Proposal Terbaru Iran yang Membuat AS Resah

by -5 Views
Proposal Terbaru Iran yang Membuat AS Resah

KabarDermayu.com – Upaya untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Iran kembali menemui kendala. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menolak proposal terbaru yang diajukan oleh Teheran.

Seorang pejabat Amerika Serikat yang mengetahui secara mendalam pembahasan internal di Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump merasa tidak puas. Ketidakpuasan ini timbul karena Iran mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda hingga konflik berakhir.

Menurut sumber tersebut, Donald Trump menginginkan isu nuklir menjadi topik pembahasan sejak awal perundingan. Hal ini berbeda dengan usulan Iran yang menempatkannya sebagai tahap lanjutan.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada hari Selasa, Trump secara tersirat menyinggung kondisi internal yang sedang dihadapi Iran. Ia menyatakan, “Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘Keadaan Runtuh’. Mereka ingin kami ‘Membuka Selat Hormuz’ sesegera mungkin, karena mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!).”

Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai bagaimana Iran menyampaikan pesan tersebut kepada Amerika Serikat. Teheran juga belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump tersebut.

Gedung Putih sendiri telah mengkonfirmasi bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengadakan pertemuan dengan tim keamanan nasionalnya pada hari Senin. Pertemuan tersebut membahas proposal terbaru yang diajukan oleh Iran.

“Proposal tersebut sedang dalam proses pembahasan,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada para wartawan saat konferensi pers pada hari Senin.

“Saya tidak ingin mendahului presiden atau tim keamanan nasionalnya. Yang akan saya ulangi adalah bahwa garis merah presiden sehubungan dengan Iran telah dibuat sangat, sangat jelas, tidak hanya kepada publik Amerika, tetapi juga kepada mereka,” tambahnya, menekankan ketegasan sikap AS.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali dialog antara Washington dan Teheran. Upaya ini dilakukan setelah berminggu-minggu negosiasi yang gagal dan eskalasi konflik.

Trump sejatinya tidak secara langsung menolak proposal tersebut. Namun, ia menilai Iran belum menunjukkan itikad baik yang memadai dalam negosiasi. Hal ini terutama terlihat dari keengganan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium atau berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Teheran menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Namun, ia juga menekankan bahwa perjanjian apa pun yang dicapai harus secara definitif mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

“Kita harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat… secara definitif mencegah mereka untuk bergegas menuju senjata nuklir kapan pun,” ujarnya, menegaskan prioritas keamanan AS.

Di sisi lain, juru bicara militer Iran sebelumnya telah menyampaikan kepada media pemerintah bahwa Republik Islam tidak menganggap perang telah usai.

Sejak konflik pecah pada tanggal 28 Februari, Iran telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap hampir seluruh pelayaran di Selat Hormuz, kecuali untuk kapal-kapal yang mereka miliki. Selat ini merupakan jalur yang sangat vital bagi pasokan energi dunia.

Baca juga di sini: Paripurna DPRD Indramayu Bahas LKPJ Bupati 2025, Dihadiri Forkopimda dan OPD

Pada bulan yang sama, Amerika Serikat mulai menerapkan blokade terhadap kapal-kapal Iran, yang semakin memperkeruh situasi.

Harapan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian semakin memudar setelah Trump pada pekan lalu memutuskan untuk membatalkan kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner, ke Pakistan. Pakistan sendiri direncanakan menjadi mediator dalam konflik ini.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan telah melakukan kunjungan bolak-balik ke Islamabad sebanyak dua kali selama akhir pekan. Tujuannya adalah untuk mendorong jalur diplomasi guna meredakan ketegangan.

Sejumlah pejabat dan analis Iran mengemukakan bahwa dinamika internal dalam kepemimpinan Teheran turut memengaruhi sikap negosiasi yang cenderung keras. Setelah beberapa tokoh politik dan militer senior Iran tewas dalam serangan yang diduga dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, struktur kekuasaan di Teheran dinilai tidak lagi memiliki satu figur ulama penengah yang dominan.

Disebutkan pula bahwa tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang, serta pengangkatan putranya yang terluka, Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi, telah memberikan pengaruh yang lebih besar kepada para komandan garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam.

Proposal Terbaru Iran

Para pejabat senior Iran, yang berbicara secara anonim kepada kantor berita Reuters, mengungkapkan bahwa proposal yang dibawa oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi ke Islamabad mengusulkan sebuah perundingan yang dilakukan secara bertahap.

Tahap pertama dari proposal ini adalah penghentian perang. Hal ini harus disertai dengan jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan memulainya kembali. Setelah tahap ini tercapai, negosiasi akan difokuskan pada masalah blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran.

Baru pada tahap berikutnya, pembahasan akan merambah ke isu-isu lain. Ini termasuk sengketa lama yang belum terselesaikan mengenai program nuklir Iran. Dalam konteks ini, Teheran menginginkan pengakuan dari Amerika Serikat atas haknya untuk memperkaya uranium.

Skema negosiasi yang diusulkan ini dinilai mengingatkan pada kesepakatan nuklir Iran tahun 2015. Kesepakatan tersebut dibuat antara Iran dengan Amerika Serikat dan beberapa negara lain, yang secara ketat membatasi program nuklir Teheran.

Donald Trump sebelumnya telah menarik Amerika Serikat secara sepihak dari kesepakatan tersebut pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

Kini, Trump menghadapi tekanan domestik yang signifikan untuk mengakhiri perang yang dinilai tidak populer di kalangan masyarakat Amerika. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan publik terhadap Trump mengalami penurunan menjadi 34 persen, dari sebelumnya 36 persen.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekecewaan warga Amerika terhadap biaya hidup yang semakin tinggi dan konflik yang berkepanjangan.