Klaim IRGC: Kekuatan Militer AS Tak Akan Menang Melawan Iran

oleh -6 Dilihat
Klaim IRGC: Kekuatan Militer AS Tak Akan Menang Melawan Iran

KabarDermayu.com – Wakil Komandan Tinggi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) untuk urusan politik, Mayor Jenderal Yadollah Javani, mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi dampak serangan lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran.

Ia menegaskan bahwa meskipun AS mengerahkan seluruh kekuatan militernya, mereka dipastikan akan mengalami kekalahan di tangan pasukan Iran.

Javani menyatakan bahwa peningkatan ketegangan antara Iran dan AS akan berakibat jauh lebih parah bagi pihak Amerika.

Meskipun AS mungkin akan berusaha menunjukkan kekuatan mereka, pada akhirnya mereka akan kalah.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, tidak akan mampu mengembalikan situasi seperti sebelum serangan yang terjadi pada 28 Februari lalu.

Javani juga menekankan bahwa setiap kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz dengan aman, harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari angkatan bersenjata Iran.

Ia memperingatkan bahwa kapal yang terafiliasi dengan pihak musuh akan ditindak tegas jika mencoba melintasi jalur strategis tersebut.

Dalam pernyataannya, Javani meyakini bahwa AS dan Israel tidak akan berhasil mencapai tujuan mereka dalam upaya melawan Iran.

Ia mengungkit kembali pernyataan Trump yang bertujuan menyerang Iran untuk menghancurkan fasilitas nuklir, kemampuan rudal, melemahkan poros lawan, menggulingkan pemerintahan Iran, memecah belah negara, hingga menguasai kawasan Asia Barat.

Javani menegaskan bahwa tidak ada satu pun dari tujuan tersebut yang realistis untuk direalisasikan oleh Trump.

Tantangan terbesar yang dihadapi Trump saat ini, menurut Javani, adalah membuka kembali Selat Hormuz yang kini berada di bawah kendali penuh Iran.

Ia mengungkapkan bahwa berbagai upaya telah dilakukan selama 40 hari konflik berlangsung, namun tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Bahkan, Trump dikabarkan telah meminta bantuan dari sekutu Eropa dan negara-negara lain untuk membuka kembali selat tersebut.

Baca juga: Penghargaan LLI Jabar untuk Geriatri Terpadu RSUD Indramayu

Saat ini, AS disebut sedang berusaha mewujudkan tujuan itu melalui tekanan terhadap Teheran, namun mereka justru menghadapi kekuatan besar lainnya, yaitu Iran.

Konflik antara AS dan Iran yang terus berlanjut ini bermula dari serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel ke ibu kota Iran, Teheran, pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan tewasnya petinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer Iran.

Sebagai bentuk balasan, angkatan bersenjata Iran melancarkan sekitar 100 gelombang serangan selama 40 hari, yang menargetkan aset-aset militer AS dan Israel.

Serangan balasan ini diklaim telah menyebabkan kerusakan yang signifikan pada pihak lawan.

Selanjutnya, gencatan senjata selama dua pekan berhasil dicapai pada 8 April, berkat mediasi dari Pakistan.

Kesepakatan ini membuka jalan bagi diadakannya perundingan di Islamabad, di mana Iran mengajukan rencana 10 poin.

Rencana tersebut mencakup penarikan pasukan AS dan pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap Iran.

Namun, setelah melalui pembicaraan intens selama 21 jam pada 11 hingga 12 April, delegasi Iran memutuskan untuk kembali ke Teheran tanpa mencapai kesepakatan.

Alasan utama penolakan ini adalah adanya ketidakpercayaan yang mendalam terhadap komitmen yang diajukan oleh pihak AS.

Iran juga menegaskan bahwa kelanjutan negosiasi gencatan senjata akan sangat bergantung pada pencabutan blokade laut yang dilakukan oleh AS.

Menurut Iran, tindakan blokade laut tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.