KabarDermayu.com – Korea Selatan saat ini tengah menghadapi krisis cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam lebih dari satu abad terakhir. Gelombang Panas ekstrem yang melanda negeri ginseng tersebut telah mencatat rekor suhu tertinggi dalam 122 tahun, menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah setempat.
Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi Korea (KMA), suhu udara yang mencekik mencapai puncaknya di angka 42,5 derajat Celsius di Kota Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Angka tersebut menjadi rekor suhu tertinggi sejak pencatatan modern pertama kali dilakukan pada tahun 1904.
Dampak dari fenomena cuaca yang mematikan ini sangat nyata. Hingga laporan ini diturunkan, sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat paparan suhu yang ekstrem. Sejak bulan Mei 2026, tercatat lebih dari 2.000 orang harus mendapatkan perawatan medis intensif karena berbagai penyakit yang dipicu oleh sengatan panas atau heatstroke.
Menanggapi situasi gawat darurat ini, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, telah menginstruksikan jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk bergerak cepat. Dalam rapat kabinet yang digelar pada Selasa, 4 Agustus 2026, Presiden menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan, seperti lansia, pekerja di luar ruangan, serta warga dengan kondisi kesehatan kronis.
“Kita perlu berupaya melakukan perombakan mendasar terhadap sistem krisis nasional, karena cuaca ekstrem ini sudah menjadi hal yang biasa,” ujar Presiden Lee Jae Myung dalam arahannya.
Presiden juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas pasokan listrik di tengah lonjakan penggunaan pendingin ruangan (AC) oleh masyarakat yang berusaha mendinginkan suhu di dalam rumah maupun perkantoran. Selain itu, pemerintah berupaya memastikan aktivitas ekonomi dan sosial tetap berjalan dengan risiko seminimal mungkin.
Perluasan Status Darurat di Wilayah Ibu Kota
Gelombang panas yang mulanya terkonsentrasi di wilayah tenggara Korea Selatan kini telah merambah ke wilayah ibu kota, Seoul. Mengingat Seoul merupakan kawasan padat penduduk yang dihuni oleh lebih dari 9 juta jiwa, KMA telah menetapkan status peringatan gelombang panas ekstrem di wilayah tersebut serta Provinsi Gyeonggi.
Pemerintah Kota Seoul merespons cepat dengan mengaktifkan berbagai langkah perlindungan. Sebanyak 63.000 warga yang masuk dalam kategori kelompok rentan menjadi target utama pemeriksaan kesehatan. Langkah fisik di lapangan pun dilakukan, seperti pengerahan 200 unit truk penyiram jalan untuk mendinginkan permukaan aspal di sepanjang 2.000 kilometer ruas jalan perkotaan. Selain itu, zona kabut air (water mist zone) telah disediakan di berbagai titik untuk memberikan sedikit kesejukan bagi warga yang beraktivitas di luar rumah.
Gangguan Aktivitas hingga Dampak Olahraga
Suhu yang konsisten bertahan di atas 38 derajat Celsius telah mengubah pola hidup masyarakat secara drastis. Pusat perbelanjaan dan kafe yang memiliki pendingin ruangan menjadi tempat pelarian utama warga. Namun, bagi para pekerja lapangan, kondisi ini sangat menyiksa. Seorang pekerja konstruksi di Seoul mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki fasilitas pendingin yang memadai dan hanya bisa beristirahat di tempat teduh selama 10 menit setiap jamnya, sembari merasakan hawa panas yang setara dengan kondisi di dalam sauna.
Dunia olahraga pun tak luput dari imbas cuaca ekstrem ini. Organisasi Bisbol Korea terpaksa membatalkan pertandingan di Changwon setelah suhu di wilayah tersebut menyentuh angka 39,5 derajat Celsius. Keputusan ini diambil demi memprioritaskan keselamatan para atlet serta penonton yang hadir di stadion.
Analisis Fenomena dan Perubahan Iklim
Pakar iklim menjelaskan bahwa gelombang panas ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang stagnan di atas Semenanjung Korea, yang kemudian diperparah oleh intensitas paparan sinar matahari yang sangat kuat. Khusus di Provinsi Gyeongsang Selatan, suhu meningkat secara signifikan akibat fenomena foehn, yakni angin kering dan panas yang turun dari pegunungan.
Para ahli memberikan peringatan keras bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti ini kemungkinan besar akan semakin sering terjadi di masa depan. Data KMA mencatat adanya tren kenaikan durasi gelombang panas tahunan yang meningkat dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, dengan rata-rata mencapai 19 hari per tahun. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia dinilai menjadi faktor utama di balik pergeseran pola cuaca yang semakin tidak menentu dan membahayakan ini.





