Keluarga Dokter Magang FK Unsri Buka Suara Soal Dugaan Kematian Akibat Beban Kerja

oleh -6 Dilihat
Keluarga Dokter Magang FK Unsri Buka Suara Soal Dugaan Kematian Akibat Beban Kerja

KabarDermayu.com – Dunia medis Indonesia kembali dirundung duka atas berpulangnya seorang dokter muda peserta program internship (magang) dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri), dr. Myta Aprilia Azmy. Almarhumah menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan intensif di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang.

Kematian dr. Myta sontak menjadi perhatian publik. Muncul dugaan bahwa beban kerja berlebih selama masa internship turut berkontribusi pada penurunan kondisi kesehatannya, meskipun penyebab pasti kematian masih menunggu hasil investigasi resmi.

Keluarga almarhumah angkat bicara mengenai dugaan tersebut. Sepupu dr. Myta, dr. Febri, mengungkapkan bahwa sebelum jatuh sakit, dr. Myta sempat mengeluhkan jadwal kerja yang sangat padat.

“Dr. Myta memang sempat, sebelum sakit, pernah sekilas menelepon ke omnya, dr. Ismet, bahwa jam jaganya cukup padat. Itu saja informasi yang kami dapatkan saat itu,” ujar dr. Febri dalam sebuah wawancara di tvOne pada Minggu, 3 Mei 2026.

Namun demikian, pihak keluarga mengaku belum memiliki gambaran utuh mengenai kondisi kerja dr. Myta selama bertugas di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Kabar mengenai penurunan kesehatannya baru mereka terima saat kondisinya sudah dalam keadaan serius.

Menurut penuturan keluarga, dr. Myta sempat menjalani perawatan selama kurang lebih enam hari di rumah sakit Kuala Tungkal. Setelah itu, ia dirujuk ke RS Raden Mataher Jambi. Pada tahap awal perawatan di Jambi, bahkan sempat disarankan untuk menjalani rawat jalan.

Kondisinya kemudian dilaporkan memburuk setibanya di Palembang.

Baca juga di sini: An Se Young Pimpin Korea Selatan di Piala Uber 2026

“Namun, saat kembali ke Palembang, Myta mengalami sesak napas hebat dan akhirnya dibawa ke ICU RSUP Dr. Muhammad Husein. Sekitar 3 hari dirawat, Myta dinyatakan meninggal dunia oleh tim rumah sakit,” beber dr. Febri, perwakilan keluarga korban.

Lebih lanjut, dr. Febri menegaskan bahwa dr. Myta dinyatakan dalam kondisi sehat sebelum memulai program internship.

“Pada saat skrining awal sebelum penempatan di Jambi, Myta dinyatakan fit dan siap mengikuti program internship oleh Kementerian Kesehatan,” jelasnya.

Dugaan Overwork dan Investigasi Kemenkes

Kasus ini semakin menarik perhatian setelah Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) mengambil langkah dengan melaporkannya ke Kementerian Kesehatan. Ketua Umum IKA FK Unsri, Achmad Junaidi, menyatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan penanganan kasus ini kepada pemerintah pusat untuk dilakukan investigasi secara menyeluruh.

“Prosesnya sudah kami laporkan ke pusat. Nanti Kementerian Kesehatan yang akan melakukan investigasi, jadi kita tunggu hasilnya seperti apa,” ujar Junaidi, dikutip dari Antara.

IKA FK Unsri juga menyoroti adanya dugaan beban kerja berlebih. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa jadwal jaga malam tetap dijalani meskipun kondisi kesehatan dokter internship tersebut menurun. Meskipun demikian, Junaidi menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti kematian, mengingat mereka tidak terlibat langsung dalam penanganan medis.

“Kalau penyebabnya silakan ditanyakan ke dokter yang merawat. Informasinya ada dugaan infeksi paru-paru, tetapi kami tidak tahu persis karena tidak menangani langsung,” tegasnya.

Selain dugaan beban kerja berlebih, isu mengenai perundungan di lingkungan kerja juga turut mencuat dan rencananya akan menjadi bagian dari investigasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.

Keluarga Dukung Investigasi

Di tengah suasana duka yang mendalam, keluarga dr. Myta menyatakan dukungan penuh terhadap langkah yang diambil oleh IKA FK Unsri dan Kementerian Kesehatan untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Beliau ini memang jadi tumpuan, diharap-harapkan benar tidak lama lagi akan menyelesaikan profesinya sebagai dokter internship dan menjadi dokter umum. Kami keluarga besar mendukung apa yang dilakukan oleh Ikatan Keluarga Alumni UNSRI untuk melakukan investigasi dari kasus Myta ini,” ujar dr. Febri.

Ia menambahkan bahwa saat ini pihak keluarga masih fokus pada proses berduka dan belum mengambil langkah hukum lebih lanjut. Mereka memilih untuk menunggu hasil investigasi resmi dari Kementerian Kesehatan.

“Sampai saat ini, karena kami masih dalam suasana duka yang mendalam, kami belum mengambil langkah tersebut. Untuk langkah selanjutnya, kami masih menunggu hasil investigasi tersebut,” beber dr. Febri.

Dalam penjelasan pihak keluarga, dr. Myta telah memulai program internship sejak Agustus 2025. Ia seharusnya menyelesaikan masa tugasnya pada Agustus 2026, yang berarti hanya tersisa sekitar tiga bulan lagi sebelum resmi menyandang status sebagai dokter umum.

Kepergian dr. Myta di fase akhir perjuangannya ini tentu saja menambah luka mendalam bagi keluarga serta komunitas medis secara keseluruhan.