Hilirisasi hingga Manufaktur, Sektor Utama Penopang Tenaga Kerja

oleh -5 Dilihat
Hilirisasi hingga Manufaktur, Sektor Utama Penopang Tenaga Kerja

KabarDermayu.com – Sektor Hilirisasi industri, manufaktur, serta industri makanan dan minuman (mamin) kini menjadi tulang punggung utama dalam mendorong penyerapan tenaga kerja nasional. Peran strategis ketiga sektor ini dinilai sangat krusial dalam menggerakkan roda ekonomi dan menekan angka pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja baru yang masif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa tren positif dalam penyerapan tenaga kerja ini sejalan dengan meningkatnya realisasi investasi di tanah air. Airlangga menekankan bahwa aliran investasi yang masuk ke Indonesia, dengan porsi sekitar 30 persen mengarah pada proyek hilirisasi, memberikan dampak langsung terhadap kebutuhan sumber daya manusia di berbagai lini produksi.

“Pertumbuhan tenaga kerja itu akibat dari investasi, investasi kembali 30 persen ke hilirisasi. Kemudian, di Pulau Jawa lebih banyak masuk ke manufaktur. Sektor itulah yang menjadi salah satu penopang peningkatan penyerapan tenaga kerja,” ujar Airlangga saat memberikan keterangan pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat terjadi peningkatan signifikan dalam penyerapan tenaga kerja pada periode Februari hingga Mei 2026, dengan total tambahan mencapai 522 ribu orang. Fenomena ini membuktikan bahwa kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah mulai membuahkan hasil nyata bagi angkatan kerja domestik.

Kemampuan sektor-sektor tersebut dalam menyerap tenaga kerja tidak terlepas dari karakteristik operasionalnya. Industri manufaktur dan hilirisasi membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar di seluruh tahapan proses, mulai dari pengolahan bahan mentah di hulu hingga tahap distribusi produk jadi ke pasar konsumen.

Selain sektor industri berat, sektor makanan dan minuman juga menunjukkan performa yang impresif. Sektor ini tercatat mengalami pertumbuhan sekitar 10 persen. Airlangga menambahkan bahwa kenaikan ini dipicu oleh tingginya aktivitas konsumsi masyarakat serta bangkitnya sektor pariwisata yang turut menggerakkan ekonomi lokal.

“Sektor makanan minuman, itu turis lokal maupun wisatawan mancanegara juga mendorong serapan tenaga kerja,” tambahnya.

Lebih lanjut, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa kenaikan jumlah penduduk yang bekerja selaras dengan pertumbuhan angkatan kerja nasional. Hingga Mei 2026, jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, yang berarti bertambah sekitar 497 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.

BPS merinci kondisi ketenagakerjaan hingga Mei 2026 sebagai berikut:

  • Total penduduk usia kerja mencapai 220,23 juta orang, meningkat 689 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
  • Jumlah penduduk yang bekerja penuh tercatat sebanyak 98,98 juta orang, dengan tambahan 391 ribu orang.
  • Pekerja paruh waktu tercatat sebesar 38,42 juta orang, naik 72 ribu orang.
  • Pekerja setengah pengangguran mencapai 10,79 juta orang, bertambah 59 ribu orang.

Data ini memberikan gambaran optimis bagi ekonomi nasional di tengah tantangan global. Sinergi antara kebijakan investasi yang tepat sasaran di sektor hilirisasi dan manufaktur, serta dukungan pada sektor konsumsi seperti makanan dan minuman, menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan lapangan kerja di Indonesia.