam membangun kepercayaan dan nilai jangka panjang bagi organisasi.
Sementara itu, sesi kedua, dengan tema “Ethics in Action: Building a Values-Driven Culture for Sustainable Performance”, akan berfokus pada implementasi tata kelola yang berlandaskan etika. Sesi ini juga akan membahas strategi membangun budaya organisasi yang kuat dan berorientasi pada nilai-nilai luhur, guna mendukung pencapaian kinerja yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya pengumpulan masukan, OJK akan menyebarkan survei atau kuesioner kepada para peserta di akhir kegiatan. Hasil survei ini akan dikompilasi dan diserahkan kepada jajaran OJK serta asosiasi yang relevan di sektor keuangan. “Nanti kita akan kumpulkan masukan dari para audiens. Masukan itu akan kita kompilasikan, kita sampaikan kepada kepala eksekutif dan juga asosiasi,” jelas Sophia.
Sophia menambahkan, masukan dari peserta sangat berharga untuk mengidentifikasi area tata kelola yang masih memerlukan penguatan, baik dari sisi regulasi maupun implementasi di lapangan. “Dengan mengombinasikan semua unsur ini, nanti kita bisa mendapatkan masukan, apa misalnya ada pengaturan yang perlu kita perkuat. Atau kalau pengaturannya sudah ada, yang mana penguatan implementasinya,” tuturnya.
Penyelenggaraan RGS 2026 ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan “Road to RGS” yang telah berlangsung sepanjang tahun. Rangkaian acara tersebut mencakup berbagai forum penguatan fungsi GRC, pelatihan khusus mengenai anti-fraud, pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme (APU-PPT), manajemen risiko siber, kegiatan edukasi di lingkungan kampus, hingga kompetisi karya inovasi.





