KabarDermayu.com – Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Selasa, 9 Juni 2026. Harga emas Antam tercatat sebesar Rp 2.733.000 per gram, yang berarti turun Rp 10.000 per gram dibandingkan dengan harga pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga pembelian kembali atau buyback emas ditetapkan pada angka Rp 2.527.000 per gram. Perlu diingat bahwa harga emas Antam dapat berubah sewaktu-waktu.
Untuk berbagai ukuran emas batangan yang ditawarkan Antam pada hari ini, berikut rincian harganya: lima gram dijual seharga Rp 13,440 juta, sepuluh gram Rp 26,825 juta, dua puluh lima gram Rp 66,937 juta, dan lima puluh gram Rp 133,795 juta.
Selanjutnya, untuk ukuran emas seratus gram dibanderol seharga Rp 267,512 juta, dua ratus lima puluh gram Rp 668,515 juta, dan emas lima ratus gram mencapai Rp 1.336.320 juta.
Adapun untuk ukuran emas terkecil yang dijual Antam hari ini adalah 0,5 gram dengan harga Rp 1,416 juta. Sementara itu, ukuran emas terbesar yang tersedia adalah 1.000 gram yang dijual senilai Rp 2,6736 miliar.
Perlu diperhatikan bahwa harga penjualan emas batangan Antam tersebut belum termasuk perhitungan pajak. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, setiap transaksi penjualan emas dikenakan potongan pajak.
Lebih lanjut, untuk penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nilai transaksi di atas Rp 10 juta, akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi yang tidak memiliki NPWP, tarif pajaknya adalah 3 persen. PPh Pasal 22 ini akan dipotong langsung dari total nilai transaksi buyback.
Emas Global Merosot
Sementara itu, di pasar internasional, harga emas global terpantau mengalami penurunan pada perdagangan pagi ini. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor akibat konflik yang terus berkecamuk di Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik ini biasanya mendorong investor mencari aset aman seperti emas, namun kali ini faktor ekonomi domestik AS lebih dominan.
Dilansir dari The Economic Times, harga emas di pasar spot internasional tercatat turun sebesar 0,2 persen, dengan patokan harga menjadi US$4.319,98 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Agustus juga mengalami pelemahan, turun 0,4 persen menjadi US$4.344,3 per ons.
Penurunan harga emas global ini menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat dibandingkan dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meskipun isu tersebut tetap menjadi perhatian investor.
Penurunan harga emas Antam dan emas global hari ini dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi domestik AS dan dinamika pasar internasional. Investor perlu mencermati perkembangan imbal hasil obligasi dan situasi geopolitik untuk memprediksi pergerakan harga emas selanjutnya.
Pergerakan harga emas ini perlu dicermati oleh para investor, terutama yang menjadikan emas sebagai salah satu instrumen investasinya. Fluktuasi harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik yang kompleks.
Investasi emas batangan dari Antam, meskipun sedikit mengalami penurunan hari ini, tetap menjadi salah satu pilihan investasi yang diminati di Indonesia karena dianggap relatif aman dan memiliki nilai historis yang kuat.
Adapun terkait pajak yang dikenakan pada transaksi emas, pemahaman yang baik mengenai peraturan perpajakan akan membantu investor dalam mengelola potensi keuntungan dan kewajiban pajaknya secara optimal.
Untuk emas global, penurunan ini bisa menjadi peluang bagi investor yang ingin menambah porsi emas dalam portofolio mereka dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, tetap perlu dipertimbangkan faktor risiko yang ada.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS seringkali berbanding terbalik dengan harga emas. Ketika imbal hasil obligasi naik, instrumen investasi tersebut menjadi lebih menarik bagi investor, sehingga permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven bisa berkurang.
Situasi konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut memang biasanya menjadi katalis positif bagi harga emas. Namun, pengaruhnya terhadap pasar saat ini tampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi dampak dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan akan mempengaruhi pasar keuangan global.
Para analis pasar komoditas akan terus memantau perkembangan data ekonomi AS, termasuk data inflasi dan kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang akan sangat menentukan arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Selain itu, perkembangan situasi di Timur Tengah juga akan tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati. Eskalasi konflik atau adanya upaya de-eskalasi dapat memberikan sentimen yang signifikan terhadap pasar emas.
Bagi investor di Indonesia, penting untuk membandingkan harga emas Antam dengan harga emas global yang dikonversikan ke Rupiah, serta mempertimbangkan biaya-biaya tambahan seperti pajak dan biaya transaksi.
Secara keseluruhan, pasar emas hari ini menunjukkan dinamika yang menarik, dengan adanya penurunan baik pada produk domestik maupun pasar global, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi makro dan kondisi geopolitik yang kompleks.





