KabarDermayu.com – Indonesia kini semakin agresif dalam memposisikan diri sebagai pemain utama dalam ekonomi hijau global melalui optimalisasi perdagangan kredit karbon. Langkah strategis ini ditegaskan oleh Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim S. Djojohadikusumo, dalam ajang Indonesia-Thailand Business Forum yang diselenggarakan di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Dalam forum tersebut, Hashim secara terbuka menawarkan peluang kolaborasi kepada para pelaku bisnis asal Thailand untuk memanfaatkan pasar karbon Indonesia. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya sistematis pemerintah untuk memperkuat sinergi bilateral, khususnya dalam mengakselerasi transisi energi dan pemenuhan target pengurangan emisi gas rumah kaca yang menjadi perhatian dunia saat ini.
Landasan Regulasi yang Matang
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa partisipasi dalam pasar karbon internasional memerlukan fondasi hukum yang kuat. Hashim mengungkapkan bahwa Indonesia telah berhasil mengesahkan serangkaian perundang-undangan yang dirancang khusus untuk merespons dinamika kebijakan iklim global. Regulasi ini tidak hanya menjadi instrumen kepatuhan, tetapi juga alat untuk meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor asing.
“Salah satu pencapaian pemerintah saat ini adalah kita telah berhasil meloloskan perundang-undangan untuk memenuhi persyaratan dan tantangan dunia yang terus berubah, khususnya terkait iklim, kebijakan iklim, dan perubahan iklim,” ujar Hashim di hadapan para delegasi bisnis.
Membuka Akses Bagi Industri Thailand
Pasar karbon yang dikembangkan Indonesia menawarkan solusi konkret bagi perusahaan internasional yang memiliki kewajiban untuk menyeimbangkan (offset) jejak emisi mereka. Hashim menekankan bahwa perusahaan-perusahaan asal Thailand, terutama yang bergerak di sektor manufaktur, kini memiliki akses lebih mudah untuk memperoleh kredit karbon melalui mekanisme resmi yang telah disiapkan oleh pemerintah.
Strategi ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi perusahaan Thailand untuk memenuhi standar keberlanjutan global dengan memanfaatkan potensi sumber daya karbon yang dimiliki Indonesia. Dengan adanya pasar yang terstruktur, perusahaan-perusahaan tersebut dapat melakukan transaksi secara transparan, yang pada akhirnya akan memperkuat hubungan dagang antara kedua negara di sektor hijau.
Kolaborasi Ekonomi Hijau
Selain fokus pada kredit karbon, Indonesia-Thailand Business Forum juga menjadi platform untuk mendiskusikan kerja sama ekonomi yang lebih luas. Pemerintah Indonesia mendorong agar dunia usaha dari kedua negara dapat meningkatkan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk pengembangan energi terbarukan dan penerapan kebijakan bisnis berkelanjutan.
Adapun beberapa poin penting dari pengembangan pasar karbon ini meliputi:
- Instrumen Pengurangan Emisi: Kredit karbon berfungsi sebagai alat untuk menekan laju emisi gas rumah kaca nasional sekaligus mendukung target internasional.
- Investasi Hijau: Menjadikan Indonesia sebagai destinasi investasi bagi perusahaan global yang berkomitmen pada net zero emission.
- Sinergi Bilateral: Mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Thailand melalui pendekatan ekonomi ramah lingkungan yang saling menguntungkan.
Langkah ini mencerminkan komitmen serius Indonesia dalam memanfaatkan isu perubahan iklim sebagai peluang ekonomi. Dengan mengundang keterlibatan aktif dari negara tetangga seperti Thailand, Indonesia tidak hanya memperkuat posisi tawar di pasar global, tetapi juga membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan komitmen pelestarian lingkungan.
Ke depannya, diharapkan kolaborasi ini dapat terus berkembang, tidak hanya pada sektor perdagangan karbon, tetapi juga dalam pertukaran teknologi dan inovasi ramah lingkungan yang relevan dengan kebutuhan industri di kawasan Asia Tenggara.





