KabarDermayu.com – Jagat media sosial baru-baru ini diguncang oleh polemik yang melibatkan seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP Dr Sardjito, Elda Putri Rahardini. Sosoknya menjadi sorotan tajam setelah memberikan komentar yang dianggap nirempati terhadap keluhan seorang pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan.
Kisah ini bermula dari curhatan Yurizal di platform Threads pada (22/7/2026). Dalam utasnya, ia menceritakan pengalaman pahit saat harus menunggu selama 8 jam tanpa kepastian mendapatkan ruangan perawatan karena statusnya sebagai pasien BPJS Kesehatan. Alih-alih mendapatkan dukungan, keluhan tersebut justru memicu reaksi sinis dari sejumlah tenaga kesehatan di kolom komentar.
Salah satu komentar yang paling menuai kecaman publik datang dari Elda Putri Rahardini. Melalui akun pribadinya, ia menuliskan kalimat, “PPnya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells,” yang dinilai sangat merendahkan martabat pasien. Akibat tindakan tersebut, pihak RSUP Dr Sardjito telah mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan Elda dari kegiatan praktiknya.
Profil Akademik Elda Putri Rahardini
Di balik kontroversi yang mencoreng citranya, Elda Putri Rahardini sebenarnya memiliki rekam jejak pendidikan yang cukup impresif. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat cumlaude untuk gelar Doctor of Medicine (M.D).
Tidak berhenti di situ, ia juga tercatat sebagai alumni program doktoral (Ph.D.) di Kobe University, Jepang, dengan fokus spesialisasi pada ilmu Kardiovaskular. Selama menempuh pendidikan di Negeri Sakura, ia merupakan penerima beasiswa bergengsi Monbukagakusho (MEXT) serta awardee dari beasiswa LPDP.
Selain riwayat pendidikan, ia juga sempat menorehkan prestasi di kancah profesional, salah satunya dengan meraih penghargaan Best Systematic Review pada gelaran The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) pada tahun 2025 lalu.
Permohonan Maaf dan Penyesalan
Menyadari dampak luas dari komentarnya, Elda akhirnya angkat bicara melalui pernyataan terbuka. Ia menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada keluarga almarhum Yurizal serta masyarakat luas atas sikapnya yang dinilai tidak etis.
“Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati. Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak,” ungkap Elda melalui akun media sosialnya.
Dalam klarifikasinya, ia menekankan bahwa sebagai seorang tenaga medis, ia seharusnya menjadi garda terdepan dalam menunjukkan kasih sayang dan kemanusiaan kepada pasien. Ia mengakui bahwa tindakannya tersebut telah mencederai sumpah profesi kedokteran serta nilai-nilai moral yang ia anut sebagai seorang dokter.
Elda menyatakan komitmennya untuk menjadikan insiden ini sebagai pelajaran hidup yang berharga agar lebih bijak dalam bersikap dan bertutur kata. Kasus ini pun kini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang tengah melakukan identifikasi terhadap sejumlah tenaga kesehatan lain yang diduga memberikan respons serupa terhadap keluhan pasien tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi seluruh tenaga kesehatan akan pentingnya menjaga etika komunikasi, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, demi menjaga kepercayaan publik terhadap pelayanan medis di Indonesia.





