KabarDermayu.com – Kepolisian mengungkap fakta baru terkait insiden taksi Green SM yang terserempet oleh Kereta Rel Listrik (KRL) di perlintasan sebidang wilayah Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin, 27 April 2026.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan bahwa taksi tersebut diketahui telah menempuh jarak 24.000 kilometer. Padahal, seharusnya perawatan atau servis kendaraan dilakukan setiap 15.000 kilometer.
“Kami juga menyampaikan bahwa terkait tentang informasi dari depot manajer operasional, ini taksi tersebut harusnya per 15.000 KM itu sudah harus masuk ke depot untuk melaksanakan maintenance ataupun perawatan. Tapi sampai dengan 24.000 itu belum dilakukan maintenance,” ungkap Budi di Polda Metro Jaya, seperti dikutip pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa kepolisian masih mendalami penyebab mobil tersebut mati listrik di perlintasan sebidang. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan apakah hal tersebut merupakan dampak dari belum dilakukannya perawatan rutin.
“Nah, kita masih mendalami apakah akibat tadi pertanyaan tadi mati mobil listrik ini di perlintasan sebidang kereta api, apakah termasuk dampak dari belum dilakukan maintenance? Nah, ini masih kami lakukan pengkajian,” jelas Budi.
Perlu diketahui, polisi masih terus menyelidiki insiden taksi Green SM yang terserempet KRL di perlintasan sebidang tersebut. Kejadian ini diduga menjadi pemicu kecelakaan antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di wilayah Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin, 27 April 2026. Beredar informasi bahwa terdapat jeda waktu sekitar 30 menit antara taksi berhenti hingga akhirnya terserempet KRL.
Menanggapi informasi tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, membenarkan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman. Pemeriksaan dilakukan terhadap Kepala Pusat Pengendalian Operasional (Kapusdalops) Daop 1 untuk memahami operasional perkeretaapian pada hari kejadian.
Baca juga: Konser Perdana di Jakarta dari Pencipta "What A Beautiful Name" dan "Goodness of God
“Waktu 30 menit ini masih didalami oleh Puslabfor termasuk dari perkeretaapian. Tadi sudah kami sampaikan ada pemeriksaan kepada Kapusdal Daop 1 tentang bagaimana operasional perkeretaapian di hari itu,” ujar Budi.
Budi merinci bahwa pendalaman yang dilakukan mencakup runtutan peristiwa, mulai dari awal mula kejadian hingga terjadinya insiden serempetan antara KRL dan taksi online tersebut. Setelah insiden pertama, terdapat KRL lain yang mengantre karena kecelakaan tersebut, yang kemudian kembali terserempet oleh KA Argo Bromo Anggrek.
“Setelah itu ada kereta listrik yang mengantre karena terjadi kecelakaan, yang ditemper kembali oleh kereta Argo Bromo Anggrek. Nah, ini masih didalami,” ungkap Budi.
Selain itu, Budi juga menjelaskan bahwa pendalaman investigasi mencakup sistem peringatan dini atau early warning system serta voice logger. Hal ini untuk memastikan apakah ada informasi yang terlewatkan.
“Apakah terkait tentang early warning system ataupun voice logger ataupun informasi yang disampaikan dari pengawas dari menara kepada kereta api Argo Bromo sudah mendapat informasi belum apabila ada di depan kereta api yang sedang mengalami kecelakaan dan berhenti? Ada dua kereta api, yang satu mengalami kecelakaan dan satu berhenti. Ini masih dalam pendalaman,” tegas Budi.
Selanjutnya, Budi menerangkan bahwa kepolisian juga sedang meminta keterangan dari pihak yang berinisial SM, yang saat kejadian bertugas sebagai pengatur perjalanan kereta api.
“Ini juga masih didalami tentang sinyal hijau. Saksi memberikan sinyal hijau kepada kereta api Argo Bromo Anggrek nomor 4B yang melintas di wilayah Tambun. Nah, ini juga masih dilakukan pendalaman oleh Puslabfor, penyidik, serta KNKT,” pungkas Budi.





