Lonjakan Harga Pangan di Iran Capai 115 Persen

oleh -6 Dilihat
Lonjakan Harga Pangan di Iran Capai 115 Persen

KabarDermayu.com – Inflasi pangan di Iran mengalami lonjakan tajam akibat memburuknya tekanan ekonomi dan situasi perang yang terus berlanjut. Kenaikan harga bahan pokok seperti minyak goreng, beras, dan ayam membuat masyarakat Iran semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Pusat Statistik Iran, inflasi tahunan negara tersebut tercatat mencapai 73,5 persen pada bulan Farvardin, yang berakhir pada 20 April lalu. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar lima persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, Bank Sentral Iran melaporkan inflasi tahunan sebesar 67 persen, dengan kenaikan bulanan mencapai tujuh persen. Meskipun menggunakan metode perhitungan yang berbeda, kedua lembaga tersebut mengindikasikan tren inflasi yang terus meningkat di Iran.

Situasi paling mengkhawatirkan terjadi pada sektor pangan. Tercatat, inflasi makanan mencapai 115 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan.

Harga minyak nabati padat melonjak hingga 375 persen, minyak goreng cair naik 308 persen, beras impor melonjak 209 persen, dan beras lokal Iran meningkat 173 persen. Kenaikan harga ayam juga tidak kalah parah, yaitu sebesar 191 persen.

Baca juga: Ketua KPK: Biaya Berantas Korupsi Tinggi, Fasilitas Koruptor Ditanggung Negara

Menanggapi kondisi ini, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengimbau masyarakat untuk memahami situasi negara yang sedang menghadapi tekanan akibat perang. Ia menekankan pentingnya kesadaran realistis terhadap kondisi dan keterbatasan yang dihadapi oleh Iran.

“Masyarakat harus memahami secara realistis kondisi dan keterbatasan yang dihadapi negara,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip dari Al Jazeera pada Senin, 5 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa kesulitan dan masalah adalah hal yang wajar terjadi dalam situasi seperti ini.

Presiden Pezeshkian meyakini bahwa dengan kerja sama masyarakat dan persatuan nasional, permasalahan yang dihadapi dapat diatasi. Namun, di lapangan, dampak kenaikan harga sangat dirasakan oleh masyarakat.

Seorang warga Teheran mengungkapkan bahwa dirinya kini tidak lagi mampu membeli sejumlah barang yang sebelumnya masih terjangkau. Ia merasa bahwa sebagian besar masyarakat juga mengalami hal serupa.

“Dan bukan hanya saya, saya rasa sebagian besar masyarakat sekarang tidak mampu membeli banyak hal yang mereka inginkan,” keluhnya.

Lonjakan harga ini juga berdampak signifikan pada pelaku usaha kecil. Majid, seorang pekerja kedai kebab hati di Teheran, menceritakan bahwa tempat usahanya telah menaikkan harga sebanyak tiga kali dalam beberapa bulan terakhir.

“Harga hati sudah naik dua kali lipat. Saat kami bertanya kepada pemasok, mereka bilang stok langka atau domba diekspor,” jelasnya.

Pemerintah Iran berupaya meredam dampak krisis dengan memberikan subsidi tunai dan voucher elektronik untuk pembelian kebutuhan pokok. Namun, bantuan tersebut dinilai masih sangat kecil, yaitu kurang dari 10 Dolar AS atau sekitar Rp170 ribu per orang setiap bulannya.

Di sisi lain, mata uang rial Iran terus mengalami pelemahan yang signifikan. Di pasar bebas Teheran, nilai tukar rial kini berada di kisaran 1,77 juta rial per Dolar Amerika Serikat. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan setahun lalu, di mana nilainya masih sekitar 830 ribu rial per Dolar AS.

Pemerintah Iran mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu kenaikan harga, termasuk perang, sanksi Barat, dan praktik penimbunan barang. Beberapa pejabat bahkan menuding lonjakan harga ini sebagai bagian dari “balas dendam ekonomi” oleh pihak musuh.

Krisis ekonomi yang melanda Iran semakin diperparah dengan pemadaman internet besar-besaran yang telah berlangsung selama 72 hari. Situasi ini menyebabkan kerugian besar bagi banyak bisnis digital akibat lumpuhnya aktivitas online.