Perang Dingin di Selat Hormuz: Proyek Trump Picu Ketegangan Baru

oleh -4 Dilihat
Perang Dingin di Selat Hormuz: Proyek Trump Picu Ketegangan Baru

KabarDermayu.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada Senin, 4 Mei 2026. Situasi memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran akan runtuhnya gencatan senjata yang selama ini rapuh.

Bentrok terbaru ini berpusat di sekitar Selat Hormuz. Jalur vital bagi perdagangan energi dunia ini kini praktis lumpuh akibat blokade dan aksi militer yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Laporan menyebutkan adanya serangan rudal dan drone yang menghantam sejumlah target, termasuk kapal dan fasilitas energi.

Eskalasi ini terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif baru yang diberi nama “Project Freedom”. Inisiatif ini bertujuan untuk mengawal kapal tanker dan kapal dagang agar dapat melintasi selat tersebut dengan perlindungan militer.

Namun, langkah tersebut justru memperkeruh situasi yang sudah memanas. Hingga Senin, sejumlah kapal dagang melaporkan adanya ledakan dan kebakaran di perairan Teluk. Militer AS mengklaim telah berhasil menghancurkan enam kapal kecil milik Iran. Sementara itu, sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab dilaporkan terbakar akibat serangan rudal yang dilancarkan oleh Iran.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial Truth Social, Trump bahkan mengklaim bahwa AS telah menembak jatuh tujuh kapal Iran. Ia menyebut kapal-kapal tersebut sebagai “sisa kekuatan” Teheran di laut. Namun, klaim ini dibantah oleh pihak Iran.

“Project Freedom” sendiri menuai kontroversi di dalam negeri AS. Program ini diumumkan setelah tenggat waktu hukum bagi Presiden Trump untuk memperoleh persetujuan Kongres dalam operasi militer telah terlewati. Trump bersikeras bahwa perang telah “berakhir”, sebuah klaim yang ditentang oleh sejumlah anggota parlemen.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa kontrol atas Selat Hormuz berada sepenuhnya di tangan mereka. Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas tanpa persetujuan dari Teheran.

Otoritas Iran telah merilis peta yang menurut mereka menunjukkan perluasan wilayah laut yang kini berada di bawah kendali Teheran. Perluasan ini diklaim mencakup bentangan panjang garis pantai Uni Emirat Arab, jauh melampaui batas selat itu sendiri.

Alih-alih meredakan ketegangan, langkah terbaru Washington justru dinilai menjadi bumerang. Perusahaan pelayaran global memilih untuk menahan diri agar tidak melintasi jalur tersebut. Mereka menunggu adanya kesepakatan damai yang lebih jelas sebelum melanjutkan aktivitas. Akibatnya, biaya asuransi pengiriman pun melonjak tajam.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa krisis ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan militer. Ia mengungkapkan bahwa pembicaraan damai sedang berlangsung dengan mediasi dari Pakistan.

“Proyek Kebebasan adalah proyek kebuntuan,” tulisnya dalam sebuah pernyataan. Ia juga memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak terjebak dalam konflik yang lebih luas.

Meskipun demikian, militer AS mengklaim bahwa dua kapal dagang berhasil melintasi selat dengan pengawalan kapal perusak rudal. Salah satu kapal yang dikawal disebut sebagai kapal berbendera AS yang dioperasikan oleh Maersk. Namun, Iran kembali membantah adanya pelayaran aman yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.

Di tengah ketegangan yang meningkat, insiden lain juga menimpa kapal dagang Korea Selatan, HMM Namu. Kapal ini mengalami ledakan di ruang mesin saat berada di selat. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, penyebab pasti ledakan masih belum diketahui.

Baca juga: Dominasi China di Piala Thomas Berlanjut

Sementara itu, badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations, melaporkan bahwa dua kapal lain juga diserang di lepas pantai UEA. Perusahaan energi ADNOC menyebutkan bahwa salah satu kapal tankernya terkena serangan drone Iran.