Akademisi: Riset SSI Tunjukkan Bahlil Lahadalia Pendukung Utama Citra Positif Prabowo

oleh -1 Dilihat
Akademisi: Riset SSI Tunjukkan Bahlil Lahadalia Pendukung Utama Citra Positif Prabowo

KabarDermayu.com – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sorong, Bustamin Wahid, mengemukakan pandangannya mengenai hasil riset dan pemantauan media sosial yang dirilis oleh Sintesa Strategi Indonesia (SSI). Lembaga ini menganalisis dan memantau platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online nasional selama periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026.

Riset SSI mencatat bahwa kata kunci “Prabowo” mendapatkan total 231 juta terpaan konten dalam periode tersebut. Dari jumlah tersebut, sekitar 33 juta terpaan, atau kurang dari 20 persen, secara spesifik berkaitan dengan nama-nama menteri dan Wakil Presiden di lingkaran Presiden Prabowo Subianto.

Di antara tokoh-tokoh yang paling banyak disorot, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, tercatat memperoleh 8.213.780 terpaan konten. Angka ini menempatkannya sebagai tokoh dengan sorotan terbanyak kedua, setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang meraih 8.617.236 terpaan.

Namun, jika dilihat dari sisi arah sentimen, Bahlil menunjukkan keunggulan dibandingkan tokoh lain dengan sorotan serupa. Sebanyak 40,1 persen percakapan yang menyebut namanya bernada positif, sementara hanya 5,9 persen yang bernada negatif, dengan sisa percakapan berada pada sentimen netral. Sebagai perbandingan, sentimen negatif terhadap Gibran tercatat lebih tinggi, yaitu 25,9 persen, dengan sentimen positif sebesar 31,4 persen.

Riset SSI mengelompokkan lima tokoh dengan sorotan terbesar—Gibran, Bahlil, Nanik/Deyang, Letkol Teddy, dan Purbaya—ke dalam satu klaster yang disebut “Tier 1 Dominan”. Klaster ini mencakup tokoh-tokoh yang mendapatkan lebih dari 1 juta paparan konten terkait Prabowo.

Di luar Bahlil dan Gibran, Letkol Teddy meraih 3.606.181 terpaan dengan sentimen positif 24,1 persen dan negatif 15,2 persen. Purbaya memperoleh 1.648.351 terpaan dengan sentimen positif 12,2 persen dan negatif 9,5 persen. Nanik/Deyang mencatatkan sorotan besar sebanyak 7.451.724 terpaan, namun didominasi oleh sentimen netral sebesar 85,7 persen, dengan porsi positif dan negatif yang sama-sama kecil.

Dari kelima nama tersebut, kombinasi antara sorotan yang besar dan rasio sentimen negatif yang rendah hanya dimiliki oleh Bahlil Lahadalia. Secara keseluruhan, riset SSI mencatat sentimen publik terhadap Presiden Prabowo pada periode tersebut adalah 41,5 persen positif, 44,7 persen netral, dan 13,8 persen negatif.

Menanggapi temuan ini, Bustamin Wahid menilai pola tersebut relevan untuk dibaca dalam konteks dinamika koalisi pemerintahan. Ia berpendapat bahwa data ini menunjukkan Bahlil Lahadalia relatif jarang menjadi sasaran sentimen negatif dibandingkan tokoh lain yang juga banyak disorot publik.

“Ini bisa dibaca sebagai indikasi soliditas dukungan kader partai koalisi terhadap pemerintahan, meskipun tentu perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah pola ini konsisten dalam jangka panjang,” ujar Bustamin di Sorong, Sabtu, 4 Juli 2026.

Bustamin menambahkan bahwa temuan semacam ini penting untuk terus dipantau sebagai bagian dari kajian dinamika komunikasi politik di ranah digital, terutama menjelang tahapan politik berikutnya. Ia menekankan pentingnya konsistensi antara sentimen positif di ruang digital dan kinerja nyata di lapangan.

“Data digital seperti ini bisa menjadi indikator awal, tapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pembantu presiden. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana sentimen positif ini dijaga konsistensinya lewat kinerja nyata di lapangan, bukan sekadar aktivitas di media sosial,” jelas Bustamin.

Ia juga mendorong agar lembaga riset seperti SSI terus bersikap transparan mengenai metodologi yang digunakan. Hal ini penting agar publik dapat menilai temuan riset tersebut secara utuh dan objektif. Pernyataan ini disampaikan Bustamin untuk memberikan perspektif akademis terhadap hasil riset yang dirilis.