Anak Muda Jadi Konten Kreator, Profesi Ini Diburu

oleh -4 Dilihat
Anak Muda Jadi Konten Kreator, Profesi Ini Diburu

KabarDermayu.com – Di era serba digital, profesi konten kreator dan pekerja ekonomi digital mendominasi minat generasi muda. Namun, di balik tren ini, sektor perkebunan yang merupakan penopang ekonomi nasional justru menghadapi tantangan serius dalam hal regenerasi sumber daya manusia.

Pergeseran preferensi karier anak muda membuat banyak industri, termasuk perkebunan, harus berinovasi untuk menarik talenta baru. Bidang agrikultur dan perkebunan kerap dianggap kurang menarik dibandingkan sektor teknologi, kreatif, atau startup.

Padahal, sektor perkebunan memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia. Sektor ini tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah.

Tantangan utama yang dihadapi kini adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sekaligus memastikan keberlanjutan industri melalui regenerasi pekerja dan profesional di masa depan.

Berikut adalah beberapa faktor yang menjelaskan mengapa sektor perkebunan sangat membutuhkan talenta muda, sebagaimana dihimpun pada Jumat, 5 Juni 2026.

1. Minat Generasi Muda Cenderung Bergeser ke Profesi Digital

Perkembangan pesat media sosial dan ekonomi kreatif telah membuka berbagai pilihan karier yang lebih beragam bagi generasi muda. Profesi seperti konten kreator, streamer, dan digital marketer kini menjadi incaran utama.

Akibatnya, sektor-sektor tradisional seperti pertanian dan perkebunan dituntut untuk lebih proaktif dalam memperkenalkan peluang karier yang ada kepada generasi muda.

2. Masih Ada Anggapan Perkebunan Hanya Soal Kerja di Lapangan

Salah satu hambatan besar yang dihadapi sektor perkebunan adalah persepsi masyarakat yang keliru. Banyak yang beranggapan bahwa industri ini identik dengan pekerjaan fisik di lapangan semata.

Padahal, kebutuhan tenaga kerja di sektor perkebunan sangatlah luas. Mulai dari bidang riset, pengembangan teknologi, pengolahan hasil panen, manajemen rantai pasok, hingga isu keberlanjutan lingkungan.

3. Literasi Mengenai Industri Perkebunan Masih Terbatas

Minimnya pemahaman generasi muda tentang peran industri perkebunan dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi penyebab rendahnya minat. Oleh karena itu, berbagai lembaga mulai menggalakkan program edukasi sejak dini.

Salah satu inisiatif datang dari BPDP melalui kegiatan edukasi di SD Negeri 29 Dangin Puri, Denpasar, Bali. Ratusan siswa, guru, dan karyawan sekolah berpartisipasi dalam acara ini.

Kepala Divisi Kerja Sama dan Kelembagaan BPDP, Aida Fitria, menjelaskan bahwa produk perkebunan, khususnya kelapa sawit, memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat.

“Kelapa sawit memiliki peran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat melalui berbagai produk turunannya, mulai dari kebutuhan rumah tangga, makanan, kosmetik, hingga bahan bakar biodiesel,” ujarnya.

Lebih lanjut, kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang berkontribusi besar dalam penciptaan lapangan kerja, pembangunan daerah, dan menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat Indonesia, terutama para petani.

4. Regenerasi Menjadi Tantangan Jangka Panjang

Sama seperti sektor agrikultur lainnya, perkebunan sangat membutuhkan regenerasi tenaga kerja. Hal ini krusial agar aktivitas produksi dan pengembangan industri dapat terus berjalan lancar.

Tanpa masuknya tenaga kerja baru yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, sektor ini berisiko mengalami kesenjangan Sumber Daya Manusia (SDM) di masa mendatang.

5. Kebutuhan Talenta Akan Semakin Beragam

Transformasi teknologi kini merambah sektor perkebunan. Penggunaan data, mekanisasi, hingga inovasi berbasis teknologi mengubah lanskap kebutuhan SDM.

Hal ini membuka peluang bagi generasi muda dengan latar belakang yang beragam untuk terlibat dalam industri perkebunan, mulai dari bidang teknologi hingga riset.

Meskipun belum sepopuler profesi di sektor digital, kebutuhan talenta di industri perkebunan diprediksi akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Tantangan utamanya adalah bagaimana cara memperkenalkan sektor ini kepada generasi muda agar mereka melihatnya sebagai pilihan karier yang relevan dan menjanjikan di masa depan.