Dedi Syahril: Tanpa JKN, Biaya Cuci Darah Lima Tahun Tak Tertanggungkan

oleh -1 Dilihat
Dedi Syahril: Tanpa JKN, Biaya Cuci Darah Lima Tahun Tak Tertanggungkan

KabarDermayu.com – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terbukti menjadi penyelamat dan memberikan harapan baru bagi para penderita penyakit kronis. Kehadirannya bukan sekadar administrasi, melainkan jangkar kehidupan yang kokoh.

Hal ini dirasakan betul oleh Dedi Syahril, seorang warga Tabing, Kota Padang. Selama lima tahun terakhir, Dedi harus berdamai dengan mesin hemodialisa atau cuci darah. Perjalanan medisnya dimulai ketika ia didiagnosis mengidap penyakit ginjal kronis yang terus memburuk.

Meskipun telah menjalani berbagai pengobatan, fungsi ginjalnya terus menurun seiring waktu. Puncaknya terjadi pada suatu malam di tahun 2021, saat fisiknya mendadak drop dan harus segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD).

“Saat tiba di UGD, tubuh saya sudah sangat lemah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar Hemoglobin (HB) saya kritis, hanya 3,2. Dokter langsung menginstruksikan tindakan cuci darah darurat hari itu juga,” kenang Dedi dengan mata berkaca-kaca.

Sejak peristiwa menegangkan itu, ruang hemodialisa menjadi “rumah kedua” bagi Dedi. Dua kali dalam seminggu, ia harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyaring racun dari tubuhnya.

Di tengah perjuangan fisiknya yang melelahkan, Dedi menemukan kehangatan. “Alhamdulillah, perjalanan lima tahun ini seluruh prosesnya berjalan luar biasa lancar. Kami, sesama pasien cuci darah di sini, sudah seperti keluarga dekat. Hubungan dengan dokter dan perawat pun sangat hangat,” tuturnya.

Ia menambahkan, ketulusan dan senyum para tenaga medis menjadi salah satu obat penenang terbaik saat jarum-jarum medis mulai menusuk kulitnya. Keramahan mereka memberikan suntikan moral yang berharga baginya.

Namun, Dedi menegaskan bahwa kekuatan utamanya untuk bertahan sejauh ini bertumpu pada perlindungan finansial dari Program JKN. Kepesertaan JKN yang aktif memberinya semangat ekstra untuk menjalani proses cuci darah.

“Saya merasa sangat-sangat tertolong. Jika seluruh biaya pengobatan ini harus saya tanggung sendiri, entah dari mana uangnya. Biaya cuci darah rutin itu sangat besar, bisa meremukkan perekonomian keluarga kecil kami,” ungkap Dedi.

Ia melanjutkan, “Kalau tidak ditanggung BPJS Kesehatan, tidak sanggup saya. Sekali cuci darah sudah berapa, apalagi saya sudah menjalani cuci darah selama lima tahun.”

Kisah Dedi Syahril merupakan potret nyata bagaimana semangat gotong royong dalam JKN menjelma menjadi napas kehidupan bagi jutaan jiwa. Ia berpesan agar masyarakat tidak mengabaikan kesehatan mereka.

Penting untuk rutin melakukan kontrol pasca-medis dan segera memastikan diri terdaftar sebagai peserta aktif JKN. Hal ini demi menjaga kesehatan dan mendapatkan perlindungan finansial yang memadai.

“Program JKN benar-benar penolong nyata bagi saya, terima kasih BPJS Kesehatan dan tim medis yang telah menemani perjuangan saya. Semoga dedikasi mulia ini terus terjaga demi menyambung asa banyak orang di luar sana,” pungkas Dedi. (LAN)