Gencatan Senjata dengan Iran: Trump Sebut Peluang Tipis, Teheran Merespons Tegas

oleh -5 Dilihat
Gencatan Senjata dengan Iran: Trump Sebut Peluang Tipis, Teheran Merespons Tegas

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa peluang gencatan senjata dengan Iran saat ini sangat tipis, bahkan hanya sekitar 1 persen.

Ia menggambarkan situasi tersebut seperti pasien yang kritis dan hanya memiliki sedikit harapan hidup, berdasarkan proposal perdamaian terbaru dari Iran yang dianggapnya “bodoh” dan tidak layak untuk dibaca lebih lanjut.

Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak berada di bawah tekanan politik di dalam negeri untuk segera mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Pernyataan ini disampaikan setelah Amerika Serikat mengirimkan serangkaian syarat kepada Iran pekan lalu, yang sebagian besar berkaitan dengan upaya pencegahan pengembangan program nuklir Teheran.

Namun, Iran membalas dengan proposalnya sendiri pada akhir pekan, yang langsung ditolak oleh Trump.

Trump sebelumnya juga menghentikan “Project Freedom” yang baru berjalan kurang dari dua hari, sebagai langkah untuk memberikan waktu bagi Iran merespons proposal damai AS.

Di sisi lain, Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya, Esmail Baqaei, menyatakan bahwa proposal yang mereka kirimkan kepada AS adalah proposal yang masuk akal, bertanggung jawab, dan murah hati.

Baqaei menilai peluang kesepakatan masih terbuka dan tidak ada tuntutan Iran yang dianggap tidak wajar.

Anggota komisi industri parlemen Iran, Mostafa Taheri, mengklaim bahwa penerapan biaya transit baru di Selat Hormuz dapat menghasilkan pendapatan hingga 15 miliar dolar AS per tahun.

Pendapatan ini, menurutnya, setara dengan sepertiga dari pendapatan minyak Iran saat ini dan dinilai cukup untuk membantu menstabilkan cadangan devisa negara.

Baca juga: Rupiah Bertahan di Rp 17.500, Dolar AS Dijual Bank Rp 17.600

Komentar terbaru Trump muncul di tengah lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus 105 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah Iran menegaskan tidak akan ada pembicaraan lanjutan mengenai penghentian blokade Selat Hormuz kecuali AS menerima syarat-syarat yang diajukan Teheran.

Menanggapi pernyataan Trump, mantan panglima tertinggi IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari, menyatakan bahwa negosiasi lebih lanjut tidak akan terjadi selama perang di semua front belum berakhir, sanksi belum dicabut, dana yang diblokir belum dibebaskan, kerusakan perang belum diganti, dan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz belum diakui.

Rencana pengawalan militer Angkatan Laut AS bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz juga dilaporkan mendapat penolakan dari Arab Saudi.

Riyadh dikabarkan tidak ingin wilayah udara maupun pangkalannya digunakan untuk mendukung langkah yang dianggap dapat memperkeruh situasi.

Situasi kebuntuan yang terus berlangsung ini kembali memunculkan opsi militer, namun dinilai sulit untuk mengubah sikap Iran.

Sebelumnya, Trump sempat mempertimbangkan untuk kembali mengerahkan pengawalan militer Angkatan Laut AS bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Tujuannya adalah untuk mengakhiri blokade Iran di jalur pelayaran strategis tersebut.

Trump menyebut proposal perdamaian terbaru dari Iran sebagai sesuatu yang “bodoh” dan menegaskan bahwa dirinya tidak berada di bawah tekanan politik dalam negeri untuk segera mencapai kesepakatan.

Ia menggambarkan situasi gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi “kritis”, seperti seorang pasien yang hanya memiliki peluang hidup sekitar 1 persen.

Situasi ini juga berdampak pada harga minyak dunia yang kembali melonjak.

Iran menegaskan tidak akan ada pembicaraan lanjutan mengenai penghentian blokade Selat Hormuz kecuali AS menerima syarat-syarat yang diajukan Teheran.

Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari menyatakan bahwa negosiasi lebih lanjut tidak akan terjadi sebelum beberapa tuntutan Iran terpenuhi.

Tuntutan tersebut meliputi berakhirnya perang di semua front, pencabutan sanksi, pembebasan dana yang diblokir, penggantian kerusakan perang, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebut proposal negaranya yang dikirim ke AS masuk akal, bertanggung jawab, dan murah hati.

Ia berpendapat bahwa peluang kesepakatan masih terbuka dan tidak ada tuntutan Iran yang dianggap tidak wajar.

Penerapan biaya transit baru di Selat Hormuz, menurut klaim anggota komisi industri parlemen Iran, Mostafa Taheri, dapat menghasilkan pendapatan hingga 15 miliar dolar AS per tahun.

Pendapatan tersebut dinilai cukup untuk membantu menstabilkan cadangan devisa negara.

Harga minyak dunia yang naik menembus 105 dolar AS per barel di tengah kebuntuan yang terus berlangsung ini kembali memunculkan opsi militer yang dinilai sulit mengubah sikap Iran.