KabarDermayu.com – Istilah ‘londo ireng’ yang sempat dilontarkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kini mendapatkan penjelasan resmi dari pihak Istana. Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa terminologi tersebut tidak ditujukan kepada masyarakat luas secara umum.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas perbincangan hangat di ruang publik terkait pidato Presiden Prabowo dalam peringatan Harlah PKB di JCC, Senayan, pada Kamis, 23 Juli 2026 lalu. Penggunaan istilah ini sempat memicu berbagai interpretasi di tengah masyarakat mengenai siapa sebenarnya pihak yang dimaksud oleh Kepala Negara.
Menurut Hasan Nasbi, istilah tersebut secara spesifik ditujukan kepada kelompok-kelompok tertentu yang dinilai memiliki kecenderungan untuk terus menciptakan kegaduhan. Ia menilai ada pihak-pihak yang kerap bersikap pesimis terhadap masa depan bangsa, meski mereka memiliki profesi yang seharusnya bisa berkontribusi positif bagi negara.
“Itu kan istilah saja untuk sebagian orang yang ya sepertinya kok lebih suka gaduh. Sepertinya kok lebih suka pesimis melihat kehidupan bangsa kita. Dan mereka kan ada yang berprofesi seolah-olah sama-sama kita kan gitu,” ujar Hasan Nasbi saat memberikan keterangan kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 31 Juli 2026.
Konteks Historis dan Makna ‘Londo Ireng’
Secara historis, istilah ‘londo ireng’ atau ‘Belanda hitam’ merupakan sebutan yang muncul pada masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia. Istilah ini merujuk pada orang-orang pribumi yang dianggap lebih berpihak atau menjadi kaki tangan pemerintah kolonial Belanda, sehingga sering kali dipandang negatif oleh pejuang kemerdekaan saat itu.
Presiden Prabowo menggunakan istilah ini dalam pidatonya untuk menggambarkan fenomena baru di era modern. Ia menyoroti adanya pihak-pihak yang tidak hanya sekadar menyampaikan kritik konstruktif, namun justru aktif menggiring opini publik bahwa kondisi Indonesia sedang berada dalam situasi yang buruk.
Dalam pandangan Presiden, profesi seperti pengamat, wartawan, hingga elemen lembaga swadaya masyarakat (LSM) bisa saja termasuk dalam kategori yang dimaksud jika mereka secara konsisten menyebarkan narasi pesimisme. Meski demikian, Hasan Nasbi menekankan bahwa pemerintah pada dasarnya tidak anti terhadap kritik.
Ajakan untuk Memperkuat Optimisme Nasional
Hasan Nasbi menjelaskan bahwa pesan utama yang ingin disampaikan oleh Presiden Prabowo adalah ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk bersatu, kompak, dan menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan negara sendiri. Ia menekankan pentingnya mengurangi narasi pesimisme demi percepatan kemajuan bangsa.
Berikut adalah poin-poin utama dari penjelasan pihak Istana terkait pernyataan tersebut:
- Istilah tersebut bukan ditujukan untuk masyarakat umum, melainkan kelompok yang gemar menciptakan kegaduhan.
- Pemerintah tetap terbuka terhadap kritik, namun menyoroti pihak yang dinilai sengaja menggiring opini negatif secara berlebihan.
- Presiden mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memperbanyak kekompakan dan rasa optimisme nasional.
- Kepercayaan diri terhadap bangsa dianggap sebagai kunci untuk mencapai kemajuan yang lebih cepat.
Dengan adanya klarifikasi ini, pihak Istana berharap tidak ada lagi disinformasi atau kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait penggunaan istilah tersebut. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas nasional dan memastikan program-program pembangunan berjalan dengan dukungan optimisme dari seluruh warga negara.





