Budi Daya Rupiah: Strategi BI untuk Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Mulai Besok

oleh -6 Dilihat
Budi Daya Rupiah: Strategi BI untuk Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Mulai Besok

KabarDermayu.com – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan kesiapan pemerintah untuk membantu Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang per hari ini telah menyentuh kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat.

Salah satu strategi utama yang akan diterapkan adalah melalui intervensi di pasar surat berharga atau bond market. Pemerintah akan mengoptimalkan instrumen yang tersedia, termasuk memanfaatkan skema Bond Stabilization Fund (BSF).

“Dengan masuk ke bond market, itu yang Bond Stabilization Fund (BSF), tetapi belum fund semuanya. Kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Purbaya memastikan bahwa intervensi di pasar obligasi ini dapat dilakukan karena kondisi kas negara saat ini dalam keadaan sangat berlimpah. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk mengintervensi tekanan terhadap rupiah di pasar obligasi tanpa menimbulkan kekhawatiran mengenai ketersediaan dana.

Baca juga: Puan Ingatkan Bahaya Hantavirus yang Tak Boleh Dianggap Enteng

“Kita masih banyak uang nganggur. Jadi nanti kita intervensi bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan bahwa upaya ini juga bertujuan untuk mengendalikan capital loss. Dengan mengendalikan yield obligasi agar tidak naik terlalu tinggi, pemerintah berupaya mencegah kaburnya modal asing. Bahkan, pemerintah berharap dapat membalikkan tren tersebut sehingga modal asing kembali masuk ke dalam negeri, yang pada gilirannya akan memperkuat nilai tukar rupiah.

“Kalau yield-nya naik terlalu tinggi, asing yang pegang bond di sini dia akan keluar sehingga ada capital loss. Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar,” kata Purbaya.

“Atau bahkan malah masuk kalau yield-nya membaik, sehingga rupiah akan menguat,” tambahnya.

Pemerintah juga meyakini bahwa langkah-langkah stabilisasi ini tidak akan berdampak negatif pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya menegaskan bahwa kondisi keuangan negara saat ini masih aman.

Hal ini didukung oleh asumsi kurs yang telah dimasukkan dalam APBN 2026. Meskipun asumsi makro di Undang-Undang APBN 2026 hanya sebesar Rp 16.500 per dolar AS, perhitungan internal pemerintah sudah memasukkan asumsi rupiah yang tidak jauh dari level Rp 17.500 per dolar AS.

“Pada waktu kita hitung itu, asumsi rupiah kita sudah di atas asumsi APBN. Jadi nggak saya umumin, tetapi di atas itu, nggak jauh sama sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman,” jelas Purbaya.

Menyoal kapan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah ini akan mulai dilaksanakan, Purbaya memastikan bahwa upaya bantuan kepada BI akan segera dimulai. “Kita akan mulai membantu (BI) besok mungkin,” ujarnya.